Sabtu, 26 May 2018
radarjember
icon featured
Spotlight

Pengelolaan Tempat Wisata Sinergi Masyarakat, Pokdarwis, dan Desa

Selasa, 13 Feb 2018 05:00 | editor : Dzikri Abdi Setia

geliat wisata daerah, radar jember,

PELESTARIAN ALAM: Bukan hanya sekedar diambil manfaat ekonomi saja (POKDARWIS TAMBAR FOR RADAR JEMBER)

Semakin maraknya wisata muncul di daerah baru membuat pengelolaan tempat wisata tersebut menjadi cukup kompleks. Masyarakat mulai mencoba untuk mengelola sendiri tempat wisata tersebut, dengan harapan bisa membawa hasil lebih bagi wilayahnya. Tak sedikit pula yang bekerja sama dengan pihak-pihak luar agar mampu mengembangkan potensi yang ada di sekitarnya.

Pengamat pariwisata Jember, Fauzen SE MSi menuturkan, sedianya masyarakat tak perlu memutuskan sendiri siapa yang mengelola kawasan wisata yang baru. Alih-alih masyarakat, desa bisa dilibatkan dalam pengelolaannya. “Tujuannya untuk mempermudah payung hukumnya,” ujarnya.

Hal tersebut, lanjut dia, dapat mencegah adanya simpang siur di kalangan masyarakat tentang siapa yang berhak mengelola tempat wisata tersebut. Selain itu, bisa merangsang pertumbuhan pariwisata di wilayahnya masing-masing. “Salah satunya, pokdarwis juga memegang peran,” imbuh Fauzen.

Pokdarwis juga memegang peran besar dalam pengembangan pariwisata baru. Melalui pokdarwis dan desa, masyarakat bisa menikmati hasil dari pariwisata yang dikembangkan di daerahnya. “Jadi, perlu sinergi antara masyarakat, pokdarwis, dan BUMDes,” tegas Fauzen.

Sinergi tersebut juga menjembatani masyarakat dengan pemerintah. Dengan hadirnya dukungan pemerintah, pertumbuhannya akan lebih luar biasa. Selain itu, dampak yang diperoleh juga dapat dirasakan oleh kedua belah pihak. “Masyarakat juga diuntungkan, pemerintah juga diuntungkan dengan potensi dana yang sebelumnya belum muncul. Tinggal bagaimana memolesnya agar lebih baik lagi,” tandasnya.

Hadirnya pokdarwis juga membuat wisata yang dikelola menjadi lebih inovatif. Menurtu Fauzen, ada dua hal yang perlu dibaca dalam pariwisata, yaitu kehadiran wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara. Keduanya memiliki karakter dan keinginan yang berbeda.

Wisatawan domestik misalnya, lebih suka datang ke tempat wisata yang mudah dijangkau dengan kendaraan. Sebaliknya, wisatawan mancanegara memilih menikmati perjalanan dengan tingkat kesulitan yang bervariasi. “BUMDes bisa berperan untuk pengembangan sarana dan prasarana menuju tempat wisata tersebut, misalnya dengan perbaikan jalan,” imbuhnya.

Belum lagi, pengelolaan sistem keuangan yang memadai, ini menjadi tugas besar bagi pengelola kawasan wisata. Apabila tidak terdapat sistem strategis, mereka bisa kehilangan wisatawan. 

“Kalau wisata dikelola dengan baik dan memiliki sistem keuangan, paling tidak ada penghasilan yang disimpan untuk pengembangan wisata. Maksimal 50 persen dimasukkan ke dana pengembangan pariwisata, selebihnya dibagi menurut perjanjian. Kalau tidak ada regulasi seperti itu, selamanya pariwisata tetap seperti itu, tidak akan berkembang. Orang akan bosan dan lama kelamaan akan ditinggal. Oleh karena itu, butuh inovasi yang beragam,” pungkasnya.

(jr/lin/sh/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia