Senin, 18 Jun 2018
radarjember
icon featured
Radar Ijen

Prihatin Masih Ada Intimidasi

Rabu, 06 Jun 2018 20:16 | editor : Dzikri Abdi Setia

AJI, PWI, IJTI, Radar Bogor,

LILIN KEPEDULIAN: Sejumlah jurnalis di Bondowoso melakukan aksi keprihatinan di Monumen Gerbong Maut Bondowoso atas penggerudukan Kader PDI-P ke Kantor Radar Bogor. (Sholikhul Huda/Radar Ijen)

Aksi penggerudukan yang dilakukan kader PDI-P yang keberatan atas pemberitaan Radar Bogor, mengundang banyak simpatik. Para jurnalis di Bondowoso ikut melakukan aksi keprihatinan. Harapannya, arogansi serupa tidak terjadi di Bondowoso atau di tempat lain. Sebab jika keberatan dengan konten berita, ada mekanisme yang ditempuh. Bukan dengan arogansi.

Sebagai bentuk keprihatinan, para jurnalis di Bondowoso menggelar aksi damai di Gerbong Maut Senin malam (4/6). Mereka mengadakan aksi dengan tema 1000 lilin keprihatinan atas tindakan kekerasan terhadap jurnalis Radar Bogor. Hadir dalam kegiatan itu jurnalis dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI).

Ketua PWI Bondowoso Haryono mengatakan, seruan aksi tersebut merupakan bentuk solidaritas terhadap rekan jurnalis Radar Bogor. “Aksi ini tidak ada tendensi apa pun, dan murni kami ingin memberikan pemahaman tentang penyelesaian masalah ketika ada hal serupa, bukannya malah mendatangi kantor ramai-ramai,” tegasnya.

Hal senada diungkap Ketua AJI Jember Friska Kalia. Sejak adanya kejadian kader PDI-P mendatangi kantor Radar Bogor untuk protes, sampai ada yang diintimidasi, pihak AJI langsung mengeluarkan rilis. Sebab apa pun alasannya, keberatan berita ada mekanisme yang dilalui. “Apa pun itu, aksi yang dilakukan kader PDIP, di Bogor, kalau kami bilang itu aksi premanisme,” tegasnya.

Sama sekali tidak bisa dibenarkan. Sebab ada mekanismenya ketika keberatan pada berita. Misalnya menghubungi media yang bersangkutan untuk meminta koreksi dan hak jawab. Jika perusahaan media tidak mau, bisa langsung ke Dewan Pers. Nanti akan ada sidang. “Kalaupun melalui mekanisme Dewan Pers bahwa Radar Bogor itu melanggar, maka akan ada sanksi yang diberikan,” ujarnya.

Atas adanya tindakan arogansi itu, AJI Jember mengingatkan agar tidak terjadi hal serupa di Bondowoso. “Kita tahu Bondowoso saat ini sedang pilkada. Sangat sensitif isu soal ini. Dan kami meminta seluruh paslon atau partai pendukung, kalau misalnya ada keberatan atas pemberitaan, harus memakai jalur yang sudah ditentukan UU,” pungkasnya.

Perlu diketahui, karena tidak terima dengan grafis gambar berita berjudul Ongkang-ongkang Kaki Dapat Rp 112 Juta. Penggerudukan pertama terjadi Rabu (30/5), penggerudukan kedua Sabtu (2/6). Dalam penggerudukan kedua, kejadian itu terekam dalam video berdurasi 30 detik dan beredar. Dalam video itu tampak sekelompok orang sudah berada di dalam ruang lobi gedung Graha Pena (kantor Radar Bogor) sambil memaki Pemred Radar Bogor Tegar Bagja. Seseorang dalam kerumunan tersebut juga sempat berteriak dan menanyakan siapa wartawan yang menulis berita tersebut.

(jr/hud/aro/das/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia