Jumat, 25 May 2018
radarjember
icon featured
Radar Jember

Keamanan Gereja di Jember Diperketat

Senin, 14 May 2018 18:34 | editor : Dzikri Abdi Setia

Teror Bom Surabaya,

PERKETAT PENGAMANAN: Anggota Polsek Patrang saat melakukan penjagaan di Gereja Ekklesia Jalan PB Sudirman, Kelurahan Jember Lor, Patrang (Jumai/Radar Jember)

Pasca terjadi ledakan bom gereja di Surabaya, Kapolres bersama Dandim 0824 Jember, langsung menggelar patroli di setiap gereja yang ada. Bahkan, penjagaan sejumlah gereja langsung diperketat, Minggu (13/5) kemarin.

Maklum, umat Kristiani banyak yang ke gereja setiap hari Minggu. Sehingga Polres dan Kodim Jember, langsung bersikap cepat menjaga gereja supaya aman dari serangan bom teroris. Terlebih, teroris sudah masuk ke wilayah Jatim. “Semua gereja termasuk di kecamatan, juga kami jaga,” tegas Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo.

Pengamanan itu bagian dari upaya antisipasi gerakan teroris. Bukan hanya polisi dan prajurit TNI saja yang terlibat, pengurus gereja juga ikut dilibatkan. Bahkan, sejumlah informasi yang dinilai mencurigakan, supaya langsung bisa lapor ke petugas. “Setidaknya semua waspada saat melihat orang tak dikenal yang mencurigakan,” katanya.

Polisi dan TNI yang mempertebal keamanan, bukan mengartikan mereka takut dengan teroris. Sebab apa yang dilakukan, tak lain untuk memberikan rasa aman. Paling penting, semua masyarakat tidak terganggu saat beribadah di gereja. “Polri dan TNI siap melawan teroris,” tegasnya.

Supaya lebih meyakinkan masyarakat, polisi telah mengerahkan semua kekuatan tim intelijen, mengumpulkan data dari semua keterangan dan informasi. “Hal itu sebagai tindakan deteksi. Selain melakukan upaya preventif dengan mempertebal keamanan di tempat-tempat ibadah,” terangnya.

Rupanya, meski di Surabaya ada bom gereja, para jamaat di Jember masih tenang-tenang saja. Mereka tak takut. Terlebih, sebagian besar jamaat meyakini, Tuhan akan melindunginya yang sedang berdoa di dalam gereja. Buktinya, kegiatan peribadatan masih mereka lakukan. “Biarlah semua demi kedamaian, Tuhan Yesus memberkati,” kata Gising Trisno Sujono.

Kata Gising, meski pelaku bom bunuh diri diidentikkan dengan muslim, dia menilai tidak demikian. Sebab banyak ulama yang dikenalnya juga ikut mengutuk perbuatan teror. “Teroris dan Islam berbeda. Orang Islam baik-baik. Kami hidup rukun dengan mereka,” tuturnya.

Bahkan dia menegaskan, tidak pernah menyalahkan Islam dalam kasus pengeboman. Sebab yang dia tahu, tidak ada satu pun agama yang mengajarkan permusuhan. “Keliru jika teroris mengadu domba anak bangsa. Kami lintas agama sangat rukun dan tak akan terprovokasi,” tegasnya. 

(jr/jum/rul/sh/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia