Selasa, 19 Jun 2018
radarjember
icon featured
Pendidikan

Santri Harus Merawat Perbedaan

Selasa, 13 Mar 2018 05:05 | editor : Dzikri Abdi Setia

Santri Nurul Jadid,

HARGAI PERBEDAAN: Pengasuh Ponpes Nurul Jadid KH Zuhri Zaini saat menjadi penceramah pertemuan alumni PPNJ. (Bagus Supriadi/Radar Jember)

Perbedaan merupakan rahmat yang harus disyukuri dan  bukan menjadi alasan untuk berpecah belah. Untuk itulah, para santri memiliki tanggung jawab untuk terus merawat perbedaan tersebut di tengah keberagaman Indonesia.

Pesan yang disampaikan oleh Pengasuh Ponpes Nurul Jadid KH Zuhri Zaini dalam kegiatan pertemuan alumni PP Nurul Jadid di Desa/Kecamatan Tanggul Minggu (11/3). Kegiatan rutin tiga bulan sekali  itu dihadiri ratusan para alumni yang tersebar se Jember. 

“Alumni harus melanjutkan perjuangan kiai, terutama  Alm  KH Zaini Abdul Mun'im,” katanya. Perjuangan itu mulai dari berbagai bidang sesuai dengan pekerjaan yang sedang ditekuni. Namun, tetapi dibawah naungan organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Para kiai, kata dia, selalu  istikamah memperjuangkan NU karena paling sesuai dengan Islam Nusantara. Yakni Islam  tawassuth  atau moderat dan menghargai segala jenis perbedaan. Seperti yang sudah dilakukan oleh  Nabi Muhammad SAW yang tertuang dalam piagam madinah. 

Sekarang, lanjut dia, mulai tumbuh bibit kelompok  yang ingin merongrong NU dan keutuhan NKRI. Untuk itulah, alumni santri harus menghindari dan  menentang kelompok-kelompok tersebut. Sebab ingin melakukan pecah belah. “Indonesia masih aman dari perang saudara seperti yang terjadi di Afghanistan,” tuturnya. 

Kerukunan yang selama ini sudah berlangsung, harus dijaga dan dilestarikan bersama. Apalagi sekarang masuk tahun  politik. “Alumni bebas menyalurkan aspirasi politik lewat mana saja, yang terpenting satu tujuan dan menggunakan kendaraan yang mengarah pada tujuan yang sama,” jelasnya. 

Sebab,  hampir semua partai politik  lebih berorientasi program  dan figur, bukan lagi pada ideologi. Kendati demikian, berpolitik juga bukan alasan untuk tidak menghargai perbedaan yang ada. Namun, tetap saling menghormati. “Alumni harus kompak  dan bersatu, meskipun berada d tempat atau bidang kehidupan yang berbeda-beda,” paparnya. 

Perbedaan pendapat merupakan  hal yang wajar,  terpenting harus saling menghargai perbedaan  menjauhi  perpecahan. Dalam berjuang, para alumni santri menyesuaikan dengan keahlian bidang masing-masing. “Misal dalam ekonomi birokrasi,” ujarnya. 

Sementara itu,  Endra Hardianto, ketua panitia kegiatan menambahkan pertemuan alumni itu untuk memperkuat ikatan silaturahmi para alumni Ponpes Nurul Jadid. Untuk pengembangan ekonomi, para alumni sepakat membentuk koperasi Baitul Mal Wattanwil (BMT). “Kemudian juga makan nasi tabhek bersama,” pungkasnya.

(jr/gus/wah/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia