Selasa, 19 Jun 2018
radarjember
icon featured
Features
Monumen Mastrip dan Kenangan Perjuangan

Susahnya Mengajak Masyarakat untuk Kembali Mengingat TRIP

Selasa, 12 Jun 2018 16:15 | editor : Dzikri Abdi Setia

Monumen Mastrip, Tentara Pelajar, TRIP,

SAKSI SEJARAH: Monumen Mastrip ini menjadi salah satu pengingat perjuangan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) Besuki yang menghadang tentara Belanda dalam Agresi Militer Belanda I tahun 1947. (Jumai/Radar Jember)

Banyak yang mengira, Mastrip adalah nama seseorang. Padahal itu adalah sebutan untuk sekelompok anak-anak muda yang bergabung sebagai tentara pelajar. Mereka tersebar di berbagai daerah, salah satunya di karesidenan Besuki. Jember menjadi lokasi di mana pasukan TRIP berhasil menghadang konvoi Belanda. 

‘Pada Juli 1947 di tempat ini telah terjadi peristiwa perjuangan berupa penghadangan oleh Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) Batalyon 4000 dikenal dengan Pasukan Kukuk Beluk terhadap konvoi tentara penjajah saat Agresi Militer I’. 

Tulisan tersebut dipatri pada monumen yang berada di tepi Jalan Jember-Bondowoso. Tak jauh dari Kantor Kecamatan Jelbuk. Tepatnya di daerah Panduman. Masih baru, karena belum lama ini mengalami proses rehabilitasi yang dilakukan oleh Paguyuban Mas Trip Jember.

Dengan helm sebagai latar, dan senjata laras panjang yang diletakkan menyilang dengan pena bulu ayam. Lambang dari Monumen Mastrip tersebut adalah lambang dari baju kehormatan TRIP yang dikenakan saat bergerilya. 

Paguyuban ini berisi mantan anggota TRIP, serta keturunannya yang terdiri dari beberapa generasi. Budi Sumarsono, ketua Paguyuban Mas Trip menuturkan, tak banyak yang tahu, asal muasal munculnya istilah Mastrip yang kini menjadi nama jalan di daerah Sumbersari. Mastrip muncul dari sebutan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), satuan tentara yang terdiri dari kelompok pelajar berusia remaja. 

Kala aksi militer Belanda, anak-anak muda dan pelajar memang diimbau untuk berjuang mengangkat senjata. Karena mayoritas anggota TRIP adalah pria, maka penduduk banyak memanggil mereka dengan sebutan Mas, untuk menghargai keberanian para pemuda tersebut. “Penduduk banyak yang manggil, Mas Trip, ini ada makanan, ini ada minuman, begitu ceritanya,” ujar pria asal Bondowoso tersebut.

Konon, Panduman merupakan tempat di mana tentara Indonesia menghadang iring-iringan tentara Belanda yang hendak menyerang Besuki dari dua arah, yaitu di pesisir Banyuwangi dan Panarukan. Serangan Belanda dimulai pada 21 Juli 1947, saat Belanda mendaratkan pasukannya di pesisir Banyuwangi dan di Pantai Pasir Putih, Panarukan. 

Momen Agresi Militer Belanda I terjadi ketika hari libur sekolah. Selama masa liburan tersebut anggota TRIP khususnya di Jawa Timur mengisinya dengan latihan kemiliteran dan people defense dalam bentuk samaran. Kesatuan TRIP Jawa Timur yang terlibat dalam kegiatan tersebut salah satunya adalah dari Batalyon 4000 Karesidenan Besuki, yang memiliki dua kompi yaitu 4100 (Bondowoso dan Situbondo) dan 4200 (Jember).

Pasukan TRIP sempat terpecah akibat serangan tersebut, namun masih bertahan dengan membentuk komando gerilya dengan nama sandi Kukuk Beluk Hitam. Panduman menjadi salah satu lokasi perang gerilya yang berlangsung selama kurang lebih setengah jam.

Setelah agresi militer Belanda dan perjuangannya selesai, banyak anggota TRIP yang dikaryakan sebagai apresiasi atas jasa mereka. Ada yang dikaryakan di bidang pemerintahan, menjadi tentara, dan lain-lain. Namun yang paling banyak  berada di sektor perkebunan. “Bapak saya di perkebunan, saya juga di perkebunan,” kenangnya.

Namun tak sedikit pula yang memilih berkarya di kota besar. Banyak yang jadi pejabat tinggi dan pindah, salah satunya Jakarta. “Kalau di Jakarta, TRIP sekarang itu besar karena dulu banyak yang berangkat ke sana,” ujarnya.

Di Jelbuk, kata Budi, ada beberapa tempat yang berkaitan dengan Trip. Salah satunya adalah sumber air yang dijadikan tempat beristirahat ketika gerilya. “Ketika penyerbuan Belanda ke daerah Besuki, sumber air itu menjadi tempat mandi Trip,” lanjutnya.

Paguyuban Mas Trip Jember kini beranggotakan 55 orang dari tiga generasi. Generasi satu adalah para pelaku TRIP, sedangkan generasi dua dan tiga adalah keturunan dari pelaku sejarah ini. Bersama dengan aparat setempat, paguyuban tersebut terus berupaya melestarikan monumen tersebut. “Kita bersama Koramil dan aparat desa setempat yang memelihara monumen,” kata Budi.

Hanya saja, pihaknya masih belum bisa memberikan inisiasi untuk mengajak anak-anak muda sekarang dalam mengingat perjuangan pasukan TRIP. Sebab menurut Budi, tak banyak anak muda yang masih menghargai jasa para pejuang.

“Dulu, anak-anak muda diimbau untuk berperang saja bersedia, bahkan berjuang sampai mati-matian. Sekarang orang mau perang hitung-hitungan dulu. Katanya, cari makan aja susah. Makanya dengan monumen ini harapannya masyarakat mau mengingat perjuangan TRIP yang sudah berperan dalam mengusir tentara Belanda,” pungkasnya. 

(jr/lin/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia