Senin, 25 Jun 2018
radarjember
icon featured
Features
Roni Susanto, Kreator Tas Maja Pandhalungan

Terinspirasi Suku Badui Meski Proses Pembuatan Lama

Jumat, 25 May 2018 13:05 | editor : Dzikri Abdi Setia

Tas Kreasi Unik,

KREASI UNIK: Roni Susanto bersama dengan tas Maja Pandhalungan yang dibuatnya dan kini menjadi barang dengan kualitas ekspor. (Rangga Mahardika/Radar Jember)

Tas yang terbuat dari buah maja ini berawal dari keisengan Rony Susanto. Bahkan, sang pembuat sempat minder dan dicibir. Namun, kini eksistensinya menembus pasar mancanegara. Hal ini karena sentuhan seni bernilai tinggi hasil sentuhan tangan dingin pria asal Desa Balung Tutul, Kecamatan Balung ini. 

Sekilas, memang gaya pria dengan menggunakan tas berbentuk unik ini terlihat berbeda. Bukan hanya tasnya yang berbentuk bulat, tetapi juga dengan berbagai aksesori yang memperlihatkan dirinya seorang seniman sejati. Namun, gaya berbahasa Jawa khas kulonan langsung kental menunjukkan keakraban.

Dialah sosok Rony Susanto, pria kelahiran Jember, 12 Maret 1980 ini tampil di publik. Dirinya memang kini cukup aktif dalam sejumlah kegiatan seni di Jember, terutama yang digelar bersama Rumah Budaya Pandhalungan. Tak lupa, Rony juga sembari menjajakan tas unik yang merupakan buah karya tangannya, Tas Maja Pandhalungan.

Dari namanya saja, orang akan tahu jika ini adalah tas yang terbuat dari buah maja. Padahal, selama ini buah maja, yakni buah hijau besar ukuran kepala orang dewasa dengan permukaan mulus namun keras, paling langsung dibuang begitu saja oleh masyarakat. Buah maja merupakan buah yang juga cikal bakal nama kerajaan nasional Majapahit.

Tetapi di tangan Rony Susanto, perajin asal Desa Balung Tutul, Balung, dengan sentuhan kreativitas buah ini diubah menjadi sebuah karya seni bernilai tinggi. “Sejak awal, saya melihat buah ini cantik,” ucap suami dari Ika Lutfia ini. Awalnya juga hanya coba-coba saja, dengan melakukan pengamatan dan evaluasi terhadap buah maja ini.

Dirinya pun kemudian mencoba untuk melakukan sejumlah kreasi dari buah tersebut. Sempat kebingungan, namun karena tekstur yang keras serta ada ruang di bagian tengahnya, kemudian muncul ide di benaknya. “Akhirnya saya coba buat sedemikian rupa menjadi tas ini,” ucapnya mengenang yang dilakukannya 2015 lalu.

Kebetulan, Rony muda memang telah melanglang buana ke sejumlah tempat di Indonesia. Dirinya sudah berjalan kaki mengelilingi pulau Jawa pada 2004-2005 selama tujuh bulan lamanya. Dengan demikian, banyak referensi dan ide yang ingin dituangkannya ke dalam sebuah karya. Apalagi, dia bersama keluarganya tinggal di Tutul Balung yang merupakan pusat kerajinan manik-manik di Jember.

Tetapi untuk mewujudkannya menjadi sebuah tas bukanlah hal yang mudah.  “Karena saat itu tidak punya alat,” jelas bapak dari Fatimah Umi Zahra dan Aquila Najwa ini. Hanya bermodal pisau, dia mencoba berkreasi. Buah maja ini dibersihkan dan dikeringkan hingga buahnya mengeras. Ini membutuhkan waktu sekitar 10-15 hari. Buah yang mengeras terlebih dahulu dihaluskan permukaannya, karena banyak seratnya. 

“Untuk pembersihan, saya lakukan sendiri, ada tekniknya agar buah tidak bau,” tuturnya. Buah maja kering diberi tali dan ditambah ukiran dan lukisan khas Jawa, sehingga kesan etnik pun semakin keluar. Untuk tali, Rony menggunakan bahan yang terbuat dari kulit pohon waru. Ide ini didapatnya dari Suku Badui di Jawa Barat yang juga pernah disinggahinya. Prosesnya juga butuh sekitar 7-10 hari.

Dengan anyaman yang rumit, membuat buah yang awalnya hanya bulat ini semakin terlihat menarik. Untuk menambah estetika, ditambahkan hiasan dengan ditempelkan manik-manik tulang kering dan kayu cendana agar semakin unik serta memiliki aroma alami. Karena keunikannya, tas berbahan buah maja yang diberi nama Tas Maja Pandhalungan ini berhasil menembus pasar internasional. 

“Tapi awalnya minder. Apa iya tas ini ada yang mau,” ucapnya. Namun, semuanya berawal saat dia pergi ke Bali menggunakan tas itu. Sempat merasa diikuti, ternyata orang yang mengikuti hanya bertanya di mana membeli tas tersebut. Tas ini pun semakin banyak diminati. Akhirnya, tas tersebut sudah dipasarkan hingga berbagai daerah bahkan internasional. 

Sejauh ini, Tas Maja Pandhalungan ini sudah dipasarkan ke berbagai kota-kota besar seperti Jogjakarta, Surabaya, Malang, Denpasar, dan Jakarta. Juga sudah banyak yang dikirim ke luar negeri. Australia, Suriname, Brunei, dan sebagainya. Dirinya mengaku, pemasaran tas karyanya tersebut ada yang lewat sejumlah seniman di Bali dan juga Jogjakarta. 

 “Sementara dipasarkan secara online dulu. Sekali kirim bisa sampai puluhan buah,” jelasnya. Keunikan dari tas buah maja ini semakin banyak disukai masyarakat karena tidak hanya cocok untuk digunakan dalam berbagai kegiatan, namun juga bisa dijadikan hiasan.

Dari buah maja yang semula tidak bernilai dan hanya dibuang oleh masyarakat, kini harga jual Tas Maja Pandhalungan ini memiliki nilai sangat tinggi. Pasalnya, satu Tas Maja Pandhalungan berkisar senilai Rp 200-300 ribu per buah. Selain itu, tas ini juga sudah ikut memeriahkan sejumlah gelaran budaya di Jember.

(jr/ram/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia