Senin, 18 Jun 2018
radarjember
icon featured
Spotlight

Rumah Cupang, Rumah Kos tanpa Induk Semang yang Produktif

Selasa, 13 Mar 2018 07:40 | editor : Dzikri Abdi Setia

spotlight kos-kosan, rumah cupang,

KOMPAK: Rumah tanpa induk semang, bisa menjadi wahana bagi anak muda untuk berkreasi mengembangkan potensi. (JBC for Radar Jember)

Tinggal di rumah kontrakan yang bebas dari induk semang, menjadi alternatif bagi mahasiswa atau lajang, di samping tinggal di kos atau pesantren. Tak jarang, pilihan itu menimbulkan stigma karena kebebasan tanpa pengawasan bisa disalahgunakan oleh anak muda. Namun, sejumlah anak muda di Jember memilih tinggal mengontrak sembari mengembangkan hobinya dengan profesional dan terorganisasi:  ikan cupang. 

Sekilas, tak ada yang tampak berbeda dari sebuah rumah mungil yang ada di Perumahan Mastrip Blok P No 6 itu. Bercat putih, dengan sebuah pohon yang cukup rindang di depan rumah tersebut. Nuansa berbeda akan terasa begitu kita membuka pintu halaman rumah. Dari teras yang tidak terlalu besar hingga ruang tamu dan terus hingga ke belakang, ratusan kotak aquarium yang terbuat dari bahan kaca, memenuhi sisi-sisi rumah. 

 “Karena kita memang hobi ikan, khususnya cupang mas,” tutur Dimas Arifianto, salah satu penghuni rumah tersebut. Dua cangkir kopi menemani perbincangan Dimas dengan Jawa Pos Radar Jember pada sore itu. 

Kotak aquarium tersebut hampir seluruhnya berukuran kecil, sesuai dengan kebutuhan ikan cupang jantan yang harus hidup soliter. Perkecualian untuk ikan cupang varian Giant yang membutuhkan ruang lebih besar, serta ikan cupang betina yang bisa digabungkan dengan sesamanya. 

Selain Dimas, rumah kontrakan tersebut dihuni juga oleh dua orang rekannya sesama anak muda, yakni Stingky Ariadi dan Bagus Cahyo Nugroho. Ketiganya berasal dari latar belakang yang berbeda, namun disatukan oleh satu hal yang sama: hobi akan ikan cupang. 

Ketiga anak muda itu termasuk dalam deretan pentolan pegiat ikan cupang di Jember. Karena kesamaan visi itulah, ketiga anak muda ini memutuskan untuk mengontrak di rumah yang sama. Tidak sekadar tinggal bersama, tetapi juga berkarya bersama. 

“Rumah ini kami jadikan base-camp, tempat kumpul-kumpul dengan sesama penghobi ikan cupang di Jember. Nama komunitasnya Jember Betta Community (JBC),” jelas pria yang lulus dari Jurusan Sistem Informasi Universitas Jember pada 2016 lalu itu. 

Pada tahun lalu, Stingky Ariadi dipercaya sebagai ketua JBC. Adapun Dimas dan Bagus sudah lebih dulu kenal karena satu angkatan di jurusan Sistem Informasi Unej. “Kalau Mas Stingky kenalnya ya di JBC. Dia kerja di salah satu perusahaan jasa pengiriman,” tutur Dimas. 

Ide untuk kontrak rumah bersama yang sekaligus dijadikan wahana pengembangan hobi ikan cupang terlontar karena mereka bertiga kos di tempat yang terpisah dan masa sewanya akan segera habis. “Saya pikir, ya sudah sekalian aja kita ngontrak bersama. Sekalian juga untuk mengembangkan hobi cupang,” jelas pria asal Pamekasan, Madura ini. 

Beberapa kegiatan juga dilalui tiga pemuda tersebut terkait hobi cupang. Salah satu yang menarik adalah kegiatan nyerok atau mencari jentik nyamuk dan kutu air (semacam cacing sutra) yang biasa mereka lakukan di got-got dekat rumah warga. “Kadang dianggap aneh, karena kita sudah dewasa masih melakukan kayak gini. Tetapi kalau sudah dijelaskan, orang-orang akhirnya paham,” tutur Dimas. 

Memberi makan ikan dengan pakan buatan pabrik memang lebih praktis karena tinggal membeli di toko dengan harga yang tidak mahal. Tetapi sebagai penghobi cupang sejati, mereka lebih mengutamakan pakan alami, demi mendapatkan cupang dengan kualitas yang ideal. “Cacing sutra dan jentik nyamuk yang kita dapatkan di got, juga kita bersihkan lebih dulu. Ikan cupang yang diberi pakan alami, pertumbuhannya akan lebih bagus dan memenuhi kriteria kontes,” ujar pria yang kini bekerja sebagai tenaga kontrak di BPKAD Pemkab Jember itu.

Karena itu, selain bertebaran ratusan aquarium ikan cupang, rumah tersebut juga dijadikan titik kumpul dari anggota JBC. “Setiap minggu kita kumpul di sini. Sambil ngopi-ngopi kita ngobrol dan sharing seputar ikan cupang. Misalkan berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar tips merawat dan membudidayakan ikan cupang yang ideal,” cerita Dimas. 

Meski rumah tinggalnya dijadikan tempat jujugan anggota lain, mereka bertiga sama sekali tidak merasa terganggu. “Karena kita sudah sama-sama akrab gara-gara cupang. Kebetulan di sini kamar cuma dua, saya sekamar dengan Bagus,” tutur Dimas. 

Selain kopdar, rumah kontrakan ini juga dijadikan kegiatan rutin JBC yang lain, yakni Liga Kontes Cupang yang digelar setiap sebulan sekali. Sejak memiliki base camp sendiri, jumlah peserta yang ikut terus bertambah. “Terakhir bulan lalu mencapai 110 ikan cupang yang ikut. Karena itu, mulai bulan depan, kita pindahkan ke Pasar Ikan di Gebang. Kita sudah sewa tempat di sana,” jelas Dimas. 

Pemindahan itu antara lain karena lokasi di rumah Mastrip kian tidak mencukupi, khususnya tempat parkir. Setiap kali mereka mengadakan kontes, motor peserta yang parkir bisa sampai meluber. Meski demikian, hal itu tidak sampai diprotes oleh tetangga. 

“Tetangga malah mempersilakan dan membantu kita untuk dapat izin dari Takmir agar motor-motor peserta bisa diparkir di halaman masjid,” jelas Dimas. Menjadi salah satu pusat keramaian, respons tetangga sekitar terhadap kegiatan di rumah ini justru cukup positif. Setiap akhir pekan misalnya, banyak anak tetangga yang main ke rumah mereka. Selain melihat-lihat keindahan ikan, beberapa anak itu juga banyak yang membeli ikan cupang dari base camp JBC. 

“Karena kita bertiga juga membudidayakan ikan cupang. Sebenarnya kita pangsa pasarnya untuk orang dewasa, tetapi kita juga sediakan sedikit stok untuk anak-anak dengan harga yang cukup murah, yakni Rp 10 ribu hingga Rp 35 ribu,” tutur Dimas. 

Beberapa tetangga juga kadang membantu kegiatan yang digelar JBC di rumah tersebut. “Pernah kita adakan buka bersama JBC. Tetangga ada yang bantu sediakan minuman,” jelas pria kelahiran Pamekasan, 3 Juli 1993 itu. 

Tinggal bersama di rumah yang dijadikan base camp tanpa induk semang, dirasakan Dimas tidak hanya memuaskan hobi mereka akan ikan cupang. Tetapi juga mengasah kemampuan berorganisasi mereka. “Seperti kita adakan kegiatan di Pasar Ikan Gebang besok. Koordinasinya lebih mudah,” tutur Dimas. 

Selain itu, mereka juga lebih optimal dalam menjalankan bisnis budidaya ikan cupang. “Kemarin saya jual dua ekor ikan cupang kualitas kontes ke Malaysia. Karena pembayarannya pakai Pay Pal, jadi harganya dikonversikan ke dolar. Tiap ekor harganya 33 dollar Amerika,” pungkas Dimas.  

(jr/ad/ras/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia