Selasa, 19 Jun 2018
radarjember
icon featured
Rame-rame

Ahli Gizi Tidak Kalah Penting dengan Dokter dan Perawat

Senin, 19 Feb 2018 06:10 | editor : Dzikri Abdi Setia

Persatuan Ahli Gizi, Jember, Radar Jember,

AKTIF BERI INFORMASI GIZI: Persagi terus mengoptimalkan sosialisasi mereka baik secara internal maupun eksternal organisasi. (HERU PUTRANTO/RADAR JEMBER)

Jika dokter dan perawat bertugas untuk mengobati, maka ahli gizi bertugas untuk mencegah. Frasa ini tepat menggambarkan peran ahli gizi di masyarakat. Tak hanya satu kalangan, ahli gizi harus memahami dan memahamkan pentingnya gizi di banyak elemen mulai dari bayi hingga lansia.

Dengan visi mencapai status gizi masyarakat yang optimal, sebuah organisasi pemerhati gizi telah dibentuk semenjak 1957 dengan sebutan Persatuan Ahli Nutrisionis Indonesia. Kemudian, pada 1989 namanya diubah menjadi Persatuan Ahli Gizi Indonesia. Organisasi ini sedianya telah memiliki banyak cabang di seluruh penjuru Indonesia, salah satunya di Jember.

DPC Persagi Jember didirikan sejak 2009, lebih banyak memfokuskan aktivitas mereka pada konsep menjadikan gizi sebagai basis paradigma, pencerdasan bangsa, dan peningkatan produktivitas. Selain itu, menjadikan masyarakat memahami, menyadari, dan melaksanakan pola makan sesuai dengan pedoman umum gizi seimbang. Serta menjadikan pelayanan gizi yang bermutu, merata, dan terjangkau oleh masyarakat.

Di Jember saat ini lebih dari 75 anggota ahli gizi yang tercatat di Kesekretariatan Persagi Jember. Ketua DPC Persagi Jember, Bandot Bisowarno mengungkapkan, di setiap faskes baik pratama maupun lanjutan seharusnya ada minimal satu ahli gizi. Itu di samping petugas medis lain seperti dokter dan perawat. “Tetapi, ahli gizi harus punya surat tanda registrasi dan surat izin praktik,” ujarnya. 

Dengan berkembangnya zaman dan teknologi, tak sedikit masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat berbagai faktor. Salah satunya ketidakpahaman masyarakat tentang pola hidup setra diet makanan dan gizi. Inilah yang menjadikan peran Persagi sebagai konsultan gizi begitu penting.

Persagi, kata Bandot, terus mengoptimalkan sosialisasi mereka baik secara internal maupun eksternal organisasi. Secara internal, melalui keikutsertaan anggota tenaga ahli gizi dalam beragam seminar dan lokakarya. “Karena dalam seminar biasanya banyak info terbaru mengenai perkembangan gizi baik di Indonesia maupun internasional,” imbuhnya.

Sedangkan secara eksternal, melalui sosialisasi dan penyuluhan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Persagi kini sedang menyiapkan program kerja berupa partisipasi dalam desa binaan Persagi. “Ada usulan kita membuat desa binaan sebagai wilayah pembinaan gizi di masyarakat,” ucapnya. 

Nantinya yang melaksanakan adalah penanggung jawab di wilayah tersebut, terutama di daerah yang dianggap endemik beragam kondisi, misal gizi kurang. “Kita membantu dalam pemantauan dan pengawalan jika ada kondisi yang kurang optimal,” paparnya.

Jika ditilik dari jumlah, Jember bisa dikatakan memiliki cukup tenaga ahli gizi. Terlebih lagi, terdapat beberapa institusi pendidikan yang sudah memiliki jurusan ahli gizi di fakultasnya. Namun, tidak semua alumni jurusan tersebut bertugas di Jember. “Tidak semuanya dari Jember, sebagian mahasiswa berasal dari luar kota. Kendalanya adalah ketika mereka lulus, kembali ke kotanya,” imbuh Bandot.

Namun, tidak berarti tugas Persagi lantas berhenti. Seluruh tenaga ahli gizi terus memberikan sosialisasi mengenai asupan gizi di setiap kesempatan yang ada. “Termasuk di rumah sakit, puskesmas, posyandu, bahkan acara-acara kemasyarakatan,” pungkasnya. 

(jr/lin/ram/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia