Selasa, 19 Jun 2018
radarjember
icon featured
Features
Cerita Dosen Unej Menjalani Puasa di Eropa

Tarawih 20 Rakaat, Selesai Pukul 00 Dini Hari

Rabu, 06 Jun 2018 12:05 | editor : Dzikri Abdi Setia

Puasa Ramadan, London, Unej,

DURASI PUASA LEBIH LAMA: Al Khanif saat berada di Pengadilan Internasional Den Haag Belanda. Sudah beberapa tahun dia melanglang di negeri Eropa. (Dok Pribadi)

Bagi muslim yang tinggal di negara-negara sekitar garis khatulistiwa seperti di Indonesia, durasi puasa relatif sama, dari tahun ke tahun. Tantangan menjadi berubah ketika mereka pindah ke negara-negara yang berada di belahan bumi utara atau selatan. Pengalaman itulah yang dialami oleh Al Khanif, direktur CHRMM Unej dan pengajar HAM di Fakultas Hukum Universitas Jember. 

“Sewaktu saya di sana, puasa selalu jatuh pada musim panas dengan durasi puasa sekitar 18 jam. Kalau musim dingin, durasi puasanya jauh lebih singkat,” tutur Al Khanif mengawali perbincangan dengan Jawa Pos Radar Jember. 

Al Khanif tinggal di Inggris selama lima tahun, dan selama itu pula, bulan puasa selalu jatuh pada musim panas. Pertama kali Al Khanif ke Inggris selama setahun sejak 2007 hingga 2008 untuk menempuh jenjang master di Universitas Lancaster, sebuah kampus yang terletak di sebelah utara Kota Manchester. 

Pada waktu itu, puasa jatuh pada Bulan September. Selang tiga tahun kemudian, Al Khanif kembali ke Inggris untuk menempuh studi doktoral sejak tahun 2012 di SOAS University of London hingga awal 2016. Bahkan, saat itu puasa tepat dilaksanakan musim panas sekitar Juni – Juli. 

”Saya juga tiga tahun mengalami puasa terlama di London, ketika siang paling lama setiap tahunnya jatuh pada tanggal 22 Juni, dan imsak mulai sekitar pukul 3 pagi dan buka puasa pukul 9.30 malam,” kenang Al Khanif. 

Baginya, berpuasa di negara-negara dengan muslim minoritas bukanlah perkara mudah. Menjadi minoritas juga berarti harus mengikuti tradisi dan pola hidup yang ada di sana. Artinya, selama bulan puasa, Al Khanif akan menemui kehidupan masyarakat yang tidak berbeda dengan kehidupan di bulan-bulan selain Ramadan. 

“Warung makan masih buka tiap hari. Mayoritas masyarakat juga berlalu lalang sambil makan dan minum kopi di pagi hari ke tempat kerja mereka,” tutur alumnus Fakultas Hukum Unej tahun 2003 ini. 

Selain itu, waktu Tarawih juga pasti akan menjadi lebih malam. Di Inggris yang mempunyai durasi puasa sekitar 18 jam, salat Tarawih dimulai sekitar pukul 23.30 dan berakhir pada pukul 00.30 dini hari. 

”Saya sempat sesekali ikut Tarawih di masjid terdekat yang menjalankan tarawih 20 rakaat. Namun, tidak kuat ikut setiap malam, karena selesai Tarawih setelah pukul 00.00 dini hari,” kenang Al Khanif. 

Beruntung bagi Al Khanif karena tinggal di London yang 23 persen penduduknya beragama Islam. Oleh karena itu, menemukan masjid di London tidaklah sulit. Berbeda dengan saudara muslim lain yang tinggal di perdesaan atau kota kecil, karena akan sangat sulit menemukan masjid. 

”Saya tinggal di kawasan zona 2 di sebelah barat London, hanya perlu berjalan sekitar 15 menit untuk menuju masjid terdekat yang didirikan oleh komunitas muslim India,” tutur Al Khanif. 

Berpuasa dengan durasi yang lama tersebut tentu menjadi tantangan bagi Al Khanif dan warga negara Indonesia lainnya yang ada di sana. Perlu kiat khusus agar dapat berpuasa penuh selama satu bulan. 

“Yang sering saya lakukan adalah mengatur nutrisi yang harus dikonsumsi pada saat buka puasa dan sahur. Lebih banyak mengonsumsi kalori dan protein seperti daging, sayur, dan susu, serta produk turunannya, juga menghindari karbohidrat seperti nasi dan kentang karena akan cepat lapar,” ungkap pria kelahiran Banyuwangi ini. 

Bagi umat Islam Indonesia yang menjalani puasa pada musim panas di Eropa, saat-saat yang dinantikan adalah bertemu masyarakat Indonesia selepas salat Idul Fitri yang biasanya digagas oleh kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di negara tersebut. ”Itulah momentum paling bermakna setelah satu bulan berpuasa, sekaligus saat yang tepat untuk merasakan tradisi anjangsana seperti yang dilakukan oleh mayoritas umat Islam di Indonesia,” tutur Al Khanif.  

Selama bulan puasa, jam kerja juga tidak ada perubahan. Bahkan, jika Idul Fitri jatuh pada hari-hari kerja, banyak perusahaan yang tidak meliburkan karyawan muslim. Oleh karena itu, di Inggris dan beberapa negara di Eropa, banyak karyawan muslim yang melewatkan salat Id. Bagi mereka, lebih baik tidak berkumpul bersama umat Islam lainnya dan tidak ikut salat Id, daripada harus kehilangan pekerjaan. 

 “Tidak adanya izin untuk menjalankan salat Idul Fitri ini bukanlah disebabkan oleh Islamophobia yang cenderung meningkat di Eropa. Larangan tersebut murni aturan perusahaan. Di Inggris, hanya ada libur Natal. Tidak ada libur kerja di hari-hari besar keagamaan lainnya,” ungkap Al Khanif. 

Jika pun ada perusahaan yang memberikan keringanan bagi karyawan muslim untuk ikut salat Idul Fitri, bukan berarti pada hari itu mereka mendapatkan cuti, melainkan setelah salat Id mereka harus kembali bekerja seperti hari-hari biasa. Artinya, tidak akan ada tradisi anjangsana dan ramah tamah selepas salat Id, karena mereka akan langsung ke tempat kerja. 

Selama di Inggris, Al Khanif belum pernah mengalami kekerasan psikologi maupun fisik terkait Islamophobia. Bahkan, pihak pemerintah melalui Perdana Menteri dan Wali Kota London selalu mengucapkan selamat menjalankan puasa bagi umat muslim yang menjalankan. Kampus juga diwajibkan untuk menyediakan tempat untuk kegiatan keagamaan seperti masjid, gereja, dan wihara. Jika tidak muat sewaktu salat Id, kampus biasanya akan menyediakan tempat yang lebih besar. 

Apakah ulah teroris yang berkedok agama berpengaruh dalam membentuk stigma terhadap Islam di mata warga Eropa? Al Khanif kira ada, karena selama ini pelaku kekerasan atau terorisme adalah warga negara Inggris. Bahkan, para jihadis ISIS yang berperang di Timur Tengah itu mayoritas dari Eropa dan dari kawasan Eropa yang terbanyak adalah dari Inggris. Namun, secara umum masyarakat Inggris sangat terbuka terhadap masyarakat muslim di sana. 

(jr/ad/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia