Sabtu, 23 Jun 2018
radarjember
icon featured
Features

Menengok Aktivitas Gerakan Lestarikan Masjid

Sabtu, 10 Feb 2018 08:15 | editor : Dzikri Abdi Setia

Gerakan Lestarikan Masjid, Radar Jember,

JAGA TRADISI PAGI: Untuk memperkuat silaturahmi, komunitas ini rutin nyambangi masjid atau musala anggota untuk sekadar salat subuh berjamaah. (Rully efendi/radar jember)

Salat berjamaah bukan sekadar untuk mengejar pahala berlipat. Seperti yang dilakukan pegiat Lestarikan Masjid. Mereka, bergantian mengunjungi rumah para anggota, untuk menjaga aktivitas masjid. Seperti apa?

Setiap sejam sebelum waktunya adzan subuh, WhatsApp Grup ‘Lestarikan Masjid’, mulai aktif saling mengajak anggotanya salat subuh. Satu per satu dicek. Semisal ada yang telat respons, pasti ditelepon. Tujuannya, supaya salat tepat waktu.

Memang, waktu salat lainnya juga saling mengingatkan. Namun subuh, tetap menjadi prioritas. Sebab, di waktu subuh, godaan lalai meninggalkan salat sangat tinggi. Apalagi, saat terlalu capek. “Minimal salat subuhnya tidak kesiangan,” kata Herwan Agus Darmanto, salah satu anggota.

Kabag Humas Pemkab Jember itu memang salah satu pegiat gerakan Lestarikan Masjid ini. Beberapa anggota lainnya juga ada para wartawan dan lintas profesi. Anggotanya memang belum terlalu banyak. Namun, melihat progres gerakan yang mereka lakukan, setiap harinya ada saja anggota baru.

WhatsApp yang berujung telepon satu per satu anggota grup di waktu subuh bukan hanya satu-satunya cara mengajak salat tepat waktu. Bahkan, jika memang perlu dibangunkan, anggota yang rumahnya berdekatan diberi tugas mendatangi rumah temannya untuk salat subuh berjamaah.

Setiap minggu mereka road show ke rumah anggota grup WhatsApp. Digelar bergantian. Kemudian, salat subuh berjamaah di masjid terdekat rumah anggota. “Masjid yang kami datangi bukan yang sudah ramai. Tapi masjid yang potensi untuk diramaikan,” jelasnya.

Kedatangan para anggota Gerakan Lestarikan Masjid, hanya sekadar untuk meramaikan masjid di saat minggu. Kemudian, mereka juga menyadarkan masyarakat sekitar masjid supaya salat subuh berjamaah menjadi pilihan. “Tidak ada tujuan lain,” tegas Herwan.

Mereka juga tidak mau mengubah tradisi yang sudah ada di masing-masing masjid. Namun, karena sifatnya menumpang, usai kegiatan rutin masjid digelar, mereka memulai kuliah tujuh menit (Kultum).

Tidak ada kiai yang diundang. Mereka yang menjadi pemateri kultum adalah para anggota secara bergantian. Materinya pun sesederhana mungkin. Sekadar menyampaikan pengalaman religi masing-masing. Persis semacam testimoni perjalanan religi. “Biasanya tuan rumah yang kami dahulukan,” tuturnya. 

Tradisi lain yang dibangun, usai salat subuh berjamaah di masjid dekat rumah teman, mereka melanjutkan road show berkonsep anjang sana. Tujuannya memperkuat silaturahmi. “Satu per satu anggota harus saling tahu rumah teman,” imbuhnya.

Herwan meyakini, semakin banyak yang saling tahu rumah temannya, semakin sering pula dorongan untuk saling bersilaturahim. Sampai nanti gerakan berkembang jadi salat berjamaah di rumah teman.

Para penggagas Gerakan Lestarikan Masjid memiliki mimpi besar kelak jamaah salat subuh di masjid bisa menyamai jamaah salat Jumat. “Penguasa Yahudi pernah menyatakan, mereka tidak pernah takut pada umat Islam, kecuali pada satu hal, jumlah jamaah salat subuh menyamai jumlah jamaah salat jumat,” paparnya. 

(jr/rul/hdi/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia