Sabtu, 23 Jun 2018
radarjember
icon featured
Spotlight

Yang Penting Dapat Uang

Selasa, 13 Mar 2018 07:15 | editor : Dzikri Abdi Setia

Perda Kos-Kosan Memble, Spotlight Kos-Kosan,
Berita Terkait

Banyaknya rumah kos yang dijadikan sebagai tempat melakukan perbuatan tidak senonoh karena kurangnya kepedulian para pemilik kos. Bagi mereka, yang penting uang bulanan lancar. Tak heran, banyak beberapa rumah kos berubah jadi tempat mesum. 

Kondisi ini tentu memprihatinkan. Beberapa tokoh agama juga prihatin dengan perkembangan moralitas para pemuda. Sebab, tak hanya perbuatan zina yang dilakukan, tetapi juga mengonsumsi minuman keras dan obat terlarang.

“Jember kota religius, Jember kota santri yang banyak pesantren,”kata M. Noor Harisuddin, Katib Syuriah PCNU Jember. Meskipun, secara umum moralitas di Jember, seperti di daerah pedesaan masih jauh lebih baik. Nilai-nilai keagamaan masih mewarnai kehidupan masyarakat Jember.

Perkembangan teknologi yang pesat, kata dia, masih tetap bisa difilter dengan nilai religiusitas. Para pemuda masih bisa memanfaatkan dengan baik. Namun bukan berarti aman dan terkendali, sebab tantangan moralitas para pemuda semakin berat ke depan. 

Tantangan perkembangan dunia global  lebih berat.  Internet dan media sosial sudah tidak bisa dilepaskan oleh para pemuda, misal mahasiswa. Bila tidak dibekali dengan benteng yang kuat, bisa mengubah karakternya. “Kita memasuki dunia terbuka yang dahsyat,” tegasnya.

Hal itulah yang menjadi salah satu faktor munculnya pergaulan bebas, hubungan sejenis, narkoba, dan lainnya. Contoh kecil, perkembangan rumah kos semakin memprihatinkan. “Ini semakin liar karena pemilik kos tidak peduli terhadap moralitas anak kos,” jelas pengasuh Ponpes Darul Hikam Kaliwates tersebut. 

Kebanyakan para pemilik kos hanya mementingkan materi, yang penting dapat uang. Akhirnya rumah kos longgar, sehingga terjadi hubungan  zina di rumah kos tersebut. “Tokoh agama punya peran untuk berdakwah secara persuasif,” ujar dosen Fakultas Syariah IAIN Jember tersebut. 

Kemudian, lanjut dia,  melakukan kerja sama dengan tokoh di lingkungan setempat. Karena kalau pengawasan lingkungan ketat, kemungkinan tidak akan terjadi hubungan yang dilarang di dalam rumah kos.

“Perlu juga tokoh agama mendirikan pesantren di sekitar kampus. Ini sebagai benteng moral juga,” imbuhnya.  Selain itu, tokoh agama bekerja sama dengan pemerintah untuk menanggulangi ini. Tak hanya itu, peran warga sekitar yang berada di lingkungan rumah kos juga penting.

Para pemilik kos juga tak hanya untuk mencari uang, tetapi juga membina para mahasiswa dan anak kosnya.  Sehingga, tidak  membiarkan anak kos yang nakal. “Warga sekitar kos tidak boleh cuek dengan keadaan anak kos,” harapnya. 

Mereka bisa mengajak para penghuni kos  terlibat dalam kegiatan positif, seperti  kerja bakti, kegiatan pengajian atau acara di lingkungan sekitar. Sesama anak kos juga harus saling mengingatkan, agar tidak melakukan tindakan amoral,” pungkasnya.

(jr/gus/ras/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia