Senin, 18 Jun 2018
radarjember
icon featured
Spotlight

Anak Berkebutuhan Khusus Pasti Punya Kelebihan

Selasa, 06 Mar 2018 13:10 | editor : Dzikri Abdi Setia

Difabel, Spotlight,

Kurangnya kesadaran masyarakat mengenai kondisi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) menyebabkan mereka tidak bisa bebas bersosialisasi di tengah masyarakat. Padahal banyak ABK yang memiliki bakat tak ternilai, lebih dari anak-anak normal seusianya.

Padahal di balik kondisi tersebut, ada banyak potensi yang masih bisa digali lagi. Ada banyak keistimewaan yang dimiliki anak-anak autis di berbagai bidang, mulai dari kesenian hingga ilmu eksak.

Seperti yang dimiliki Komang Budi Widyastana, putra bungsu dari I Nyoman Sudira dan Ni Ketut Widyasih. Di balik kondisi autisme yang dimiliki, Nyoman menyadari ada beberapa kelebihan yang Komang miliki. Salah satu yang paling menonjol adalah kesenian, khususnya menggambar dan bermain musik. “Kalau dia menggambar dengan aplikasi di laptop, sampai berapa jam pun dia kuat. Kalau gambarnya dirasa belum sempurna, dia tidak akan puas dan betah untuk terus menyelesaikannya,” ujarnya.

Selain menggambar, musik menjadi hal kedua yang Komang senangi. Semenjak dikenalkan pada keyboard, Komang terus mengasah kemampuannya memainkan alat musik tersebut. “Selain di sekolah, saya juga menyediakan satu keyboard  di rumah,” lanjut Nyoman.

Cara belajarnya pun cukup unik. Komang terus mengombinasikan nada-nada dari tuts yang dia tekan, hingga menciptakan melodi baru dari lagu yang sudah ada. Semua itu dilakukan secara otodidak. “Kadang saya bilang ke Komang, kalau main musik yang benar, masa ditekan tidak beraturan begitu. Tapi ternyata itu cara dia berinovasi dengan lagi anak-anak yang asli, hingga akhirnya lagu yang dimainkan jadi lebih bagus,” kata Ketut.

Bahkan, ketika Komang diundang tampil di Malang dalam festival anak berkebutuhan khusus, dengan fasih remaja kelahiran 26 Juni 2001 tersebut memperkenalkan dirinya dengan bahasa Inggris. Namun begitu, untuk beberapa jenis pelajaran, Nyoman mengaku Komang tidak bisa dipaksa. Kalau sudah tidak suka, Komang tidak akan memperhatikan pelajaran tersebut sama sekali. “Paling dia lebih memilih gambar-gambar di bukunya, tapi tetap duduk di kursinya. Dia takut sama gurunya,” selorohnya.

Kondisi istimewa Komang baru diketahui dari kecurigaan Nyoman dan Ketut terhadap kondisi sang anak ketika umur empat tahun masih belum bisa berbicara. Bungsu dari tiga bersaudara ini divonis memiliki kondisi autisme. Padahal dilihat dari sisi fisik, pertumbuhan Komang jauh di atas rata-rata. Dibandingkan kedua kakaknya, Komang adalah anak yang sangat sehat. “Kami tergolong terlambat, karena baru menyadari kondisi Komang saat umurnya sudah lima tahun,” kata Nyoman.

Keterlambatan tersebut, kata Nyoman, salah satunya adalah pengaturan pola makan penyandang autis. Penyandang autis memiliki pengaturan pola makan yang harus benar-benar dijaga agar tidak memunculkan energi dari tubuhnya. “Ada beberapa pantangan dalam diet yang harus dijalani Komang,” tutur Ketut.

Beberapa makanan yang sama sekali tidak boleh dikonsumsi penyandang autis, kata Nyoman, adalah gula, susu sapi, terigu, hingga daging sapi. Jenis tersebut merupakan ‘golongan mayor’ yang benar-benar harus dihindari Komang. Sedangkan yang masih diizinkan dengan jumlah sangat terbatas antara lain buah-buahan.

Dari diet tersebut, ditambah dengan pendampingan yang dilakukan orang tua serta praktisi psikologi, lambat laun Komang mengalami perkembangan yang signifikan. Bahkan kemampuan Komang di beberapa sisi jauh melebihi anak normal seusianya. “Dia mengikuti pendidikan reguler ketika masih SD, dengan pendampingan dari sekolah inklusi. Namun karena saat SMP tidak boleh ada pendampingan, maka kami memasukkannya ke sekolah inklusi,” katanya.

(jr/lin/ras/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia