Sabtu, 26 May 2018
radarjember
icon featured
Features

Kelor, Tumbuhan Kaya Khasiat yang Dipandang Mistis

Minggu, 21 Jan 2018 06:00 | editor : Dzikri Abdi Setia

Produksi Kelor, Radar JEmber,

PRODUK BARU: Imam Syafi’i (kanan) bersama Mustaqim, pioner produksi olahan kelor di Kecamatan Wuluhan. Budidaya daun kelor ini mulai banyak diminati. (Khawas Auskarni/Radar Jember)

Masyarakat pedesaan sudah akrab dengan tanaman ini. Banyak dari mereka menisbahkan tanaman berdaun kecil itu dengan unsur mistis. Lebih sering daun kelor dipakai untuk menjamasi jenazah, bahkan dipercaya sebagai penolak ilmu hitam. 

Di balik semua itu, ternyata kelor punya nilai ekonimis dan khasiat yang lebih beragam dari sekadar penangkal ilmu hitam. Di Dusun Demangan, Desa Kesilir, Kecamatan Wuluhan sekelompok warga yang menamakan diri Kesilir Marongghi Center Community (KMCC) berupaya menggali nilai daun kelor–yang bagi banyak masyarakat lain–belum terungkap. 

Daun kelor mentah mereka olah menjadi serbuk hijau multifungsi. Serbuk itu bisa dipakai sebagai minuman pengganti teh, campuran tepung kue, dawet, dan masih banyak lagi.

Adalah Imam Syafi’i, 40, warga Dusun Krajan, Desa Kesilir yang menjadi pelopor berdirinya KMCC di Kecamatan Wuluhan. Kegiatan yang dia bangun bersama sekitar 10 warga Wuluhan lainnya itu bermula dari pelatihan dari Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Jember pada 2014 terkait pengolahan daun kelor. 

Kegiatan itu membuka mata sejumlah peserta lainnya ihwal berharganya daun kelor. Daun dari tanaman yang kerap hanya dipakai sebagai pagar tanaman, penjaman jenazah, juga penetralisir ilmu hitam. 

Serbuk olahan yang dihasilkan komunitasnya dilabeli dengan nama Kelir. Nama Kelir pun, kata dia, punya banyak pemaknaan. Kelir bisa berarti akronim dari Kelor Kesilir. Bisa juga berarti warna dalam bahasa Jawa lantaran serbuk itu bisa menjadi bahan pewarna hijau alami. 

Menurut khasanah wawasan yang dia peroleh, dalam kelor terdapat kandungan protein yang melebihi susu dan memiliki kandungan vitamin C yang lebih tinggi ketimbang dalam jeruk. “Inilah ampuhnya kelor,” ujarnya. 

Tentu saja, ragam kandungan yang penting bagi kesehatan itu juga diiringi oleh potensi pasar yang tinggi. Hanya saja, belum banyak warga sekitar yang ngeh pada keajaiban kelor dari sisi kesehatan. 

Hal paling sulit yang pernah dihadapinya adalah ketika mengedukasi warga yang berpandangan buruk pada tanaman kelor. Di daerahnya ada kepercayaan bahwa siapa saja yang mengkonsumsi kelor, maka umurnya tidak bisa panjang. ”Karena selama ini dipakai untuk memandikan orang meninggal,” tuturnya. 

Kepercayaan lain yang juga mengiringi adalah tidak boleh diperjualbelikannya tanaman kelor. Banyak orang tua yang begitu takut bertransaksi kelor. Mereka percaya, ketika hal itu dilakukan, maka nasib buruk segera menyusulnya. 

Kepercayaan terakhir ini sempat menjadi bencana bagi KMCC di sektor hulu. Tak sedikit warga pemilik lahan yang diajak bermitra menolak mentah-mentah lantaran takut kutukan. 

”Mereka kami tawari kerja sama untuk menanami lahannya dengan kelor, tapi menolak. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” terang Imam. 

Perjuangan membalik paradigma miring tersebut berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Namun, angin segar lekas berhembus setelah banyak warga khususnya kalangan muda mulai tercerahkan. ”Akhirnya ada mitra kami yang mau menanam. Kurang lebih ada 2 hektare lahan kelor yang rutin menyuplai untuk Kelir,” kata dia. 

Kelor yang sudah diproses dan siap pakai bisa dihargai Rp 250 per kilogramnya. Padahal, harga daun kelor mentah dari petani hanya 2 ribu per kilogram. Namun, harga 2 ribu per kilogram itu dalam kondisi daun bercampur gagang. “Proses pertama adalah pengeringan,” ujarnya. 

Imam menjelaskan, 1 kilogram daun bercampur gagang itu jika dikeringkan hanya akan menjadi 70 hingga 100 gram daun kelor kering siap proses. Setelah diproses menjadi serbuk kelor kuantitasnya menyusut menjadi tidak kurang dari 8% dari 1 kilogram kelor basah yang masih bergagang. 

Proses pemasaran Serbuk Kelor Kelir yang dihasilkan oleh pegiat KMCC masih sebatas jaringan perkenalan. Mereka belum bisa merambah toko-toko konvensional lantaran kendala perizinan. “Sebenarnya toko-toko yang kami tawari merminat. Tapi mereka segan membeli lantaran belum ada izinnya,” katanya. 

Sebenarnya sejak Oktober kemarin, Imam berupaya mengurus perizinan PIRT produk Kelir ke Kantor PTSP Kabupaten Jember. Namun, hingga detik ini izin itu belum kunjung rampung.

(jr/was/hdi/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia