Senin, 18 Jun 2018
radarjember
icon featured
Radar Jember

Satu Titik Terkumpul Rp 25 Juta

Selasa, 12 Jun 2018 15:15 | editor : Dzikri Abdi Setia

Kirab Koin NU,

ANTUSIAS: Pengumpulan donasi warga NU dalam gerakan Kirab Koin NU ketika singgah di Yayasan Pendidikan Abdul Wahid Hasyim Kecamatan Balung. (MAHRUS SHOLIH/RADAR JEMBER)

Setelah di Bondowoso, gerakan nasional pengumpulan donasi yang digagas Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (Lazisnu) tiba di Jember, Sabtu (9/6) kemarin. 

Di kabupaten penghasil tembakau ini, gerakan bernama Kirab Koin NU itu diawali dari Majelis Wakil Cabang (MWC) Kalisat, kemudian berkeliling di sejumlah MWC lainnya dan berakhir di Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris) Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari. Total ada delapan titik yang disambangi rombongan kirab tersebut.

Ketua NU Jember KH Abdullah Syamsul Arifin mengatakan, selain di Kalisat beberapa pengurus tingkat kecamatan yang disambangi kirab ini diantaranya adalah MWC NU Ajung, Ambulu, Wuluhan, Balung, Bangsalsari, Rambipuji, dan terakhir di Ponpes Nuris. Menurutnya, di masing-masing titik pengumpulan donasi, rombongan disambut antusias oleh pengurus dan jamaah NU setempat. 

Bahkan, ada satu titik yang jumlah sumbangan yang terkumpul mencapai Rp 25 juta. "Di MWC NU Wuluhan jumlah donasi yang terkumpul mencapai Rp 25 juta. Sedangkan Di MWC NU Ambulu sebesar Rp 20 juta," katanya, saat singgah di Yayasan Pendidikan Abdul Wahid Hasyim Kecamatan Balung. 

Tokoh agama yang akrab disapa Gus Aab tersebut menjelaskan, Koin NU atau akronim Kotak Infaq NU ini merupakan program nasional yang dimulai dari Kabupaten Banten dan Berakhir di Kabupaten Banyuwangi. Gerakan ini bertujuan untuk membangkitkan kemandirian organisasi kaum nahdliyin, sehingga dalam menggerakkan roda organisasnya tak lagi mengandalkan sumbangan sponsor yang dinilainya berpotensi ditunggangi kepentingan tertentu. 

"Langkah ini sebagai pintu masuk untuk mengembalikan kekuatan NU. Prinsipnya dari warga oleh warga dan untuk warga. Jadi tidak lagi mengandalkan sponsor yang menumpang kepentingan di NU," jelasnya. 

Lebih lanjut dia menyampaikan, donasi yang telah terkumpul tersebut akan digunakan untuk membangun dan mengembangkan usaha-usaha perekonomian, serta lembaga sosial yang berada di bawah naungan NU. Misalnya, untuk mengembangkan NU Mart, sebuah toko swalayan milik NU yang sudah berdiri di sejumlah daerah. 

Selain itu, kata dia, juga untuk membangun fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit maupun klinik yang difungsikan melayani umat, baik warga NU maupun yang lain. "Di sinilah kami menghimpun dana untuk modal dasar yang diambil dari warga NU, yang akan dikelola secara profesional demi kemajuan organisasi," ungkapnya.

Gus Aab menambahkan, gerakan tersebut tak berhenti sampai di sini saja, tapi juga berkesinambungan dan akan dilakukan secara berkala, karena potensinya sangat tinggi. Bahkan, setelah Kirab Koin NU ini tuntas dilakukan, pengurus tingkat kecamatan dan desa akan melanjutkan dengan mengumpulkan donasi dari para jamaah di tingkat MWC dan ranting. "Iya, ini akan dilanjutkan. Nanti bakal ada Koin NU di acara-acara pengajian yang digelar oleh NU," paparnya. 

Sementara itu, Wakil Ketua MWC NU Balung M. Ashadi Ansori menuturkan, kegiatan pengumpulan ini sudah disosialisasikan sebulan sebelum kirab tersebut dilakukan. Untuk itu, sumbangan yang terkumpul dan diserahkan melalui Kirab Koin NU tersebut bukanlah donasi yang mendadak, melainkan sudah terkoordinasi oleh pengurus MWC dan ranting beberapa hari sebelumnya sehingga di Balung bisa mengumpulkan donasi hingga Rp 10 juta. "Ini merupakan sumbangan dari jamaah NU, dewan guru Yayasan Wahid Hasyim, para siswa dan pengurus NU di Balung," ucapnya. 

Gerakan ini pun mendapat respons positif dari pengurus NU tingkat bawah. Mardi, ketua Ranting NU Balung Kulon, Kecamatan Balung, mengungkapkan, kegiatan seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi pengurus ranting untuk menduplikasikan, meski dengan nama atau istilah berbeda. 

Menurutnya banyak cara yang bisa dilakukan, misalnya dengan menghidupkan kembali jimpitan, yakni tradisi pengumpulan donasi berupa uang maupun beras dengan mendatangi rumah-rumah warga, maupun di acara ritual keagamaan yang telah menjadi tradisi, seperti tahlilan dan pengajian di malam bulan purnama atau lailatul ijtima'. 

"Hasilnya bisa digunakan untuk organisasi di tingkat ranting. Semisal membuat stasiun radio sendiri untuk corong dakwah dan sebagainya," tandas pria yang juga berprofesi sebagai guru tersebut. 

(jr/hdi/ram/das/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia