Minggu, 24 Jun 2018
radarjember
icon featured
Radar Ijen

Harus Tata Wisata Adrenalin, Termasuk Tubing

Sabtu, 13 Jan 2018 05:40 | editor : Dzikri Abdi Setia

Disparpora Bondowoso, Tubing, Radar Ijen,

KOORDINASI: Disparpora mengelar rapat dengan Perhutani, BPBD, dan pengelolah wisata di alam terbuka, beberapa hari kemarin (WAWAN DWI / RADAR IJEN)

Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Bondowoso mengakui wisata tubing di Tlogosari yang memakan satu korban tidak memiliki ijin. Kejadian itu membuat Disparpora melakukan rapat bersama Perhutani, BPBD, dan pihak pengelolah wisata, termasuk arung jeram Bondowoso Sampean Baru (Bosamba).

Kepala Disparpora Harry Patriantono mengakui, untuk wisata tubing di Tlogosari atau yang dikenal Toppas itu tak memiliki ijin dari pihak yang bertanggung jawab dengan olahraga air yakni Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI). “Untuk ijin tubing kedepan akan meminta bantuan dari Bosamba,” katanya. Selain itu 

Dia menjelaskan, wisata yang berkaitan dengan memacu adrenaline di alam terbuka membutuhkan beberapa kualifikasi, dan sertifikasi. Harry mencontohkan wisata, seperti arung jeram di Bosamba, dan paralayang. Untuk Bosamba sendiri sudah memiliki ijin, sementara untuk paralayang di Bukit Megasari belum dibuka untuk wisatawan.

Selain itu, kedepan juga segera melakukan koordinasi untuk melakukan pembinaan di wisata tubing. “Agar pengelolahnya ada sertifikasi, dan segera buat kerjasama kepada pihak asuransi,” terangnya.  Untuk total wisata tubing di Bondowoso ini ada dua, Lombok Kulon, dan di Tlogo.

Sementara Bhadowi pengelolah Desa Wisata Lombok Kulon yang juga memiliki wisata tubing  mengaku, membuka tubing tidak boleh asal-asalan. Dia mendapatkan ilmu tentang tubing dari Asosiasi Desa Wisata Indonesia yang mendatangkan pelaku wisata olahraga air dari Malang. 

Dia menjelaskan, tidak hanya peralatan helm, pelampung, serta ban yang menjadi bagian penting wisata tubing. Tapi sistem operasional di lapangan harus diterapkan. “Kalau kami petugas yang berada di titik start itu tak boleh ikut turun ke bawah, sementara di titik riskan ada yang bertugas,” katanya. Pria asal Wonosari ini menjelaskan, petugas titik start itu juga bertugas menginformasikan jika ada penambahan debit sungai di titik start melalui HT. Sehingga saat air besar tiba, wisatawan yang sedang asyik bermain tubing bisa segera dievakuasi.

Eko Nurcahyo pemerkasa Bosamba yang juga sebagai rafter menjelaskan, semua wisata berbau olahraga air termasuk arung jeram, kayak, kano, hingga tubing harus mengantongi ijin dari FAJI. Tak sekedar ijin juga, operator juga paham serta mengantongi lisensi. Sehingga, tak salah butuh pendampingan orang yang punya keahlian di bidang pengarungan, karena ilmu tubing dengan arung jeram hampir sama. 

Dia menjelaskan, membuka wisata olahraga arus deras pun juga tak boleh asal-asalan, dan tak sekedar punya pelampung, helm, perahu, hingga ban untuk tubing.  Tapi juga harus mengetahui kondisi jeram, jalur, termasuk juga rescue. “Yang dikedepankan wisata alam terbuka adalah keamanan,” tegas  pria juga alumni Mahasiswa Pecinta Alam FE Unej ini. 

Pria yang akrab disapa Kodok ini menjelaskan, adanya satu korban tubing di Tlogosari itu bisa jadi operator tidak tegas untuk menutup sementara. “Di arung jeram jika debit air naik yang tidak memungkinkan pengarungan karena berbahaya, arung jeram itu di stop tidak boleh turun,” ujarnya.

Pria asal Pejaten ini mencontohkan, saat membuka Bosamba pun ada pembenahan jalur agar aman. “Jeram-jeram yang berbahaya itu diatur sedemikian rupa,” katanya. Paling aman untuk tubing, kata Eko, adalah di saluran irigasi seperti di Lombok Kulon.

(jr/dwi/wah/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia