Selasa, 19 Jun 2018
radarjember
icon featured
Radar Semeru

Guru PNS yang Menganiaya Muridnya Berlanjut ke Penyidikan

Rabu, 06 Jun 2018 11:05 | editor : Dzikri Abdi Setia

Perselingkuhan, Siswa SMA, Guru Aniaya Murid,

Kasat Reskrim Polres Lumajang, AKP Hasran (Khawas Auskarni/RAME)

Kasus penganiayaan yang dilakukan Rini, oknum guru SMAN 1 Pronojiwo, kepada salah seorang muridnya terus bergulir. Proses penyelidikan yang dilakukan Satreskrim Polres Lumajang telah tuntas. Proses hukum beranjak ke tahap penyidikan. Bahkan, penyidik kepolisian telah memanggil kedua terlapor, Rini, 50, dan Dea,17, pekan kemarin. 

Dalam proses penyelidikan yang sebelumnya berlangsung, polisi juga memeriksa barang bukti (BB) rekaman CCTV perpusatakaan. Lokasi yang kata Tiara (pelapor) menjadi tempat terjadinya aksi penganiayaan.

Kasatreskrim Polres Lumajang AKP Hasran menyebut, berdasarkan pendalaman rekaman CCTV, saksi-saksi, dan hasil visum terhadap Tiara, pihaknya menduga terjadi perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh oknum guru PNS beserta putrinya tersebut. Untuk itu, Satreskrim Polres Lumajang meningkatkan status kasus tersebut dari penyelidikan menjadi penyidikan. Namun, Hasran menolak menjawab saat ditanya wartawan apakah kedua terlapor sudah ditetapkan sebagai tersangka atau belum.

“Apa yang pelapor laporkan itu berusaha kami buktikan, apakah ada perbuatan pidana atau tidak. Dan setelah kami lakukan penyelidikan serta gelar perkara, ternyata patut diduga ada perbuatan melanggar hukum di situ,” papar pria asal Makasar itu. 

Dia menegaskan, jika ternyata benar-benar terjadi tindak pidana, maka tidak ada alasan bagi kepolisian untuk menghentikan kasus itu. Satreskrim Polres Lumajang, ucapnya, mengambil langsung penanganan kasus itu dari Polsek Pronojiwo. Sebelumnya, pada Selasa (29/5), Sukartik (nenek Tiara) melaporkan kasus itu ke Mapolsek Pronojiwo. “Dalam minggu-minggu ini akan kami panggil lagi kedua terlapor,” kata Hasran. 

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Lumajang, Sugiono Eksantoso mengaku, Tiara sudah bisa masuk sekolah seperti biasa. Sementara untuk Dea, pihaknya masih memikirkan sekolah lain sebagai tempat belajarnya yang baru. “Hingga hari ini, Dea masih kami perintahkan untuk tidak masuk sekolah. Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sambil mencarikannya tempat sekolah lain,” paparnya. 

Sementara Rini, yang sejak beberapa saat setelah kejadian langsung ditarik ke Kantor Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Lumajang, masih tampak tertekan sejak beberapa hari terakhir. Bahkan, kemarin Rini meminta izin pulang lebih awal lantaran merasa tidak enak badan. 

Terkait dengan adanya sanksi terhadap Rini, kata Sugiono, hal itu menjadi kewenangan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Namun, hingga saat ini belum ada sikap apa pun yang diambil provinsi. “Tapi saya harapkan kasus ini bisa selesai melalui jalur kekeluargaan, tanpa proses hukum. Karena ini kan masalah pribadi,” harapnya.

(jr/was/aro/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia