Kamis, 21 Jun 2018
radarjember
icon featured
Rame-rame
Komunitas Pemberdayaan Perempuan Pasar Kita

Berkasus, Ada Pendampingan LBH

Senin, 12 Mar 2018 10:50 | editor : Dzikri Abdi Setia

Komunitas Pemberdayaan Perempuan Pasar Kita,

BANTUAN HUKUM: Selain meningkatkan kemandirian ekonomi anggotanya, Pasar Kita menyediakan Lembaga Bantuan Hukum Jentera Perempuan bagi anggota yang mengalami masalah hukum. (Pasar Kita for Radar Jember)

Bukan hanya sekadar memberikan dukungan untuk mandiri secara ekonomi saja, namun Komunitas Pasar Kita Jember ini memiliki benteng terakhir jika menghadapi hal terburuk. Apalagi, anggotanya banyak yang berlatar aktifis perempuan, maka tidak meninggalkan tugas utama melindungi perempuan yang ada, utamanya dari kasus hukum.

Akhirnya, dia mengumpulkan anggota Pasar Kita yang sarjana hukum, pengacara, paralegal untuk mendirikan sebuah lembaga yang bisa memberikan pendampingan secara resmi kepada anggota perempuan yang mengalami masalah hukum. “Kebetulan memang di grup ini ada beberapa pengacara, sarjana hukum, dan lisensi beracara serta yang Magister Hukum,” jelas Sulis, pencetus Komunitas Pasar Kita Jember ini. 

Mereka mendirikan LBH Jentera Perempuan. “Dari kata Jentera yang berarti roda-roda yang bekerja berputar untuk perempuan,” tegasnya. Nama-nama yang tergabung antara lain Yamini Soedjai, Solehati Novitasari, Ema Kemalawati, Fitriyah Fajarwati, dan Ratna Wilis. Mereka siap memberikan pendampingan kepada masyarakat.

Bahkan, sebagai bentuk pengabdian, LBH ini memberikan layanan bantuan hukum untuk anggota Pasar Kita yang bermasalah secara gratis. “Antar perempuan harus saling mendukung. Jika terjadi kekerasan, maka harus saling peduli dan membantu,” ucap Sulis menyebutkan idiomnya.

Sebenarnya, LBH ini baru terbentuk 3-4 bulan terakhir. Namun, banyak anggota Pasar Kita yang melaporkan dan berkonsultasi masalah hukum yang dihadapinya. “Ada sekitar 15 kasus yang kini ditangani,” jelasnya. Utamanya, kekerasan kepada perempuan, perceraian, hamil di luar nikah, dan KDRT.

Dirinya mengaku, kebanyakan perempuan ini masih takut untuk melangkah maju. Sehingga, diperlukan pendampingan dari pihaknya untuk menguatkan mental mereka. Bahwa perempuan sebenarnya juga memiliki hak yang sama untuk mandiri. Oleh karena itu, ke depan pihaknya akan terus mengajak perempuan Jember untuk bisa mandiri.

(jr/ram/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia