Sabtu, 23 Jun 2018
radarjember
icon featured
Sports

Banyak Atlet Yang Lari Begitu Berprestasi

Selasa, 13 Mar 2018 13:15 | editor : Dzikri Abdi Setia

Pecatur Lumajang,

TIDAK LOYAL: Ada tiga pecatur berprestasi asal Lumajang yang lebih memilih membela daerah lain dengan berbagai alasan. (Fendi for RAME)

Beberapa pecatur Lumajang memilih hengkang begitu prestasinya mulai gemilang. Tidak kurang tiga pecatur berbakat asal Lumajang kini resmi lebih memilih membela daerah lain. 

Fendi, salah satu pembina cabang olahraga (cabor) catur Kabupaten Lumajang mengemukakan, dua dari tiga pecatur yang hengkang dari Lumajang adalah Fariha Muriroh dan Meriatul Qibtiyah yang sempat menorehkan emas di kejuaraan nasional (kejurnas) catur. Sementara satu yang lainnya sempat melenggang di PON 2017, kendati hanya mendapat perunggu. 

"Agus Kurniawan dapat perunggu di PON. Khusus Agus, alasannya dia membela Probolinggo, karena waktu minta izin ke sekolahnya untuk ikut PON, tidak dikasih. Akhirnya dia pindah sekolah ke Probolinggo," ujarnya. 

Sebelum membela kabupaten sebelah, kata Fendi, prestasi yang ditorehkan Agus bagi percaturan Lumajang sudah cukup gemilang. Dia sempat memberikan emas kejuaraan provinsi (kejurprov) bagi Kota Pisang. 

Fendi mensinyalir faktor reward menjadi salah satu hal yang melunturkan loyalitas mereka kepada tanah tumpah darahnya. Kabupaten lain dianggap lebih basah. Kota besar seperti Surabaya dan Malang sudah berani mengganjar satu perolehan emas dengan Rp 25 juta. Sementara jika tetap di Kabupaten Lumajang, para pecatur berbakat itu hanya akan mendapatkan Rp 6 juta untuk satu medali emas. "Apresiasi daerah lain lebih besar," ucap pria berjanggut itu. 

Tidak gampang mencari bibit pecatur unggul di Lumajang. Hingga sejauh ini, kata dia, eksistensi klub-klub catur belum nampak di kota ini.  Padahal, imbuh Fendi, pengasahan skill catur usia dini paling gampang didapat melalui klub catur. 

Sementara, satu-satunya tempat penggemblengan yang ada di Lumajang hanyalah puslatkab, yang diadakan menjelang berlangsungnya event pertandingan. "Selain itu hanya lewat warung-warung. Tapi model seperti itu tidak terarah pelatihannya," pungkasnya. 

(jr/was/aro/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia