Sabtu, 23 Jun 2018
radarjember
icon-featured
Spotlight

Izinnya untuk Rumah Makan

Selasa, 05 Dec 2017 09:05 | editor : Dzikri Abdi Setia

hiburan malam jember, Radar Jember,

(Heru Putranto/Radar Jember)

Selain banyak bertebaran di pusat kota, rumah karaoke ternyata juga merebak di daerah pinggiran. Seolah, para pelakunya tidak mau ketinggalan memanfaatkan peluang dari bisnis hiburan tersebut. Dari pantauan Jawa Pos Radar Jember, Wuluhan menjadi salah satu daerah pinggiran yang paling banyak dijadikan tempat usaha rumah karaoke. 

Salah seorang pemilik rumah karaoke yang mengaku sudah enam tahun merintis usahanya mengaku, pengunjungnya tidak hanya datang dari Wuluhan. Melainkan juga dari daerah-daerah di sekitarnya. Jasa karaoke yang dia pungut ke pengunjung, Rp 35 ribu per jam. “Dulunya satu, tapi sekarang saya punya tiga room,” ujar perempuan pemilik rumah karaoke di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wuluhan itu. 

Selain menyediakan ruang karaoke, tempat tersebut juga menyiapkan minuman jenis bir bagi para pelanggannya. Kendati demikian, kata dia, dirinya mengaku tidak mengantongi izin penjualan miras. 

Bahkan, perempuan yang mengaku asli warga setempat itu mengatakan, izin operasional usaha yang dikantonginya bukanlah izin usaha karaoke, melainkan perizinan untuk rumah makan. “Saya punya SIUP, tapi untuk izin rumah makan,” terangnya. 

Lokasinya yang persis di sisi selatan jalan raya itu tidak membuat usaha rumah karaoke mencolok. Pemiliknya mengaku mengosongkan bangunan bagian depan, dan menggunakan yang belakan sebagai tempat usahanya.

Yang juga membuat tidak kalah dengan rumah karaoke kebanyakan, di tempat itu juga disediakan perempuan-perempuan pemandu karaoke. Para pemandu karaoke itu akan datang begitu pengelola rumah karaoke tersebut menghubunginya setelah ada permintaan dari pengunjung. Honor per jam bagi para pemandu karaoke umumnya Rp 100 ribu. “Pemandu karaokenya dari sekitar sini saja,” ucap perempuan yang memiliki tahi lalat di bawah hidung itu. 

Lebih jauh dia menjelaskan, ada lebih dari lima tempat karaoke di daerah Wuluhan. Kendati demikian, hanya tiga yang namanya moncer, salah satunya adalah rumah karaoke yang dia kelola. Umumnya bermodus warung kopi.

Bahkan bukan hanya rumah karaoke, tempat hiburan malam lain seperti juga begitu menjamur di banyak sudut Kecamatan Wuluhan. 

Di balik semua itu, dia mengaku bahwa ada paguyuban yang menaungi hampir semua usaha hiburan malam di Wuluhan. Mereka bertemu sekaligus membayar iuran yang nominalnya Rp 100 ribu tiap sebulan sekali. Uang itu, kabarnya, disetorkan ke pihak terkait sebagai biaya keamanan. “Makanya tempat hiburan malam di sini aman-aman saja,” pungkasnya.

(jr/was/ras/das/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia