Selasa, 19 Jun 2018
radarjember
icon featured
Rame-rame

Tak Boleh Kalah dengan Tradisi

Senin, 19 Feb 2018 06:15 | editor : Dzikri Abdi Setia

Persatuan Ahli Gizi, Radar Jember,

TURUN LANGSUNG KE MASYARAKAT: Untuk mengantisipasi hal tersebut, Persagi tak henti-hentinya memberikan pemahaman melalui kegiatan apa pun di mana pun. Termasuk ketika menggelar sosialisasi di car free day akhir Januari lalu. (PERSAGI JEMBER FOR RADAR JEMBER)

Di mata sebagian kecil masyarakat, praktisi ahli gizi masih belum menjadi tenaga kesehatan yang benar-benar dipandang. Tak sedikit masyarakat yang lebih percaya pada tradisi turun-temurun yang berasal dari orang-orang tua. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi ahli gizi yang bertanggung jawab atas angka kebutuhan gizi seimbang.

Bandot menuturkan, masyarakat masih belum bisa lepas dari budaya dan kebiasaan atau tradisi. Masih banyak orang-orang tua yang konservatif dan belum paham benar makna kebutuhan gizi pada masing-masing individu.  Misalnya, pada usia bayi di bawah satu tahun. Berdasarkan berbagai penelitian, minimal hingga usia enam bulan bayi hanya mengonsumsi ASI eksklusif tanpa ada asupan tambahan apa pun. 

“Tetapi banyak orang tua yang memberikan asupan tambahan yang sebenarnya masih belum bisa dikonsumsi,” imbuhnya. Ini tentu menjadi hal yang sangat serius. Sebab, sistem pencernaan bayi masih belum mampu memproses asupan lain selain ASI. Banyak juga yang beranggapan bahwa di masa lalu hal serupa juga diterapkan pada anak-anak dengan berbagai alasan. 

Persatuan Ahli Gizi, Radar Jember,

DPC Persagi Jember didirikan sejak 2009, lebih banyak memfokuskan aktivitas mereka pada konsep menjadikan gizi sebagai basis paradigma, pencerdasan bangsa, dan peningkatan produktivitas. Di Jember saa (PERSAGI JEMBER FOR RADAR JEMBER)

“Ada yang bilang, dulu dikasih ini itu toh sekarang tetap sehat,” kata Bandot. Padahal, informasi angka kebutuhan gizi sejatinya diperlukan bagi seluruh kalangan usia, mulai dari bayi hingga akhir usia senja. Bahkan, sejak sebelum hamil, calon ibu dan ayah harus mempersiapkan takaran gizi agar janin benar-benar sehat. 

“Salah satu indikator sehat adalah tercukupinya zat gizi yang seimbang. Sekarang nggak ada lagi istilah faktor keturunan, itu bukan faktor yang utama,” tegasnya. Bagi sebagian masyarakat, kata dia, yang telah memiliki pengetahuan memadai tentang kebutuhan gizi, program-program yang disosialisasikan oleh Persagi biasanya bisa dijalani dengan optimal. 

Salah satu sosialisasi umumnya disampaikan lewat posyandu. “Ada juga kartu ibu dan anak (KIA) yang menjelaskan tentang tingkat pertumbuhan anak dan kebutuhan gizi pada masing-masing periode. Kalau menuruti informasi di KIA, perkembangan anak pasti on the track,” jelas pria yang bertugas di Puskesmas Tanggul tersebut.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Persagi tak henti-hentinya memberikan pemahaman melalui kegiatan apa pun di mana pun. Termasuk ketika menggelar sosialisasi di car free day akhir Januari lalu. 

(jr/lin/ram/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia