Kamis, 21 Jun 2018
radarjember
icon featured
Features

SAR OPA, Relawan yang Tak Pernah Absen di Medan Bencana

Selasa, 30 Jan 2018 12:15 | editor : Dzikri Abdi Setia

SAR OPA, Bencana, Radar Jember,

TAK PEDULI JARAK: Tak hanya aktif di Jember, ke luar kota pun anggota SAR OPA ini ringan saja berangkat. Seperti saat ada korban hilang terseret arus saat berwisata tubbing di Bondowoso belum lama ini, mereka pun berangkat nge-SAR. (OPA FOR RADAR JEMBER)

Sejak awal kemunculannya kisaran dua dekade silam, organisasi pecinta alam (OPA) menjadi salah satu kelompok relawan kebencanaan yang paling militan di Jember. Tidak ada honor bagi mereka. Misi kemanusiaan mereka mampu menerjang segala bentuk pamrih di tengah kondisi darurat. 

Bagi yang jarang bersentuhan dengan relawan kebencanaan, SAR dari OPA bisa jadi bukan siapa-siapa. Tapi, di kalangan relawan, SAR dari OPA ini dikenal sangat banyak kiprahnya. Mereka nyaris tanpa absen di tengah medan ketika bencana terjadi. 

Lantas siapakah sebenarnya OPA? SAR OPA merupakan relawan SAR yang berasal dari unsur mahasiswa pencinta alam (mapala). Anggotanya berusia kisaran 20-24 tahun, sebagaimana usia mahasiswa umumnya. Dalam lingkaran mapala di Jember, fungsi OPA semacam badan koordinasi yang menautkan unit kegiatan mahasiswa (UKM) pecinta alam dari beragam perguruan tinggi di Jember. 

Selain itu, wadah tersebut juga memerankan fungsi koordinatif terhadap personel mapala se-Jember untuk terjun ke medan saat terjadi bencana. Pola ini menjadikan relawan kebencanaan dari unsur OPA cenderung bisa menyumbangkan personel yang relatif banyak di saat terjun ke lapangan, bisa sampai puluhan.  

Perkumpulan ini resmi terbentuk kisaran tahun 2000. Belakangan, basisnya terpusat di sekretariat Akasia, UKM Pencinta Alam yang dimiliki Fakultas Hukum Universitas Jember. 

Lantaran statusnya yang lintas perguruan tinggi, OPA bukanlah menjadi bagian dari salah satu perguruan tinggi. Tak ayal, wadah ini tidak memiliki sumber pendanaan yang bisa dipastikan. 

Urusan pendanaan inilah yang menjadi salah satu hambatan pemenuhan saat melakukan giat. Mereka mesti menggalang sumbangan dari satu UKM PA satu ke yang lainnya, yang ternaung dalam OPA. “Kami selalu patungan. Saat dana dan logistik sudah habis, sementara giat SAR belum selesai, maka patungan lagi,” ujar Denny Sukma Putranto, koordinator SAR OPA. 

Menurutnya, keputusan untuk terjun ke lokasi begitu terjadi bencana lebih utama ketimbang ribut soal logistik. Pemenuhan makanan dan hal remeh-temeh lainnya kerap diurus sembari jalan. 

Dia berani mengklaim jika personel OPA sering datang ke lokasi jauh lebih cepat ketimbang organ kebencanaan lainnya. Prinsipnya, sesegera mungkin mendekati titik bencana saat informasi diterima. Hal ini, kata dia, sulit dilakukan oleh satuan kebencanaan yang masih terlampau birokratis. “Yang lain biasanya masih nunggu pagi, nunggu absen dulu di kantor. Sementara kami lebih memilih untuk langsung berangkat,” kata mahasiswa semester tua Fakultas Hukum (FH) Unej yang karib disapa Joker itu. 

Namun demikian, dalam faktanya OPA bukan cuma bermodalkan militansi dan jiwa muda yang penuh kenekatan. Kendati kerap patungan untuk mendapatkan kebutuhan logistik, nyatanya mereka menjadi satu-satunya unsur organ penanganan musibah tenggelam yang, kalau tidak salah, dilengkapi dengan perahu rafting. Ada lima perahu rafting OPA yang dihimpun dari sejumlah UKM PA di bawahnya. “Basarnas infornya sebelumnya punya satu, tapi sekarang rusak. Jadi punya kami ini yang jadi andalan,” terang Denny.

Di luar semua itu, perjuangan tanpa pamrih yang kerap ditampilkan anak-anak OPA terkadang juga mendapat cibiran. Barangkali lantaran masih berstatus mahasiswa, giat kemanusiaan yang mereka tapaki itu kurang memenuhi unsur profesionalitas. “Pernah kami dikatai, jangan banyak-banyak personelnya, ini bukan latihan,” kata dia menirukan salah seorang petugas kebencanaan.

Padahal, menurut Denny, para relawan OPA merupakan komponen kebencanaan yang telah melewati screening yang berat. Mereka baru ditahbiskan pantas mejadi relawan SAR oleh UKM PA di kampusnya masing-masing setelah lulus ujian diklat SAR yang berat. (c1/ras)

(jr/was/ras/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia