Minggu, 24 Jun 2018
radarjember
icon featured
Features
Keuletan Pasutri Perajin Sangkar Ayam

Model Thailand Diminati Luar Pulau hingga Asia Tenggara

Kamis, 22 Feb 2018 11:25 | editor : Dzikri Abdi Setia

Perajin Sangkar Ayam, Radar Jember,

KREATIF: Uswatun menunjukkan hasil karya suaminya, berupa desain sangkar ayam dari Thailand yang tembus luar negeri. (WAWAN DWI/RADAR JEMBER)

Potensi bambu yang melimpah di Bondowoso tak membuat Kusnadi dan istrinya Uswatun berhenti mendesain sangkar ayam tradisional. Berbekal pengalaman pernah melancong ke luar negeri, Kusnadi pun membawa oleh-oleh membuat sangkar ayam desain Thailand dan kini tembus hingga Asia Tenggara.

Desa Mangli, Kecamatan Pujer, di tempat itulah Kusnadi dan Uswatun tinggal. Menuju desa tersebut, mata rasanya dimanjakan dengan puluhan bunga kertas dan tanaman sayuran yang ada di setiap pekarangan rumah serta bahu jalan.

Desa tersebut memang punya konsep kemandirian dalam hal ketahanan pangan. Di balik itu semua, sumber daya manusia (SDM) warga setempat juga mampu mandiri dan memaksimalkan tanaman bambu yang melimpah. Salah satunya adalah pasangan suami istri Kusnadi dengan Uswatun.

Setiap pembeli sayuran di Desa Mangli yang lewat depan kediaman Kusnadi selalu penasaran dengan anyaman bambu berbentuk bola dengan diameter sekitar 2 meter itu. “Ini sangkar ayam,” ujar Uswatun.

Sangkar ayam itu memang tak seperti sangkar ayam pada umumnya. Lebih besar, lebih kuat, dan lebih rumit konstruksinya. Persamaan sangkar ayam buatan Kusnadi dengan sangkar ayam tradisional hanya pada lubang di bagian atasnya.

Kusnadi hanya tersenyum dan merendah sangkar buatannya itu lain dari pada yang lain. Pria 29 tahun tersebut memang punya keuletan di bidang kerajinan tangan dari bambu. Keinginan memaksimalkan tanaman dengan batang berongga dan beruas-ruas lantaran melimpahnya bambu yang hampir ada di bantaran sungai. “Awalnya buat besek ikan, tapi nggak laku. Karena pembeli tahu sentra besek ikan ini di daerah Wringin dan Pakem,” ungkapnya.

Dia pun tak mau berspekulasi dan yang penting hasil karyanya tersebut laku, sehingga memilih membuat sangkar ayam. “Kalau buat anyaman seperti tempat tisu dan lainnya itu pemasarannya sulit,” terangnya.

Dibantu oleh istrinya, Kusnadi terus memproduksi sangkar ayam dengan desain tradisional. Kusnadi pun ingin sangkar ayamnya punya nilai tawar lebih dan ingin mencontoh sangkar ayam dari berbagai daerah. Namun, setiap berkeliling dari kota ke kota, sangkar ayam hanya begitu-begitu saja. 

Kusnadi yakin sangkar ayam yang berbeda itu diminati, apalagi jika sangkar itu kuat. Sebab, setiap pembeli yang juga pelaku adu ayam ingin punya sangkar ayam yang lebih besar dan kuat.

Hingga akhirnya Kusnadi teringat saat di Malaysia. “Waktu muda saya pernah ke Malaysia tapi bukan jadi TKI, dan pernah melihat sangkar ayam yang bulat dan besar. Ternyata model sangkar itu dari Thailand,” ujarnya. Berbekal itulah, dia mencoba membuat sangkar ayam dari Thailand yang ada dalam ingatannya itu.

Sekitar seminggu belajar dan menghabiskan puluhan batang bambu, akhirnya Kusnadi mampu membuat sangkar ayam desain Thailand. Produksinya sudah berjalan setidaknya dua tahun, pembeli dari berbagai daerah datang kepadanya. “Ada yang dari Bali, Pasuruan, Jogyakarta, Sulawesi, dan Madiun,” tambahnya.

Kusnadi pun tahu jika hasil karyanya juga laku di luar negeri. Di antaranya Malaysia, Brunei, termasuk Thailand. “Tahunya dari pembeli, menunjukkan sangkar ayamnya itu dijual lagi ke luar negeri,” imbuhnya.

Harga sangkar ayam model Thailand pun lebih mahal dari pada model tradisional. Jika tradisional harga Rp 100 ribu per buah, model Thailand pun dipatok Rp 250 ribu per buah. “Rata-rata sangkar ayam ini buat ayam aduan. Satu sangkar bisa menghabiskan dua batang bambu, jika yang tradisional tak sampai satu batang bambu sudah cukup,” pungkasnya.

(jr/dwi/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia