Sabtu, 26 May 2018
radarjember
icon featured
Features

Eksistensi Kesenian Topeng Kaliwungu Mulai Banyak Tantangan

Minggu, 11 Feb 2018 08:30 | editor : Dzikri Abdi Setia

Topeng Kaliwungu, Lumajang, Radar Semeru,

PUNYA ESPEKTASI: Machrus Ali, aktivis seni Topeng Kaliwungu bercerita panjang lebar tentang eksistensi kesenian tersebut yang mulai tergerus zaman. (HAFID ASNAN/RAME)

Sebagai salah satu identitas daerah, kesenian Topeng Kaliwungu sudah punya nama di luar daerah. Namun, untuk diwariskan pada generasi muda masih banyak yang gengsi. Meski begitu, para penggiatnya punya segudang ekspektasi.

Karakter topengnya jelata. Sebab, berlatar belakang dari kesenian komunal. Bukan dari kerajaan ataupun keraton. Tampilannya lebih sederhana dan tidak banyak ukiran. Hanya bermain warna dengan gambar yang terkesan halus. 

Tidak ada teknik berat pada pewarnaan dan penggambaran. Hidungnya panjang tidak lancip. Lebih pendek dari Topeng Bapang asal Malang dan tidak selancip dan sependek Topeng Madura. Ukurannya sekitar 15 cm.

Begitulah gambaran yang melekat pada Topeng Kaliwungu. Topeng yang menjadi identitas bagi setiap penari. Belakangan ini, bagi penggiat seni, topeng itu sudah menjadi ciri khas kesenian Lumajang.

Sejarahnya, kesenian ini berasal dari Madura dengan nama tari topeng Getak. Berdasar penelusuran Jawa Pos Radar Semeru, kesenian ini dibawa ke Lumajang mengalami akulturasi budaya yang sangat besar pengaruhnya namun terus berkembang di Dusun Kaliwungu, Desa Tempeh Lor, Kecamatan Tempeh. Pada akhirnya, kesenian ini dikenal dengan Tari Topeng Kaliwungu. “Perubahan itu karena singgungan sosial Mbah Senemo (meninggal tahun 2014) yang banyak menyesuaikan Jawa khas Lumajang,” ungkap Machrus Ali, salah satu penggiat tarian ini. 

Mbah Senemo kemudian meneruskan kesenian ini. Kemudian berkembang di daerah Tempeh, Pasirian, Gucialit, Klakah, dan Yosowilangun. Sehingga, ada penyesuaian gerak dan simbol sosial. “Yang mengembangkan Mbah Salam, buyutnya Mbah Senemo. Diperkirakan mulai booming di Lumajang sejak tahun 1800-an,” tambahnya. 

Terus berkembang pesat dan belakangan ini mulai dijadikan kesenian tambahan dalam pertunjukan Jharan Kencak dan digandrungi pelaku tradisi yang notabene penggiat kesenian Jharan Kencak. “Sampai menjadi pembuka di acara malam pembuka Jharan Kencak,” jelasnya.

Dalam mengikuti perkembangan zaman, seni ini mulai banyak dikolaborasikan dengan kesenian modern. Dalam pertunjukannya, tarian ini diselipi nyanyian dangdut dan improvisasi lainnya. Penari memakai topeng dan ada sentuhan dramatikal yang sesuai dengan karakternya, yakni tidak setegas Tari Topeng Madura. Namun, tidak selembut tarian daerah Mataraman dari daerah Malang ke barat. “Tanggung, tapi ini berkarakter. Ini Lumajang. Gak kayak Bali yang nge-beat,” jelasnya.

Machrus Ali, pria kelahiran 16 September 1985 ini mulai mengenal kesenian tersebut sejak 2009. Berawal dari tugas kuliah di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya. “Saya mulai berkesenian pada 2004. Mengenal Topeng Kaliwungu 2009. Terus gabung komunitas teater Semar 13,” tambahnya.

Dia mengakui, sejauh ini kendala yang dihadapi adalah minimnya riset berkelanjutan, karena banyak diteliti oleh UM, UNESA, dan perguruan tinggi lainnya. Tetapi, kebutuhan mereka hanya sampai studi penelitian. Tidak ada nilai yang menawarkan pengembangan. Oleh karena itu, dia sangat ingin kembali mengangkat tarian ini. Sebab, kesenian ini juga menjadi satu-satunya seni topeng di Lumajang yang berangkat dari akar budaya khas Lumajang. 

Kesenian ini diikuti beragam usia. Bahkan, di Gucialit penarinya malah orang-orang yang sudah tua. Kendala lainnya adalah pada pengembangan dan perhatian pemerintah daerah. Perhatian tarian ini memang perlu serius. Sebab, ruang untuk memperkenalkan kesenian ini sangat sempit. Padahal, sangat kompatibel dan cocok diapresiasi di segala ruang dibanding kesenian lain yang butuh ruang khusus.

Dengan kesenian ini, Machrus sudah berulang kali tampil ke luar daerah. “Di luar Lumajang apresiasinya luar biasa. Tapi di Lumajang tidak. Malah jadi kebutuhan karnaval yang tampilannya terpotong-potong,” bebernya.

Kesenian ini bisa dibilang luntur oleh zaman. Tapi, di Lumajang geliatnya malah menanjak dan masih sering digunakan untuk tanggapan hajatan. Dalam setahun, satu kelompok seni bisa puluhan kali melakukan pertunjukan. Belum lagi ketika festival di luar daerah.

Machrus selalu dapat undangan kehormatan dalam Festival Lima Gunung yang diadakan setiap tahun di Magelang, Jawa Tengah. Sebelumnya dia memang sendirian, namun, ke depan akan mengajak penggiat seni lainnya supaya paham eksistensi di luar daerah.

Dia berharap, ada banyak event terkait kesenian ini. Sebab, lebih layak dibanggakan dibanding kesenian topeng lainnya. Kini, muncul gagasan untuk mewariskan pada generasi muda, dengan jalan harus mencintai kebudayaan yang ada dan jangan pernah menganggap budaya sendiri tidak kompatibel. Sebab, ini adalah budaya yang bisa membuat mereka mengenal Lumajang. Jika kesenian ini terus diperkenalkan, maka akan banyak anak muda yang tertarik. “Tapi masalahnya, jarang dikenalkan untuk anak muda. Karena event-nya minim, ruangnya juga terbatas,” ucapnya.

Oleh karena itu, dia menggelar riset Topeng Kaliwungu dengan target ada forum diskusi terbuka untuk menemukan bentuk, gerak, kostum, serta karakteristik topeng. “Gol lainnya adalah ingin buat event khusus topeng. Tampil di Kaliwungu dan berkesinambungan,” ungkapnya.

(jr/fid/hdi/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia