Jumat, 22 Jun 2018
radarjember
icon featured
Features

Oce, Pemilik Persewaan Komik yang Mencoba Bertahan

Senin, 19 Feb 2018 10:10 | editor : Dzikri Abdi Setia

Persewaan Komik, Radar Jember,

KOLEKTOR 25 RIBU KOMIK: Oce jaga kios yang ada di Jalan Gatot Subroto, beberapa ratus meter dari Mapolres Jember. (Heru Putranto/Radar Jember)

Komik, musik klasik, dan seni lukis. Tiga hal itu tak terpisah dari kehidupan seorang Oce. Dari kios komik miliknya –yang kini menjadi satu-satunya di Jember- Oce setia melayani bisnis persewaan komik sembari memutar musik klasik kesukaannya. Menikmati keheningan di sudut keramaian jantung kota Jember. 

Suara musik jazz klasik racikan Tony Bennett terdengar mengalun indah dari sebuah kios yang disesaki ribuan komik. Debu-debu tak banyak menyertai di tumpukan 10 ribu komik yang ada di kios itu. Musababnya, sang empunya begitu cinta kepada ribuan komik yang nyaris seluruhnya telah khatam ia baca. 

“Musik jazz itu istimewa buat saya, enggak ada duanya. Bikin ayem dan juga konsentrasi,” tutur Oce, sang pemilik kios komik kepada Jawa Pos Radar Jember. Petang itu, seusai menjalankan salat maghrib, Oce begitu ramah berbincang dengan Radar Jember. Ia menggunakan namanya sendiri –Oce- sebagai nama kios komiknya.  

Selain Tony Bennett, Oce begitu menggilai maestro musik jazz lainnya. Mulai dari Andy William hingga Chick Corea. Musik-musik itu pula yang selalu menemani hari-hari Oce dalam menjaga kios persewaan komiknya. Nyaris, dia tidak pernah menutup komiknya. Buka saban hari, dari pukul 10 pagi hingga pukul 10 malam. 

 “Libur juga buat apa. Kalau pagi, sebelum buka kios, saya menyiapkan sarapan dan berbagai keperluan bagi ibu saya,” tutur Oce. Sang ibu memang tinggal persis di belakang dan menyatu dengan bangunan kiosnya yang ada di Jalan Gatot Subroto, beberapa ratus meter dari Markas Polres Jember. 

Saat ini, Oce menjadi satu-satunya kios persewaan komik yang tersisa di Jember. Suasananya pun berbeda dibanding ketika komik masih berjaya. “Pokoknya sejak era android, secara perlahan komik terus memudar,” tutur pria bernama asli Tosan Pangudi itu. 

Komik memang menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup Oce selain musik jazz. Dia mulai menjajal peruntungannya di bidang persewaan komik, usai pulang merantau dari Kalimantan. Waktu itu, Oce diajak berbisnis persewaan komik oleh tiga orang rekannya. Oce tak terlalu mengingat jelas nama lengkap mereka. Hal yang Oce ingat dengan jelas, kesamaan antara dia dengan ketiga rekannya adalah sama-sama berbintang Cancer.  

“Waktu itu saya diajak oleh Billah, Slamet, dan Eko. Billah ini master catur. Kalau Eko ini bisa dibilang bosnya, karena yang punya modal paling besar,” tutur Oce. Tahun 1993, mereka bersepakat untuk membuka bisnis persewaan komik, tak jauh dari kios Oce saat ini. Namun, karena terdapat perbedaan visi dari mereka berempat, usaha bersama ini tak berumur lama.

Meski bubar, Oce tetap melakoni bisnis persewaan komik. Tempatnya sama seperti kiosnya saat ini. Ia mengubah sebagian halaman rumahnya di Jalan Gatot Subroto nomor 17 untuk dijadikan kios persewaan komik. “Dulu rumah ini sempat jadi kantor bisnis ayah saya,” tutur Oce. Sang ayah meninggal saat Oce berusia 5 tahun. 

Menariknya, Oce membuka kios persewaan komik bersebelahan dengan bekas mitranya, Eko. Bedanya, Eko saat itu langsung menyewakan ribuan komik. “Banyak teman saya mengira, kok saya tega bersaingan langsung dengan Eko. Mereka tidak tahu, bahwa sebenarnya justru Eko yang menyarankan saya untuk melanjutkan bisnis persewaan komik,” tutur anak ke empat dari enam bersaudara ini sembari tertawa. 

Berbeda dengan sang kawan, Oce memulai usahanya dengan modal yang minimalis. Dia masih ingat saat itu hanya punya koleksi komik kurang dari 50 buah. “Makanya komiknya cuma saya jejer saja, saking sedikitnya. Saat itu, harga komik masih sekitar Rp 3 ribu saja,” kenang Oce. 

Membuka usaha dengan modal minimalis dengan pesaing yang jauh lebih unggul dirasa Oce menjadi pembelajaran mental yang sangat berharga baginya. “Dari situ, membuat saya lebih tahan banting dalam menjalani usaha ini,” cerita pria berdarah Jawa, Belanda, dan Tionghoa ini.

Meski demikian, setidaknya Oce memiliki nilai lebih dari usahanya ini. Yakni, dia tidak perlu mengeluarkan biaya sewa karena menempati halaman rumahnya sendiri. Kondisi ini yang menjadi salah satu penyebab sahabatnya, Eko memilih untuk gulung tikar dari bisnis persewaan komik di saat usaha itu masih prospek. 

 “Eko lalu menawarkan sekitar 3.500 komiknya kepada saya. Karena saat itu saya ada dana, jadi bisa saya beli,” tutur Oce. Dari situlah, awal kejayaan bisnis persewaan komik Oce bermula. Beberapa waktu kemudian, Putra Panglipur –salah satu kios persewaan komik di kawasan Mastrip- juga menawarkan koleksi komiknya kepada Oce. Pemiliknya memilih menjual sekitar 3 ribu komik kepada Oce dengan harga yang cukup terjangkau, sekitar Rp 3 juta. Penyebabnya karena pemilik kios Putra Panglipur harus pindah domisili ke Jawa Tengah. 

“Waktu itu saya cuma punya tabungan Rp 2,15 juta. Tapi dia mau, dan bahkan dapat bonus komiknya diantar pakai truk milik dia,” tutur Oce. Masa kejayaan persewaan komik dirasakan Oce sejak akhir tahun 1990-an hingga sekitar tahun 2010. Dari bisnis inilah, Oce bisa membeli mobil dan mencicil membangun sebuah rumah impian di kawasan Kebonsari. 

“Ini adalah bisnis pertama saya yang berhasil. Karena itu akan saya pertahankan, sampai kapan pun juga,” tutur Oce. Di masa kejayaan bisnis persewaan komik, Oce mampu mengalokasi belanja untuk membeli koleksi komik dan novel baru minimal Rp 3 juta setiap bulannya.

Kini, seiring meredupnya popularitas komik di kalangan generasi muda, Oce harus mengerem pengeluarannya. Meski demikian, Oce tetap menganggarkan dana untuk membeli koleksi komik, meski tidak sampai Rp 2 juta setiap bulannya. Hingga kini, koleksi komiknya ada hampir 25 ribu buah. Separuh di antaranya harus ia tampung di rumahnya karena kiosnya tidak muat. 

Sembari menjaga kios persewaan komiknya, Oce juga melukis. Seni lukis memang menjadi minat besarnya sejak masih bersekolah di SMAN 2 Jember. “Tetapi waktu itu saya dilarang mama untuk jadi pelukis. Teman-teman saya melukis sekarang sudah banyak yang jadi pelukis sukses,” tutur Oce. 

Meski demikian, beberapa lukisan karya Oce mampu menarik minat orang. Oleh karena itu, sempat terbersit dalam benaknya untuk menekuni usaha melukis. “Ada juga rencana mau jual sayur dan buah-buahan selain usaha melukis. Namun, persewaan komik harus tetap berjalan, karena saya percaya, usaha pertama itu harus dipertahankan,” ungkap Oce. 

Di tengah pesatnya era digital, Oce percaya bisnis persewaan komik masih memiliki pasar tersendiri. “Akan selalu ada orang yang membaca komik. Itu yang saya yakini,” pungkasnya. 

(jr/ad/hdi/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia