Senin, 25 Jun 2018
radarjember
icon featured
Features
Paguyuban Destinasi Wisata Jember (DWJ)

Satukan Para Pelaku Wisata Kembangkan Potensi Jember

Senin, 12 Feb 2018 08:11 | editor : Dzikri Abdi Setia

Destinasi Wisata Jember, Paguyuban DWJ, Taman Botani Sukorambi, Radar Jember,

BERSAMA UNTUK PARIWISATA: Para anggota Paguyuban Destinasi Wisata Jember (DWJ) foto bersama di Taman Botani Sukorambi, kemarin. (DWI Siswanto / RADAR Jember)

Destinasi wisata di Jember terus bertambah, para pelakunya tak diam saja agar potensi ini terus berkembang. Mereka membentuk suatu wadah agar bisa sharing bersama, yakni Destinasi Wisata Jember (DWJ).

Paguyuban Destinasi Wisata Jember (DWJ) memiliki semangat yang sama tentang pengembangan wisata di Jember. Yakni, menjadikan potensi wisata lebih maju dan terus berkembang. Tak heran, mereka selalu berkumpul membicarakan arah pengembangan wisata.

Paguyuban ini sering disebut sebagai DWJ. Anggotanya dari berbagai kalangan, pengelola wisata, hotel, kuliner dan elemen lainnya.  Mereka kerap mengadakan diskusi pengembangan wisata Jember. “Destinasi wisata Jember mulai dari event, atraksi, kuliner, dan lainnya,” kata koordinator paguyuban DWJ, Febrian Ananta Kahar.

Kemarin, (11/2), DWJ resmi melakukan MoU dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember untuk pengembangan wisata Jember. Kerja sama tersebut  merupakan langkah kecil untuk pencapaian yang lebih besar. “Pengelola wisata jangan merasa sendiri dalam mengembangkan wisata, kita bersama-sama,” tambahnya. 

Setiap ada kegiatan wisata, anggota DWJ selalu hadir untuk memberikan dukungan. Bahkan, mereka juga merancang agar setiap bulan, Jember memiliki event yang bisa mendatangkan wisatawan. “Selama ini, event yang ramai hanya di bulan Agustus, sedangkan di bulan lainnya masih belum” tambah Teguh Suprayitno, ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jember yang juga anggota DWJ.

Event yang cukup tenar di bulan Agustus mulai dari Jember Fashion Carnival (JFC) dan Festival Egrang. Padahal, masih banyak event lain yang belum diketahui oleh masyarakat luas. Seperti festival pegon, yakni festival alat transportasi tradisional yang menggunakan sapi.

Festival ini menarik, namun masih banyak yang belum mengetahui bahwa setelah hari raya Idul Fitri selalu ada festival pegon. Bila festival ini diketahui masyarakat luas, tentu banyak yang datang untuk menyaksikan. “Perlu penambahan event agar tidak hanya berpusat di bulan Agustus,” imbuhnya. 

DWJ, lanjut pria yang akrab disapa Teguh tersebut, berdiri karena keinginan agar Jember menjadi kota wisata. Sebab, banyak potensi wisata yang belum diketahui dan dikelola oleh masyarakat. Akhirnya, para pelaku wisata sepakat membentuk paguyuban memajukan wisata jember. 

 “Kami ingin  setiap destinasi wisata membuat event sendiri,” imbuhnya. Sehingga, bisa meramaikan wisata Jember, tak hanya dari kalangan warga lokal, tetapi juga wisatawan dari luar  daerah. Jika Jember semakin ramai, maka semua elemen juga akan mendapatkan manfaatnya.  Mulai dari hotel, restoran, tempat oleh-oleh, serta warga sekitar. 

Dalam mewujudkan event tersebut, DWJ ikut terlibat membuat kalender wisata. Mereka bersama Disparbud Jember merancang berbagai kegiatan yang akan diselenggarakan di Jember. Sehingga, pelaksanaan event tersebut tidak berbenturan dengan kegiatan yang lain. 

Harapannya, wisatawan yang datang tidak hanya di bulan Agustus, tetapi setiap bulan mereka berkunjung ke Jember. DWJ juga membuat brosur tentang semua wisata Jember. Wisatawan bisa mendapatkannya di beberapa tempat, seperti bandara. Di sana, DWJ menyediakan rak untuk brosur wisata Jember. 

Konsep kebersamaan dan sinergitas yang dikembangkan DWJ inilah yang mampu mewujudkan pariwisata berbasis komunitas. Semua wisata di Jember bisa terus berkembang karena didukung oleh semua pihak.  

(jr/gus/sh/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia