Jumat, 22 Jun 2018
radarjember
icon featured
Radar Jember

26 Perempuan Korban KDRT

Sabtu, 13 Jan 2018 06:05 | editor : Dzikri Abdi Setia

KDRT, Gerakan Peduli Perempuan Jember, Radar Jember,

Ada 26 kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang terjadi di Jember sepanjang 2017. Bahkan, kekerasan yang dialami oleh anak lebih banyak, yakni 39 kasus. “Mayoritas faktor kekerasan karena ekonomi,” kata Hari Triyanto, Kasi Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan dan Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Jember. 

Jumlah tersebut belum termasuk warga yang tidak melaporkan kekerasan yang dialami. Dia menerangkan, kekerasan yang dialami oleh perempuan tak hanya fisik, tetapi juga psikis. Namun, mayoritas yang melaporkan adalah kekerasan fisik. “Ada yang dipukul hingga melaporkan pada penegak hukum,” jelasnya. 

Hari mencontohkan, seorang suami yang tidak memiliki pekerjaan sementara tekanan ekonomi terus meningkat untuk memenuhi kebutuhan membuat pria kerap emosi. Akibatnya, pertengkaran tak bisa dihindari di dalam keluarga. “Suami marah pada istrinya, lalu memukul,” paparnya. 

Jumlah kekerasan itu merata di semua kecamatan di Jember. Hal itu akibat rendahnya pendidikan serta pernikahan dini yang dilakukan oleh masyarakat. Tak heran, ketika mengarungi rumah tangga, tak kuat dengan berbagai tantangan yang dihadapi. “Tahun 2016 lalu ada 56 kasus KDRT,” akunya.

Kekerasan terhadap anak, lanjut dia, banyak didominasi kekerasan seksual, seperti pencabulan. Bahkan, kekerasan fisik juga kerap dialami oleh anak-anak. “Di luar rumahnya, ada juga anak yang dibully, minder dengan kondisi,” katanya. 

Untuk itu, perlu pendampingan intensif kepada korban kekerasan tersebut. Mengembalikan semangat hidup mereka dan menghilangkan trauma yang dialami perempuan dan anak. 

Ketua Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember Sri Sulistiyani menambahkan, Jember termasuk kabupaten dengan angka kekerasan yang cukup tinggi terhadap perempuan dan anak. Hal itu berdasarkan konsultasi warga yang ditanganinya sejak tahun 2000 lalu.

“Kami tidak mendata jumlahnya, tetapi setiap ada korban kami dampingi,” tuturnya. Perempuan yang akrab disapa Sulis tersebut menerangkan banyak perempuan yang mengalami KDRT tetapi tidak berani bercerai. Penyebabnya karena tidak ada kemandirian ekonomi. 

“Mereka takut setelah cerai tidak bisa beli makan,” tuturnya.  Padahal, kondisi yang dialami sudah sangat parah. Salah satu contohnya, suaminya menghamili anak tiri. Namun, ketika sudah mengajukan cerai, akhirnya dicabut kembali berkas cerainya. 

Ketika perempuan mengalami KDRT, hal itu merambat kepada anaknya. Tak hanya ibu yang dipukul, tetapi anak juga menjadi sasaran. “KDRT yang dialami perempuan tak hanya dipukul, tetapi juga dicaci dan diterlantarkan,” terangnya. 

Berbeda dengan perempuan yang mandiri di bidang ekonomi. Mereka memiliki keberanian untuk cerai ketika mengalami kekerasan. Bahkan, cepat ambil sikap ketika menjadi korban KDRT. “Ada yang suaminya selingkuh, ingin poligami dan sudah tidak cocok,” tuturnya. 

Kekerasan itu berdampak negatif para pertumbuhan anak. Keluarga yang tidak harmonis membuat anak murung, melamun, dan bolos sekolah. “Bapaknya tidak mau mengasuh, masa depan anak memprihatinkan,” ujarnya. 

Untuk itul, GPP Jember itu memberikan wadah pasar kita bagi perempuan agar belajar mandiri. Tujuannya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi perempuan. Mereka menjual produk yang dibuat dalam pasar kita.

(jr/gus/hdi/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia