Jumat, 22 Jun 2018
radarjember
icon featured
Spotlight

Barongsai Bukan Hanya untuk Tionghoa

Selasa, 20 Feb 2018 08:15 | editor : Dzikri Abdi Setia

imlek, spotlight, radar jember

Sama seperti kesenian asing yang eksis di Indonesia, Barongsai, hadir karena migrasi warga Tiongkok ke Bumi Nusantara. Mereka ikut memboyong kesenian warisan leluhurnya, supaya tetap eksis meski kini mereka tak lagi tinggal di Tiongkok.

Menurut pegiat Barongsai Jember, Cornelius Bagus Nugroho Samuel, sejak awal Barongsai hadir di Indonesia sudah banyak diterima orang. Bukan hanya masyarakat Tionghoa. Mereka yang pribumi pun, juga gemar menyaksikan pertunjukan atraktif tersebut.

Masyarakat semakin banyak tahu Barongsai, karena setiap perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan -  yang saat itu masih ada, dipastikan memiliki perkumpulan Barongsai. Namun karena situasi politik di Indonesia tahun 1965, Barongsai pun berhenti karena tekanan.

Masa Orde Baru juga sempat membungkam eksistensi Barongsai di bumi pertiwi. Pemerintah saat itu melarang penampilan Barongsai. “Tetapi tidak untuk Semarang. Mereka di sana tetap berani tampil meski hanya saat Imlek,” ungkap pria yang akrab disapa Samuel. Pil pahit itu pun berakhir, setelah Indonesia memilih Reformasi di tahun 1998. 

Barongsai, kembali memperoleh tempat di hati masyarakat. Tabuhan musik khas dengan gerak atraktif dua pemain berperan singa, rupanya menjadi daya tarik hiburan masyarakat. Penggemarnya bukan hanya masyarakat Tionghoa. Mereka yang pribumi pun (istilah prareformasi, Red), tak kalah menggandrunginya.

Pun demikian dengan masyarakat Jember. Bahkan kata Samuel, masyarakat pribumi bukan hanya jadi penonton. “Seperti di Pasar Tanjung, perkumpulan Barongsai (Naga Langit) di sana pemainnya orang Jawa,” aku pria yang juga pengurus Dewan Kesenian Jember (DKJ) itu.

Membeli perlengkapan Barongsai, juga tak harus datang ke Semarang. Sebab di daerah Gebang, Kecamatan Patrang, Jember, juga ada perajin Barongsai. Mereka pun orang pribumi. Soal kualitas, diakui Samuel juga tak kalah dengan produk yang di Semarang.

Masih kata Samuel, Barongsai bukan hanya milik Tionghoa. Dia yang Kristen Jawa pun, sejak kecil sudah cinta Barongsai. Terlebih seperti pengalamannya, acara nikahan masyarakat muslim juga ada yang pernah mengundang Barongsai.

Bagi Samuel, Barongsai tak lain bagian dari aktualisasi berkesenian. Menghibur dan tentunya, ada pesan kebajikan di setiap gerakannya. Dia pun semakin bangga, karena Barongsai sudah diakui Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Sehingga katanya, bermain Barongsai juga menyehatkan. 

(jr/rul/sh/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia