Senin, 18 Jun 2018
radarjember
icon featured
Radar Jember

Kerja Berat Capai Target 60 Persen

Selasa, 13 Mar 2018 15:45 | editor : Dzikri Abdi Setia

KPU Jember,

Komisioner KPU Jember Divisi SDM dan Partisipasi Masyarakat Ahmad Hanafi (Rangga Mahardika/Radar Jember)

Komisi Pemilihan Umum Jember memiliki tugas berat dalam Pilkada 2018 kali ini. Bagaimana tidak, mereka menetapkan target keikutsertaan masyarakat Jember sampai 65 persen dalam pilkada kali ini. Padahal, dalam Pilkada Bupati Jember pada 2015 lalu, partisipasi masyarakat Jember hanya 52 persen.

Hal ini disampaikan oleh Komisioner KPU Jember Divisi Sumberdaya Manusia dan Partisipasi Masyarakat Ahmad Hanafi kemarin. Dirinya mengatakan KPU Jember memang memiliki tugas berat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pilkada, apalagi pilkada  provinsi. Pasalnya, untuk tingkat kabupaten saja, kemarin keikutsertaan cukup sedikit. 

Oleh karena itu, pihaknya menambah target dalam pilkada ini tidak terlalu banyak. “Kalau pilbup kemarin hanya 52 persen. Pilkada pilgub ini kita targetkan kalau bisa di atas 60 persen,” jelas Hanafi. Jika beruntung bisa sampai 65 persen, meskipun tidak mudah.

Ada beberapa strategi untuk meningkatkan partisipasi pemilih ini. Salah satunya menggencarkan dan mengevaluasi strategi sosialisasi pada masyarakat. Pihaknya memberi standar kepada Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP) yang melakukan coklit ke rumah-rumah warga.  “Selain coklit juga melakukan sosialisasi penyelenggaraan Pilgub 2018,” kata Hanafi. Jadi, tidak ada alasan warga mereka tidak mendapatkan informasi terkait pilgub karena sudah disampaikan PPDP saat coklit ke rumah warga.

“Jika seluruh PPDP melakukan sosialisasi maka seluruh rumah terinformasikan terkait penyelenggaraan Pilgub 2018,” ungkapnya. Tetapi, ini hanya satu instrumen saja. Menurut Hanafi, banyak instrumen lain yang mempengaruhi partisipasi masyarakat menggunakan hak pilihnya dalam pilkada. “Salah satu contoh, sejauh mana paslon menjadi magnet bagi masyarakat,” tegasnya. Visi misi yang disampaikan itu menggugah kesadaran masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya.

Juga kesuksesan tim kampanye menyebarluaskan informasi dengan kampanye masif terhadap calon pemilih. “Nah jadi banyak varian. Jadi masalah partisipasi itu tidak berdiri sendiri, tapi saling mengait dengan faktor di luar penyelenggaraan,” kata Hanafi.

Terkait banyaknya masyarakat yang apatis dengan pilkada, sangat berat jika hanya dilakukan oleh KPU. “Karena sebenarnya yang paling bisa memberikan dan menggugah kesadaran politik masyarakat ya pemimpin politik itu tadi. Sampai sejauh mana mereka bisa menaikkan partisipasi publik,” pungkas Hanafi.

(jr/ram/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia