Senin, 18 Jun 2018
radarjember
icon featured
Features

Lewat Stand Up Comedy, Jadi Duta Pancasila Milenial

Jumat, 08 Jun 2018 12:10 | editor : Dzikri Abdi Setia

Rizki Bibir, Stand Up Comedy, Duta Pancasila Milenial,

KOMEDI CERDAS: Muh Rizki Zulkarnain saat membawakan stand up comedy di hadapan Bupati Jember, anggota Bawaslu, dan hakim MK, belum lama ini. (dwi siswanto/radar jember)

Namanya Rizki Zulkarnain, tapi biasa dipanggil Rizki Bibir. Dia pernah membawa nama Jember di Stand Up Comedy Akademi Indonesia hingga masuk belasan besar. Lewat guyonan cerdasnya, dia dijadikan Duta Pancasila Milenial oleh Bupati Jember dr Faida.

Salah satu toko di Jalan A. Yani, pada malam 1 Juni lalu mendadak ramai. Mobil berjajar memadati parkiran, petugas satpol PP dan dishub pun tampak sibuk mengatur lalu lintas serta menata parkiran. Malam itu adalah malam penuh arti sebagai peringatan Hari Lahir Pancasila. 

Baik anak muda maupun orang tua tampak hadir. Mereka menyimak diskusi dari berbagai tokoh, seperti Bupati Jember dr Faida, hakim di Mahkamah Konstitusi (MK), Dirjen PP Kemenkumham, dan turut hadir pembawa berita dari CNN.

Suasana acara diskusi yang awalnya serius tiba-tiba menjadi gayeng (menyenangkan). Banyak tawa dan banyak bertepuk tangan. Saat itu, ada hiburan stand up comedy (komedi tunggal) yang dibawakan Rizki. Pria berkemeja tersebut sempat menyindir dirinya sendiri karena tidak terkenal. Padahal, pernah masuk belasan besar Stand Up Comedy Akademi Indonesia di Indosiar. 

Dia mengatakan, Jember budayanya Pandhalungan, Madura campur Jawa. Sebagai orang Jember, seharusnya bangga dengan daerahnya sendiri. “Coba banyangin orang Jember pakai bahasa Jakartaan,” katanya.

Lawakan yang dibawakan Rizki Bibir membuat Bupati Faida terpingkal-pingkal. Rizki dijadikan Duta Pancasila Milenial. Rizki mengaku, dalam stand up comedy yang dibawakannya ada maksud tersendiri. Yakni bangga jadi orang Jember, bangga jadi orang Indonesia

Baginya, stand up comedy tidak sekadar berdiri sendirian dan melawak. Tetapi ada tanggung jawab dari materi lawak yang dibawakannya. Humor yang ia sampaikan adalah pendapat terhadap apa yang terjadi. Sehingga, ada pesan dan kritikan yang dimaksud. 

Dilihat dari sejarahnya, stand up comedy berasal dari orang kulit hitam. Mereka membuat wadah ungkapkan keresahan yang pada waktu itu karena rasisme. Sehingga, komedi adalah cara terbaik untuk mengemukakan kritikan, pendapat, dan membuat orang sadar. Kata pria asal Patrang ini, stand up comedy adalah lawakan cerdas, karena bisa menyamakan referensi pelawak dengan penonton. 

“Ada teorinya, sampai akarnya. Ada rumusnya, ada penekanan kata-katanya,” tambahnya.

Seni stand up comedy juga bermanfaat sebagai public speaking, penulisan, memahami panggung dan penonton. Selain itu, juga akan semakin menambah wawasan. Rizki menambahkan, setelah bergelut di dunia stand up comedy, seseorang akan berusaha menambah wawasan untuk menambah referensi materi saat di atas panggung stand up. 

“Saya ini orangnya tidak suka membaca buku, tapi karena stand up comedy, semangat membaca buku berbagai keilmuan jadi tumbuh,” imbuhnya. 

Mampu melawak di stand up comedy tidak ditempuh dengan mudah. “Sejak saya terjun di stand up comedy, bisa melucu itu satu setengah tahun,” katanya. Dia mengaku, cita-citanya semasa kecil memang unik. Jika teman lainnya bercita-cita ingin jadi dokter sampai polisi, dia ingin melawak. 

Saat ingin jadi pelawak di stand up comedy tahun 2012, ternyata tidak mudah, juga tidak asal mbanyol. Menjadi orang pertama yang membangun komunitas stand up comedy di Jember, dia pernah malu. “Waktu itu sebagai stand up comedian pembuka, dan saat itu bintang tamunya Kemal. Dari 350 penonton, saat saya stand up, semua tidak tertawa,” katanya.

Bahkan, Rizki sempat merana saat ada orang tak mau menonton stand up comedy, karena yang mengisi adalah dirinya. “Pernah ada orang mau nonton nggak jadi, karena tahu ada saya yang mengisi," imbuhnya. 

Dia tetap bangkit dan tak mau menyerah begitu saja, karena ketawa adalah candu. Nyatanya, kini namanya makin lama makin dikenal.

(jr/dwi/das/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia