Senin, 18 Jun 2018
radarjember
icon featured
Features

Keuletan Budi Purwadi, Penderita Difabel Yang Gigih Cari Rejeki

Minggu, 18 Feb 2018 08:15 | editor : Dzikri Abdi Setia

Disabilitas, Tuna Daksa Jember, Radar Jember,

PANTANG MENYERAH: Budi Purwadi yang memiliki satu kaki tetap bersemangat menghadapi hidup dengan menambal ban. (WAWAN DWI/RADAR IJEN)

Cacat fisik bukan harus berpangku tangan. Itulah yang ditunjukkan Budi Purwardi. Meski hanya memiliki satu kaki saja, dia tetap berusaha mandiri sebagai tukang tambal ban.

”Hanya lari dan naik sepeda, kegiatan yang tak bisa saya lakukan,” tutur  Budi Purwadi, kemarin. "Meski satu kaki, saya bisa renang, memanjat, dan pernah juga kerja sebagai buruh tani," lanjutnya. 

Di bawah pohon angsana di Jalan Santawi Bondowoso, Budi Purwadi senantiasa menunggu penguna jalan yang alami ban bocor. Tak sedikit pula Budi tidak mau dibayar atas jasanya sebagai tukang tambal ban, khususnya untuk para tukang becak. 

Juga tak jarang, pengendara yang alami ban bocor terkecoh dengan fisik Budi, dan mengira normal memiliki dua kaki. 

Untuk ‘berdiri’, pria 43 tahun ini tak perlu bantuan orang lain. Dia langsung berdiri begitu saja. Bahkan untuk mengambil sesuatu, dia tak butuh alat penyangga. Budi hanya ‘meloncat-loncat’ saja, karena memang tumpuan kaki tak normal. 

“Kelamaan kalau jalan pakai kek (alat penyangga, red). Kaki palsu sih punya, tapi ribet. Tidak bisa cepat kalau dibuat kerja,” terangnya. 

Budi ini memang dikenal ulet dalam urusan rejeki. Tidak hanya sebagai tukang tambal ban, dia juga pernah kerja sebagai kuli bangunan, dan buruh perkebunan. Pekerjaan yang memerlukan fisik kuat itu, lagi-lagi, dikerjakan Budi dengan satu kaki saja. 

"Selama tangan ini masih genap, saya bisa kerja apa saja dan tak mau kalah dengan yang normal. Tapi kalau kerja dengan bersepeda dan berlari tidak bisa," katanya.

Saat kerja sebagai buruh perkebunan yang kala itu program menanam kopi, dia pernah diremehkan. Dia pun membuktikan meski satu kaki bisa mencangkul dengan kedalaman yang sesuai. 

Cacat fisik yang dialami Budi bukan dialaminya sejak lahir. Pria asal Wonosari ini terlahir normal punya dua kaki. Namun akibat kecelakaan kereta lori saat kelas 1 SD, fisiknya berubah drastis, dan memiliki satu kaki saja. 

Akibat kecelakaan itulah, kakinya diamputasi. Bertahun-tahun dia hanya diam, dan memilih duduk-duduk saja melihat kawan-kawan kecilnya bermain. Bangkitnya Budi adalah justru saat diremehkan. Saat itu dia ditantang untuk berenang. 

"Saat kecil waktu itu, saya ditantang berenang (karena punya satu kaki). Saya tidak terima dan ingin membuktikan," katanya. Setelah dia bisa meladeni tantangan yang rasnaya nggak masuk akal itulah, motivasi Budi tumbuh hingga sekarang. 

Meski, punya satu kaki Budi tak pernah malu sedikit pun. Bahkan, dia lebih memilih sekolah di sekolah umum dari pada sekolah khusus difabel. Meski, kini Budi dikenal tukang tambal ban dengan satu kaki, namun dia tetap aktif memberikan semangat generasi muda untuk jangan mudah putus asa. 

“Anak sekarang putus cinta saja rasanya dunia berakhir. Padahal itu kecul kehidupan saja,” selorohnya.

Saat berjumpa dengan orang yang alami cacat seperti dirinya dan putus asa dalam hidup, Budi mencoba merangkulnya. Dari beberapa tuna daksa yang dia kenal,  memotivasi cacat ini tak mudah. ”Paling sulit itu orang dewasa yang baru alami cacat kecelakaan. Kalau masih kecil masih enak meski diejek masih kuat, ingin bermain terus, dan bergerak,” tambahnya. 

Sehingga, berkumpul dengan orang-orang tuna daksa lainya yang bersemangat dalam hidup tentu mempercepat untuk bangkit. Budi pun bercita-cita ingin membuka usaha yang membutuhkan tenaga banyak untuk tuna daksa. 

(jr/dwi/hdi/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia