Senin, 25 Jun 2018
radarjember
icon featured
Radar Semeru

Bocah 4 Tahun Tinggal Digubuk

Minggu, 14 Jan 2018 08:15 | editor : Dzikri Abdi Setia

Bocah 4 Tahun di Gubuk, Radar Semeru,

Bertempat di Dusun Tunjung Sari, Desa Jatimulyo, Kecamatan Kunir, Nur Aini, 4, menghabiskan waktu di gubuk milik keluarganya. Keterbatasan ekonomi mengharuskanya tidur beralaskan pasir dan makan seadanya.

Dalam gubug berukuran kurang lebih 4x4 meter persegi itu, Nur Aini tinggal bersama nenek dan ibunya. Sementara ayahnya sudah pergi sejak Nur Aini berumur 3 bulan lantaran menikah dengan perempuan lain.

Anak yang sangat ceria ini terlihat cerdas. Mengapa tidak, saat ada orang baru datang ke rumahnya dia langsung menunjukan keakrabannya. Bahkan,  tanpa segan, beberapa relawan yang datang langsung ditunjukannya tempat tidur sampai dimana tempat dia mandi.

Bocah 4 Tahun di Gubuk, Radar Semeru,

(Qomaruddin Harahap / Rame)

Kondisinya sangat memprihatinkan, di dalam rumah hanya ada dua dipan. Satu digunakan untuk menyimpan pakaian, dan satunya digunakan untuk menaruh perabotan rumah tangga. Terlihat ada satu alas yang bertumpuk, alas tersebut digunakan Nur Aini dan keluarganya beristirahat.

Sehari harinya, keluarga kecil ini hanya mengandalkan pekerjaan dari si ibu Mainah. Dia bekerja memungut sisa gabah disawah-sawah. Sedangkan Nur Aini setiap harinya diasuh oleh Misni, Sang nenek.

Saat diwawancarai, Misni mengaku serba kekurangan. Jangankan untuk menyekolahkan Nur Aini, untuk makan sehari-hari saja mereka kekurangan. “Begini sudah, mau bagaimana lagi. Tidur di bawah sini, kadang pas bangun, Nur tiba-tiba sudah ada dipasir,” katanya.

Misni tidak punya apa-apa di rumah itu. Kemewahan sama sekali tidak terlihat. Hanya ada dua ekor domba kecil, itu pun milik orang lain yang dia rawat untuk mengisi waktu kosong sambil menemani Nur bermain.

Rumah yang terbuat dari bambu itu juga sangat kumuh, kamar mandi, dapur dan kandang kambing tepat ada di samping rumah. Berkumpul jadi satu. Sangat tidak layak untuk dijadikan tempat tinggal.

Kondisi itu sempat menjadikan Nur Aini mengalami gizi buruk. Data yang berhasil dihimpun dari bidan desa, pada Oktober sampai November Nur Aini mengalami gizi buruk. Sedangkan pada bulan Desember 2017, kondisinya sudah mengalami kenaikan menjadi status kekurangan gizi.

Misni tidak berharap apa-apa dari pemerintah. Dia hanya meminta pendidikan cucunya tersebut diperhatikan. Anak seumuran Nur Aini seharusnya sudah menikmati pendidikan di taman kanak-kanak.

Lagi-lagi karena faktor ekonomi yang serba kurang, Misni tidak bisa menyekolahkan cucunya. “Apa yang saya harapkan? Nur bisa sekolah saja saya sudah sangat senang,” katanya sambil berkaca-kaca. 

(jr/mar/ras/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia