Rabu, 20 Jun 2018
radarjember
icon featured
Rame-rame
Komunitas Pemberdayaan Perempuan Pasar Kita

Dimulai dari Pemberdayaan Ekonomi, Ada di Tiap Kecamatan

Senin, 12 Mar 2018 10:10 | editor : Dzikri Abdi Setia

Komunitas Pemberdayaan Perempuan Pasar Kita,

SALING MENDUKUNG: Anggota Pasar Kita yang semuanya perempuan ini saling menguatkan untuk bisa mencapai perempuan yang mandiri. (Pasar Kita for Radar Jember)

Kemandirian perempuan baru tercapai jika ekonomi bisa dipenuhi. Inilah yang menggerakkan Tri Sulistiani membuat Komunitas Pasar Kita. Perempuan diharapkan lebih berdaya dengan kemandirian ekonomi. Komunitas ini lambat laun semakin banyak diikuti oleh masyarakat.

Terbentuknya Komunitas Pasar Kita ini sebenarnya tidak disengaja. Yakni, berawal dari banyaknya kasus kekerasan perempuan di Jember. Hal ini membuat Tri Sulistiani, guru Matematika SMAN 1 Balung Jember menjadi tergerak. Ternyata, banyak korban tidak berani bercerita kekerasan yang dialaminya, apalagi sampai melapor kepada pihak kepolisian.

Sulis sebelumnya sudah banyak bergabung di gerakan perempuan sejak 1994. Bahkan, tahun 2000 dirinya menggagas GPP (Gerakan Peduli Perempuan) Jember. Yakni, lembaga nirlaba yang mengadvokasi korban kekerasan, perkosaan, dan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). “Saat itu, kami mendampingi kasus sebisanya dan seadanya,” jelasnya. Waktu itu, pihaknya tidak memiliki pengacara. 

Namun, kemudian ada kasus yang membuat dirinya sadar. “Kasus teman saya sendiri. Dia mengalami KDRT tetapi tidak berani melaporkan dan menceraikan suami keduanya,” jelasnya. Bahkan, anak perempuannya hampir diperkosa suami keduanya itu, namun dia tetap tidak melaporkannya.

“Kejadiannya terus sampai lima tahun seperti itu,” jelasnya. Akhirnya, ketika anaknya lulus dan diterima bekerja sebagai pegawai, rekannya ini berani menceraikan suaminya. Alasannya, kini ada tulang punggung yang menjadi sandaran hidup bagi rekannya itu. Dari kasus ini, dia memahami jika ketidakberdayaan perempuan dalam kasus kekerasan kebanyakan karena masalah ekonomi. 

“Mereka takut besok makan apa? Mereka khawatir susah jika tidak memiliki suami,” jelasnya. Sehingga, kebanyakan perempuan yang mengalami kekerasan memutuskan tetap bertahan mempertahankan perkawinannya karena alasan ekonomi. Namun, Sulis menjelaskan bahwa itu bukan satu-satunya, namun kebanyakan demikian. 

“Rata-rata yang bertahan menderita karena selama ini hanya menjadi ibu rumah tangga,” jelasnya. Perempuan yang tidak memiliki penghasilan inilah yang takut dan terpaksa diam saja dipukuli, dihina, karena perempuan takut dicerai.

Akhirnya, di akhir tahun 2016, dirinya mendirikan grup WA Pasar Kita (grup niaga online). “Anggotanya khusus perempuan,” tegasnya. Grup ini terdiri dari masyarakat beragam latar belakang pekerjaan, pendidikan. Banyak juga ibu-ibu yang hanya berdiam di rumah. “Juga yang dokter, guru, tukang ojek, tukang pijat, penjual makanan ringan, dan sebagainya,” jelasnya. 

Namanya pasar, maka semua bisa berjualan di grup, yang penting tidak berjualan MLM dan diutamakan produk sendiri. Kadang, jualan seadanya yang dimiliki atau produk yang dihasilkan. “Bahkan, ada yang jualan sambal buatan sendiri, kini sudah mengirim ke banyak daerah,” ucapnya. Selain meningkatkan kemandirian ekonomi, dia juga meningkatkan kepercayaan diri perempuan dalam pengambilan keputusan. 

Inisiasi itu juga untuk menyediakan service system bagi perempuan yang bisa mempermudah kehidupan perempuan. Misalnya memiliki bayi, sedang sakit, atau lansia, maka tetap bisa dapat membeli makanan dari rumah. Kini bukan hanya untuk berniaga saja, melalui grup WA ini, para anggotanya juga bisa saling bertukar informasi dan saling curhat masalah sehari-hari bagi perempuan. 

Apalagi, dalam grup ini, juga banyak bantuan, seperti bisa memanggil layanan laundry, bersih-bersih rumah, antar ke dokter dan sebagainya. Kadang, juga berdiskusi tentang kesehatan dan sebagainya.

(jr/ram/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia