Minggu, 27 May 2018
radarjember
icon featured
Spotlight

Relawan Rintis 5 Desa, Unej Mulai di Arjasa

Selasa, 13 Feb 2018 05:15 | editor : Dzikri Abdi Setia

geliat wisata daerah, radar jember,

CANTIK: Keindahan alam yang ditawarkan di Desa Jambesari, Kecamatan Sumberbaru. (SPRB for Radar Jember)

Seiring berkembangnya kehidupan masyarakat, sensasi menikmati alam perdesaan yang asri menjadi potensi wisata tersendiri. Tak sekadar berwisata, kini di Jember mulai berkembang wisata alam perdesaan yang dipadukan dengan upaya edukasi dan mitigasi masyarakat terhadap bencana. 

 “Uniknya, di desa-desa yang menawarkan keindahan alam, sebenarnya juga mengandung potensi bencana. Karena pada dasarnya, di semua tempat terdapat potensi bencana, tinggal bagaimana kita mengelolanya,” tutur Sultan Ahmad Afandi, salah satu relawan dari Sekolah Pengurangan Risiko Bencana (Sekolah PRB) kepada Jawa Pos Radar Jember. 

Dalam kebijakan kebencanaan, mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. 

Sejak beberapa bulan terakhir, SPRB merintis konsep Desa Wisata Tangguh Bencana, atau Deswitana. “Konsepnya sinergi dengan mitigasi bencana. Ketika masuk kawasan rawan longsor misalnya, wisatawan jadi tahu exit plan ketika terjadi sesuatu, sehingga memberikan rasa aman dan nyaman saat berwisata,” jelas Sultan. Konsep ini dianggap memiliki nilai lebih dibandingkan desa wisata biasa yang sekadar menjual nuansa alam perdesaan. 

Setidaknya, terdapat lima desa di Jember yang menjadi rintisan SPRB untuk dijadikan Deswitana. Kelimanya yakni Karangbayat, Klungkung, Jambearum, Jambesari, dan Sukorambi. 

Salah satu syarat utama untuk menumbuhkan Deswitana ini menurut Sultan adalah dengan mengutamakan peran aktif masyarakat. “Kita relawan hanya memfasilitasi. Keterlibatan kita mungkin hanya sekitar 20 persen, selebihnya adalah peran aktif masyarakat setempat,” tutur mahasiswa Jurusan Sosiologi Unej ini. 

Salah satu desa terbaru yang kini dirintis sebagai Deswitana adalah Desa Jambesari, Kecamatan Sumberbaru. Rintisannya baru dimulai pada 8 Februari 2018 lalu. “Saat itu, kita adakan sekolah mitigasi kebencanaan. Kita lihat di sana terdapat potensi wisata yang bagus. Setelah kita beberapa kali diskusi dengan warga setempat, responsnya positif, jadi kita mulai,” jelas Sultan. 

Sebagai dataran tinggi, Desa Jambesari, lanjut Sultan, memiliki riwayat buruk dengan kejadian tanah longsor. Kondisi ini yang mendorong diadakannya upaya mitigasi bencana di daerah tersebut. Namun, di sisi lain, Desa Jambesari juga menawarkan pemandangan yang indah serta kultur masyarakat yang menarik. 

Selain Desa Jambesari, sebelumnya SPRB juga merintis Desa Wisata Tangguh Bencana di Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi sejak akhir 2017. Seperti halnya di Jambesari, rintisan desa wisata di Klungkung juga bermula dari sekolah mitigasi bencana. “Saat itu kita diskusi, apa saja potensi wisatanya, selain tubing atau arung jeram. Ternyata banyak. Dari situ kita tercetus ide untuk merintis desa wisata tangguh bencana,” lanjut Sultan. 

Selain air terjun yang cantik, masyarakat Desa Klungkung juga memiliki tradisi berbalas pantun dalam bahasa Madura. “Selain itu juga ada wisata kebun mawar. Masyarakatnya juga banyak yang membuat kerajinan tangan. Serta ada juga pabrik pengolahan hasil perkebunan warisan Belanda dari Abad XVIII,” jelas Sultan.

Unej juga tidak mau ketinggalan untuk mengembangkan desa wisata tangguh bencana. Saat ini, melalui lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (LP2M), Unej sedang merintis konsep tersebut di Dusun Rayap, Desa Kemuninglor, Kecamatan Arjasa. Selama ini, dusun tersebut kerap dilanda tanah longsor. 

“Di Kemuninglor itu kita sudah lama rencananya, tapi belum juga jalan. Tapi, sekarang sudah kita susun desainnya, dan akan segera kita jalankan tahun ini,” tutur Joko Mulyono, koordinator lingkungan dan kebencanaan, LP2M Unej. Sebagai langkah awal, Unej sudah melakukan survei dan akan melakukan penanaman sekitar 3 ribu tanaman keras seperti Sengon dan Mahoni di Dusun Rayap. 

Pengembangan desa wisata yang disinergikan dengan konsep mitigasi bencana, menurut Joko, memiliki kelebihan lain. Selain menjual potensi wisata, juga sebagai antisipasi atas terjadinya peristiwa alam di desa tersebut. “Jadi, misalkan selain bertani, masyarakat di sana juga mendapat penghasilan tambahan terkait wisata. Berdasarkan kajian kami, desa seperti itu memiliki ketangguhan manakala terjadi bencana,” tutur dosen FISIP Unej ini. 

Sebelumnya, Joko dan rekan-rekannya dari Unej mengkaji di dua titik, yakni Desa Sugih Waras, Kecamatan Ngancar, Kediri dan Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkring, Sleman. Saat itu, dua desa tersebut masing-masing baru terkena erupsi Gunung Kelud dan Gunung Merapi. Sebelum terjadi bencana alam, dua desa tersebut sudah melakukan mitigasi yang dipadukan dengan wisata perdesaan. “Terbukti dengan adanya diversifikasi pekerjaan, kedua desa tersebut lebih tangguh untuk bangkit pasca bencana, dibanding wilayah sekitarnya,” tutur Joko. 

Konsep wisata perdesaan yang berpadu dengan mitigasi bencana berangkat dari satu gagasan besar. Yakni, bagaimana manusia hidup harmonis dengan bencana (living harmony with disaster). Sebab, bencana pada dasarnya tidak bisa dihindarkan, tetapi bisa diminimalisasi. “Tantangan utamanya adalah mengubah pola pikir masyarakat. Kalau pihak luar seperti pemerintah, hanya sebagai fasilitator,” pungkas Joko.

(jr/ad/sh/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia