Jumat, 25 May 2018
radarjember
icon featured
Sportainment

Delapan Pemain Persid Dicoret

Kamis, 17 May 2018 06:10 | editor : Dzikri Abdi Setia

Persid Jember,

KENA CORET: Dua punggawa inti Persid Jember, Iwan Sampurno (kanan) dan Nanang Hidayat (kiri) kena coret manajemen Persid, karena dianggap tidak disiplin. (DWI Siswanto/RADAR JEMBER)

Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba internal Persid bergolak. Beberapa pemain, termasuk sang kapten, tiba-tiba ‘mogok’ latihan, tepat sehari sebelum tanding di laga Piala Indonesia melawan Pesekabpas Pasuruan, Senin (14/5) kemarin.

Manager Persid Mirza Rahmulyono pun meradang. Dia menilai, delapan pemain yang melakukan mogok disebutnya indisipliner, bahkan ditudingnya tidak loyal pada tim. Apalagi, absennya para pemain tersebut tanpa ada alasan yang jelas. “Ternyata yang dipersoalkan gaji,” katanya, Selasa (15/5) kemarin.

Menurut Mirza, persoalan tanpa ada gaji selama jeda kompetisi sebenarnya sekadar wacana yang sempat disampaikan ke kapten Persid, Iwan Sampurno. “Tetapi, yang disampaikan Iwan ke pemain sepertinya tidak sama dengan apa yang saya omongkan,” tegasnya.

Kata Mirza, Persid Jember yang tergolong tim amatir bisa disebut satu-satunya di Tapal Kuda yang berani menggaji pemainnya. Sementara, pendapatan klub tegas tanpa ada sepeser pun yang bersumber dari APBD Kabupaten Jember. 

“Karena manajemen hanya ingin belajar mandiri dan profesional. Tanpa nyusu uang APBD seperti Persid tahun-tahun sebelumnya,” paparnya.

Namanya mandiri, kata Mirza, keuangan klub diakuinya terseok-seok. Namun, dia ingin Persid tetap eksis dan terus berprestasi. Meski penghasilan andalan klub hanya bertumpu pada tiket home. Tetapi itu tidak cukup. “Pengeluaran klub per bulan sekitar Rp 100 juta. Pendapatannya tidak imbang. Tapi kami terus berjuang,” ungkapnya.

Supaya tidak membengkak, Mirza pun melakukan efisiensi. Bahkan, katering untuk pemain setiap harinya sampai keluarga Mirza sendiri yang memasak. Tempat tinggal pemain (mes) juga dikontrakkan yang dinilainya layak. “Kemudian ada kendala soal gaji. Itu saya akui dan wacana pun saya lontarkan,” imbuhnya.

Katanya, dia menawarkan rencana sistem transport pada pemain. Setiap kali latihan, pemain yang rumahnya jauh diberi uang transport Rp 50 ribu. Sedangkan yang dekat, cukup Rp 30 ribu. Nah, konsep itu dinilainya mengamankan keuangan klub yang mulai kembang kempis. “Tetapi itu baru wacana loh. Belum ada keputusan. Saya sekadar melemparkan wacana,” tegasnya.

Kemudian, ada kesalahpahaman pemain. Mereka menilai, wacana yang disampaikan Mirza sudah menjadi keputusan manajemen. Sehingga, muncul reaksi sampai ada aksi mogok beberapa pemain. “Gaji sebelumnya sudah kami bayar. Tetapi untuk yang bulan Mei, ya tentu belum kami beri. Karena mereka juga belum melaksanakan kewajibannya,” paparnya.

Atas kasus itu, Mirza pun menganggap 8 pemain tersebut telah mundur dari Persid. Praktis, sekarang tinggal 16 pemain saja di laga putaran kedua Liga 3 Zona Jatim. “Saya akan menggaji penuh 16 pemain setia,” janjinya.

Soal mundurnya 8 pemain tersebut, Mirza menilai tidak mengganggu performa Persid. Sebab, kualitas mereka masih bisa digantikan dengan pemain yang tersisa. “Publik percayakan pada kami. Kami fokus cari sponsor dan pemain berkualitas, akan kami datangkan untuk Persid,” pungkasnya. 

(jr/rul/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia