Jumat, 22 Jun 2018
radarjember
icon featured
Features

Rumah Pancasila di Tengah ‘Perang Dingin’ Pilkada Bondowoso

Sabtu, 24 Feb 2018 11:20 | editor : Dzikri Abdi Setia

Rumah Pancasila, Pilkada Bondowoso,

JAGA KERUKUNAN DENGAN KERJA BAKTI: Inilah salah satu kegiatan komunitas Rumah Pancasila Bondowoso. Organisasi yang berdiri sejak 2016 ini kerap berdiskusi tentang politik Bondowoso. (Sholikhul Huda/Radar Ijen)

Beberapa tim sukses melakukan berbagai terobosan untuk memenangkan calonnya dalam Pilkada Bondowoso. Rumah Pancasila yang diisi aktivis partai yang berbeda pun diuji selama pilkada ini. 

Diskusi ringan di Cafe Tjap Daun, di Jalan Pelita, Tamansari Bondowoso malam itu begitu mengalir. Sesekali di antara peserta diskusi sembari ngopi itu tertawa lepas. Sebagian peserta diskusi terlihat juga masih memakai atribut calon yang di usung masing-masing. 

Ada pendukung Salwa-Bachtiar ada juga pendukung Dhafir-Dayat. Rupanya, mereka mulai pagi memang belum sempat pulang karena acara calon.

Peserta diskusi malam itu adalah para anggota Rumah Pancasila, komunitas yang merupakan gabungan dari berbagai elemen masyarakat. Ada aktivis partai, Gusdurian, hingga para aktivis lintas agama.  

“Atribut teman-teman ini boleh beda, namun hati kami tetap menomorsatukan persatuan umat dan kemajuan Bondowoso,” kata Dr M Saeful Bahar, salah satu penggiat Rumah Pancasila Bondowoso. 

Nilai kerukunan dalam kemajemukan di Bondowoso, menurut dia, jauh lebih penting dari segalanya termasuk kepentingan pilkada. Apalagi, dengan adanya Rumah Pancasila mereka menjadi mengerti hal penting menyangkut umat yang itu mungkin tidak diketahui atau luput dari perhatian pemerintah. ”Seperti masih adanya masyarakat yang takut untuk membaur atau bergabung  dengan masyarakat lain karena trauma politik yang itu terjadi puluhan tahun lalu,” katanya. 

Di situlah mereka tampil, menggandeng dan melangkah bersama. ”Saya juga pernah diundang menjadi pemateri dalam sebuah diskusi di gereja. Di situ kami sampaikan sehingga membuka komunikasi yang selama ini tidak diketahui bersama,” katanya.

Sementara Sinung Sudrajat, salah satu aktivis Rumah Pancasila lainnya mengatakan, selama ini Rumah Pancasila berkonsentrasi pada kajian Pancasila. Salah satu programnya adalah ‘ngaji’ Pancasila.  Selama pilkada ini, tak dipungkiri jika beberapa anggota dari Rumah Pancasila adalah aktivis partai pengusung calon dalam Pilkada Bondowoso. 

”Namun, jika sudah bicara rumah Pancasila, kepentingan partai, kepentingan pilkada kami taruh semua. Kepentingan masyarakat luas dan kemajuan Bondowoso harus diutamakan,” kata Anggota DPRD Bondowoso ini.

Sementara Joni Adi Putra, salah seorang penggiat Rumah Pancasila lain menyebut, kegiatan yang mereka lakukan jalan terus dengan mengedepankan kepentingan Bondowoso. Seperti beberapa waktu lalu saat mereka memugar dan mempercantik monumen Pancasila di Jalan Desa Kembang, Tlogosari. Mereka melakukan pengerjaan pembersihan area monumen. Selain dibersihkan, monumen tersebut kembali dicat. 

Satu hal yang dijunjung seluruh aktivis itu, yakni demi merawat rasa nasionalisme. Sebab, monumen Pancasila merupakan simbol pengingat semangat Pancasila. “Pancasila adalah ideologi bangsa, sudah sepatutnya monumen Pancasila dirawat dan dijaga,” tegasnya. (mgc/hdi)

(jr/hud/hdi/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia