Senin, 18 Jun 2018
radarkediri
icon featured
Kolom

Ada Apa dengan Dilan?

Minggu, 04 Feb 2018 12:00 | editor : Adi Nugroho

ADI NUGROHO

ADI NUGROHO (GRAFIS: NAKULA AGI - JawaPos.com/RadarKediri)

Entah karena liriknya yang absurd atau jujur, kami selalu ngakak saat mendengar lagu grup band ini. Mungkin mereka tak terdengar konyol dengan musik rock n roll-nya. Justru serius dan dalam. Tapi pemilihan diksi di tiap lirik, saya akui sangat menyenangkan untuk didengar. Berulang-ulang kami setel lagu-lagu mereka di kamar kontrakan. Sampai sakit perut.

The Panas Dalam, nama grup band asal Bandung ini memang tak terlalu populer waktu itu. Setahu kami, band ini tidak pernah muncul di televisi. Kami mengenalnya dari internet.You Tube.

Dari sanalah, lagu seperti Batman, Rintihan Kuntilanak, Ayo Kita ke Mana, Lagu Timur, hingga Koboy Kampus, menghiasi hari-hari indah di sela kuliah kami.

Setelah sekian tahun berselang, nama band ini kembali terdengar. Tapi bukan lagi mereka dalam satu band, melainkan sang dedengkot, Pidi Baiq, sendirian. Vokalis slengekan sekaligus pengarang lagu The Panas Dalam ini banting setir jadi penulis. 

Dengan novelnya, ia berhasil menggebrak. Dilan dan Milea. Siapa tak kenal sekarang? Bahkan filmnya laris manis bak telepon pintar (smartphone) di tanggal muda.

Khusus untuk filmnya, saya sangat mengapresiasi. Ceritanya ringan. Tapi cerdas. Pidi, sebagai penutur ulang cerita, benar-benar mempresentasikan karyanya dengan sangat bagus. Memang ada sedikit kekurangan di sana-sini, namun alur cerita film yang disutradarai Fajar Bustomi ini sangat nyaman dinikmati.

Tentu tak bisa disandingkan dengan Ayat-ayat Cinta atau Perempuan Berkalung Sorban, yang mengambil tema lebih berat. Namun gombalan Dilan kepada Milea memang segar.

“Selamat ulang tahun Milea. Ini hadiah untukmu. Cuma TTS. Tapi sudah kuisi semua. Aku sayang kamu. Aku tidak mau kamu pusing karena harus mengisinya.” Grrrr....ciee..ciee...ciee.

Asli, waktu menonton film ini beberapa waktu lalu, saya agak terganggu dengan jerit histeris dan rasan-rasan beberapa remaja cewek di bangku belakang. Tampaknya mereka sudah nonton dua kali. Atau bahkan sudah baca novelnya berulang-ulang. Sampai hafal.

Seperti saat Dilan merayu Milea di angkot. “Milea kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore...” Belum selesai Dilan dengan rayuannya, beberapa remaja di belakang menyahut, nyaris bersamaan dengan Dilan bicara. “Tunggu saja.” Hah...

Pidi mengatakan bahwa film ini memang didasarkan kejadian nyata. Bumbu tentu ada. Tapi para pembaca novelnya atau penonton filmnya, pasti ikut-ikutan terbawa perasaan (baper) membayangkan kisah romantis Dilan dan Milea yang diperankan dua bintang belia, Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Priscilla. 

                                                          ***

Film, bagaimana pun bentuknya tentu akan memberikan pengaruh. Mau film laga, drama, komedi, bahkan horor, bisa menginspirasi  penontonnya sedikit atau banyak. Karenanya, tak jarang muncul ungkapan, “Tontonan juga harus bisa jadi tuntunan donk...” Meski bagi sutradara, memadukan dua hal itu bukan perkara gampang.

Mendudukkan seni perfilman dengan buku dan guru di sekolah tentu bukan perbandingan yang adil. Di satu sisi, unsur pendidikan – sebut saja pesan moral – terkadang memang terkandung dalam film. Tapi namanya dunia hiburan, memang tak melulu menggurui, apalagi mendidik.

Banyak sekali film, yang bahkan asal-asalan dibuat. Asal jadi. Dengan biaya asal-asalan pula. Mereka hanya memenuhi produktivitas. Mengabaikan kualitas. Beberapa memang bisa menggaet penonton. Tapi tak jarang yang sepi. Baru sehari dua hari di bioskop, lalu diturunkan. Kurang peminat.

Yang berkualitas pasti banyak penontonnya? Belum tentu. Strategi pemasaran yang baik tentu dibutuhkan. Skenario yang bagus, survei selera pasar, hingga masalah tanggal main dan trailer, sangat menentukan sukses tidaknya film. Belum lagi peran sang bintang.  Masalahnya, Dilan 1990 jelas memenuhi kriteria itu. Bintang kece, selera pasar cocok, skenario oke, juga promo yang gencar.

Tapi, kritikus tentu saja punya seribu senjata. Termasuk menyorot kisah yang mengangkat drama cinta putih abu-abu ini. Masa-masa SMA, yang tentu sangat terkait dengan buku dan guru.

Tuntunan? Wah terlalu berlebihan jika menuntut film seperti ini menjadi tuntunan. Meski Slamet Rahardjo pernah berkata bahwa film bukan imitasi kehidupan, tetapi refleksi kehidupan, namun realitanya, perilaku manusia di dunia nyata, banyak yang dipengaruhi oleh film atau tontonan.

Seperti kisah sejumlah pemain sepak bola dunia yang terinspirasi menjadi bintang besar karena serial Kapten Tsubasa. Mulai dari Andres Iniesta sampai Lukas Podolski. Juga entah bagaimana komunitas punk tiba-tiba menjamur, termasuk di Kediri, usai film Punk in Love (2009) booming.

Semoga saja, banyak siswa SMA yang menjadi romantis gara-gara  film Dilan 1990 ini. Karena menjadi romantis, sampai segombal-gombalnya, tentu tidak rawan masalah. Bukan lantas menjadi kasar dan ikut-ikutan geng motor. Melawan guru yang mengingatkan, bahkan nyaris menghajarnya.

Ingat, di film ini, sosok Dilan yang mampu mengendalikan emosilah yang jadi juaranya. Milea pasti sangat membenci putra tentara ini jika ia benar-benar memukuli Suripto. Soal Anhar, itu lain lagi. Karena dia akan hilang. Ada apa dengan Dilan? Ah, sudahlah. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia