Selasa, 19 Jun 2018
radarjember
icon featured
Radar Ijen

Menjadi Pemimpin Harus Selalu Bugar

Selasa, 13 Mar 2018 16:45 | editor : Dzikri Abdi Setia

pilkada bondowoso,

BUGAR: Calon Bupati Bondowoso Ahmad Dhafir selalu menjaga kebugaran, termasuk dengan bersepeda. Karena dirinya menganggap seorang pemimpin memiliki mobilitas tinggi dan harus selalu segar. (Heru Putranto/Radar Ijen)

Seorang pemimpin harus bugar. Sebab pergerakan seorang pemimpin menentukan kinerja bawahannya. Hal itulah yang mendasari Calon Bupati Bondowoso Ahmad Dhafir terus rajin berolahraga. Dirinya mengaku tidak ingin menjadi pemimpin yang lelet karena dibutuhkan untuk pelayanan masyarakat. Bondowoso pun membutuhkan pemimpin yang berpengalaman dan memiliki fisik yang kuat.

Pantauan Jawa Pos Radar Ijen, Ahmad Dhafir bersepeda ke beberapa titik Kamis pagi (8/3). Orang yang telah berkali-kali menjadi Ketua DPRD ini bersepeda sembari bersilaturahmi. Tentunya, sembari melakukan kampanye. Sebab setelah bersepeda, di salah satu rumah warga di Pakuwesi, Ahmad Dhafir mandi dan ganti baju untuk menemui warga.

Ahmad Dhafir menjelaskan, seorang pemimpin harus terus menjaga kebugaran. Sebab pemimpin adalah pelayan bagi masyarakat yang mobilitasnya sangat tinggi. Sehingga paling tidak harus memiliki fisik prima. “Sebab dituntut untuk berpikir jernih dalam mengambil keputusan,” terangnya. 

Setelah bersepeda, Ahmad Dhafir bersilaturahmi dengan belasan tokoh masyarakat di Dusun Pelalangan, Desa Jetis. Kehadirannya seolah menjadi magnet bagi masyarakat di sekitar, sehingga tak ayal banyak warga yang berebut bersalaman maupun turut berbincang dengan calon yang berpasangan dengan Hidayat itu. 

Ahmad Dhafir mengatakan, dirinya bersama Hidayat ingin menciptakan Bondowoso yang beriman, berdaya, dan bermartabat. Karena yang perlu dibangun itu adalah manusianya, yang diawali dengan menanamkan iman sebagai dasar dan pondasi yang kuat serta kukuh. “Baru setelah Iman, setelah percaya akan lahir takwa,” ujarnya. 

Dhafir berharap, membangun Bondowoso beriman bisa dilakukan pada semua kalangan dari Pejabat pemerintah hingga desa dan masyarakat. Sehingga, dalam melaksanakan tugas sehari-hari bukan hanya sekadar tunduk terhadap peraturan perundang-undangan. “Bukan hanya takut pada ancaman pasal pidana dan korupsi  tapi berangkat dari  takut pada Allah,” jelasnya. 

Ia pun mengakui untuk membangun masyarakat beriman ini dimulai dari lembaga-lembaga pendidikan keagamaan seperti ponpes dan madrasah. 

(jr/hud/ram/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia