Jumat, 22 Jun 2018
radarjember
icon featured
Radar Jember

Ajak Mahasiswa Tangkal Radikalisme

Kamis, 07 Jun 2018 08:35 | editor : Dzikri Abdi Setia

Wakil Ketua MPR RI, Pemkab Jember,

PATUT DITIRU DAERAH LAIN: Bupati Jember dr Faida MMR berbincang dengan Wakil Ketua MPR RI Dr H Ahmad Basarah MH yang kemarin menyempatkan menemui ribuan mahasiswa calon penerima beasiswa. (Jumai/Radar Jember)

Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah mengajak para mahasiswa di Jember untuk menangkal radikalisme yang saat ini telah merasuki kampus. Apalagi, informasi yang dia kutip dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebutkan, sejumlah mahasiswa di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia telah terpapar paham radikal tersebut.

“Terutama fakultas-fakultas eksakta. Seperti kedokteran, pertanian, dan teknik. Untung di Jember belum ada ya,” selorohnya. Ajakan ini disampaikan Basarah dalam kuliah umum tentang Pancasila dan Kebangsaan di hadapan 2.000 mahasiswa calon penerima beasiswa Pemkab Jember di aula PB Soedirman, kemarin. 

Menurut dia, ada dua pekerjaan rumah yang harus dituntaskan pemerintah dalam mencegah meluasnya radikalisme di kalangan pemuda dan mahasiswa. Di antaranya adalah menanamkan nasionalisme dan patriotisme, serta mengembalikan mata pelajaran Pancasila ke dalam pelajaran di sekolah-sekolah maupun mata kuliah di universitas.

Dia menilai, pasca dihapusnya penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), dibubarkannya Badan Pembina Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7), serta dihapusnya mata pelajaran Pancasila di lembaga pendidikan formal, generasi muda dikatakannya mulai kehilangan memori kolektif tentang sejarah bangsa. “Termasuk tentang bagaimana Pancasila dibentuk dan disepakati oleh para pendiri bangsa. Ini banyak yang tidak mengetahui,” ujarnya.

Oleh karenanya, Basarah menyangsingkan nasionalisme dan patriotisme di kalangan pemuda dapat terbentuk, jika mereka tak mengetahui akar sejarah bangsanya sendiri. Jadi, kata dia, yang menjadi kunci adalah penanaman ideologi bangsa dan indoktrinasi Pancasila terhadap generasi muda dan mahasiswa. “Seperti agama yang ditanamkan masing-masing oleh orang tua. Itu kan indoktrinasi,” katanya.

Dia juga mengajak, segenap elemen bangsa untuk menolak propaganda kaum liberal yang mengatakan Pancasila tidak boleh diindoktrinasi. Sebab, menurutnya, tidak mungkin sebuah ideologi bisa masuk jika tidak didoktrinasi atau memasukkan ajaran Pancasila tersebut ke generasi bangsa. “Oleh karena itu, mata pelajaran Pancasila harus dihidupkan lagi. Harus dimasukkan lagi dalam mata pelajaran pokok, seperti zaman saya dulu,” paparnya. 

Selain menanamkan nilai Pancasila ke generasi muda, Basarah juga menekankan pentingnya keteladanan yang dilakukan oleh para pemimpin. Sebab, menurut dia, dalam Pancasila ada panduan moral berbangsa. Jika itu terjadi, maka Pancasila tak hanya akan menjadi jargon, tapi juga akan hidup di tengah-tengah masyarakat. 

Lantas, bagaimana pemerintah daerah menanamkan nilai Pancasila? Apalagi melihat komitmen Pemkab Jember yang berencana menjadikan daerahnya sebagai laboratorium Pancasila. Terkait hal itu, Basarah tak menyebut spesifik tentang Jember. Namun, dia menegaskan, pasca disumpah sebagai bupati dan wakil bupati, janji yang pertama adalah setia kepada Pancasila. “Jadi, setia kepada Pancasila ini tidak hanya diucapkan secara lisan, tapi harus mewujud ke dalam setiap kebijakan,” tegasnya.

Basarah juga mengandaikan, jika seluruh kepala daerah menunaikan sumpahnya untuk mengamalkan Pancasila dengan benar dalam setiap kebijakannya. Semisal sila kedua “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, maka dirinya meyakini Pancasila bakal menjadi ideologi yang hidup dan menjadi bintang pemandu di masyarakat. “Dengan demikian, ruang untuk memasukkan atau membandingkan dengan ideologi lain dari luar akan dapat ditangkal dengan cara efektif,” tegasnya. 

(jr/rul/wah/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia