Jumat, 22 Jun 2018
radarjember
icon featured
Features
Kreativitas Mahasiswa KKN Unej

Ubah Kulit Singkong Jadi Kerupuk, Pernah Keracunan saat Uji Coba

Minggu, 11 Mar 2018 07:45 | editor : Dzikri Abdi Setia

KKN Unej, Universitas Jember,

PENUH INOVASI: Reni Soraya (dua dari kiri) bersama Ngesti Lovina, Berlinta, dan Ayu. Mereka pencetus ide kerupuk dari limbah kulit singkong saat KKN di Desa Jambe Wungu, Wringin Bondowoso. (istimewa)

Kuliah kerja nyata (KNN) di desa-desa sudah berlangsung puluhan tahun. Mahasiswa tak sekadar membantu pembangunan sarana dan prasarana desa. Tetapi, mereka juga memikirkan peningkatan perekonomian masyarakat lewat memanfaatkan limbah. Seperti dilakukan mahasiswa KKN Universitas Jember (Unej) yang telah mengubah kulit singkong jadi kerupuk.

Fardan, Amek Dwiki, dan Rian dengan wajah riangnya datang ke warung makanan yang ada di Jalan Semeru, Jember. Mereka adalah mahasiswa Universitas Jember dari berbagai fakultas. Masing-masing dari fakultas ekonomi, teknik, dan hukum. 

Pembicaraanya pun juga tak lepas dari desa, desa, dan desa. Ya, mereka baru saja turun dari tempat mereka KKN di Desa Jambe Wungu, Kecamatan Wringin, Bondowoso. “Ada 10 mahasiswa dalam satu kelompok KKN. Lima perempuan dan lima laki-laki,” kata Fardan sebagai Koordinator Kecamatan Wringin.

Desa yang di tempati KKN bisa dibilang jauh dari kata sejahtera. Mengandalkan pertanian, lahan persawahannya sedikit. Bahkan, lebih banyak tanah ladang. Bagi mahasiswa KKN, tentu berfikir bagaimana meningkatkan perekonomian masyarakat. Namun, kendalanya adalah waktu dan anggaran yang terbatas. “KKN itu diberi jangka waktu. Dana kami juga minim, namanya saja masih mahasiswa,” ujarnya.

Meski dengan keterbatasan tersebut. Fardan dan rekan-rekannya tak menyerah begitu saja. Melihat industri rumahan warga Jambe Wungu sebagai pembuat tape dan kripik singkong, seketika itu pula ada inspirasi memanfaatkan limbah singkong. Yakni, bagian kulitnya yang terbuang cuma-cuma. 

“Waktu itu yang usul adalah teman dari Fakultas Teknik Pertanian (FTP), Reni Soraya. Kulit singkong sama masyarakat hanya untuk pakan ternak, tidak ada nilai ekonomi lebih,” jelas Fardan.

Pria asal Banyuwangi ini menjelaskan, Jambe Wungu telah dikenal sebagai sentra tape dan kripik singkong di Kecamatan Wringin. Selain itu, tanaman singkong banyak dijumpai ladang hingga pekarangan rumah. Sehingga, kata Fardan, masyarakat sudah terbiasa dengan tanaman umbi-umbian.

Sosialisasi ke warga untuk memanfaatkan kulit singkong pun mudah dan diterima. Warga desa setempat selalu antusias saat ada mahasiswa KKN yang hadir. Namun, kendala saat pertama kali membuat adalah sulitnya mendapatkan kulit singkong. “Jadi, waktu itu cari kulit singkong agak susah, karena di Desa Jambe Wungu singkongnya belum panen,” kata Amek, Koordinator Desa Jambe Wungu.

Untuk mendapatkan kulit singkong, mereka harus menunggu kiriman singkong yang masuk ke perajin tape dan keripik di Desa Jambe Wungu. Setelah mendapatkan kulit singkong, proses pembuatan begitu mudah. 

Pertama, kulit singkong itu direndam dalam air untuk memisahkan antara kulit berwarna coklat dengan putih. Setelah kulit coklat terpisah, kemudian kulit itu digiling. “Awalnya kami salah, bukan di-blender, tapi dihaluskan di tukang selep. Selepnya juga kotor karena bekas selepan kopi,” kata Amek.

Setelah kulit halus, baru dicampur dengan adonan dari tepung tapioka yang sebelumnya telah diberi bumbu seperti bawang merah dan bawang putih. Cara membuatnya pun mudah, adonan yang telah dicampur tersebut dikukus terlebih dahulu. Setelah itu, dipotong tipis-tipis dan dijemur di bawah sinar matahari. “Selanjutnya ya tinggal digoreng dan dimakan,” ujar Amek.

Kerupuk yang siap dimakan pun tak sesuai harapan. Sedikit ada rasa pahit-pahitnya, tetapi tetap saja dimakan oleh delapan mahasiswa KKN di Desa Jambe Wungu. “Habis makan kepala rasanya berat, pengen tidur dan mulai batuk-batuk,” imbuhnya.

Tidak hanya Amek dan Fardan saja yang mengalami hal sama, semua temannya mengalami hal serupa. “Ternyata, kami semua keracunan. Sebelumnya, kami memang mengetahui kulit singkong itu mengandung unsur sianida. Berhubung belum tahu berapa lama waktu yang tepat merendam kulit singkong untuk menghilangkan sianida,” Amek.

Meski gagal total, Amek dan temannya tak menyerah dan telah menemukan cara untuk menghilangkan sianida. “Kulitnya direndam dulu dengan air garam selama dua hari dan setiap hari harus diganti dengan air garam yang baru. Jika tidak ada air garam, maka direndam air biasa selama tiga hari dan tetap diganti air setiap hari. Selanjutnya dibilas,” imbuhnya. Sekarang, kerupuk kulit singkong enak dimakan, tidak lagi terasa pahit. Untuk mengetahui cara apakah masih ada unsur sianida atau tidak, tambah dia, usai direndam, kulit singkong yang berwarna putih bebas sianida. Sedangkan warnanya keungu-ungunan atau kehitam-hitaman masih ada unsur sianida.

Saat ini, kerupuk dari kulit singkong tersebut telah jadi komoditas baru warga Jambe Wungu, selain tape dan kripik. Setiap ada tamu di balai desa juga menyajikan kerupuk kulit singkong tersebut. “Rata-rata, setelah membuat itu langsung habis. Karena masyarakat juga suka, bahkan dipakai sebagai pengganti lauk,” pungkasnya. Sebagai orang Tamanan, Bondowoso, Amek baru tahu kulit singkong itu bisa dimanfaatkan lebih. (mgc/hdi)

(jr/dwi/hdi/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia