Sabtu, 23 Jun 2018
radarkediri
icon featured
Kolom

Gara-garaning Duit

Minggu, 18 Feb 2018 20:39 | editor : Adi Nugroho

m fikri zulfikar

M FIKRI ZULFIKAR (GRAFIS: NAKULA AGI - JawaPos.com/RadarKediri)

“Baginya, dengan banyaknya kasus korupsi yang mencuat, berarti ada yang tidak beres pada perilaku pejabat.”

“Akhir-akhir ini berita kok sama semua ya, Mblok. Di mana-mana, beritanya sama-sama ngentit uang negara alias korupsi,”  begitu kata Mat Kliwon sambil membuka koran halaman pertama.

Mendengar keluhan temannya, Tomblok pun langsung mempercepat seruputan kopinya dan ikut menimpali, “Memang pejabat gak duwe isin!”

Memang, bukan hal asing lagi, di mana-mana berita di koran hingga media online memberitakan korupsi para pejabat. Dari yang ditangani KPK hingga yang ditangani polisi dan kejaksaan. Mulai dari yang menyangkut kepala pasar iwak cethul sampai dengan kepala pembangunan jembatan sesek.

Belum lagi ini juga rame-rame-nya pengangkatan perangkat desa yang bermasalah. Bagaimana tidak bermasalah jika yang diangkat sebagai perangkat, desas-desusnya adalah mereka yang mau nyogok. Alias, ada uang ada jabatan.

“Info-infonya di berita sih gara-gara setoran,” celetuk Mat Kliwon.

“Maksudnya?,” tanya Tomblok.

“Jadi ceritanya begini, kepala pasar iwak cethul ini meminta setoran kepada anak buahnya. Lha wong namanya anak buah, ya patuh pada atasannya dan pastinya takut biar tidak dimarahi. Apalagi mereka juga takut dipindah jadi tukang resik-resik.”

“Lantas, agar bisa menyetor, setiap ada acara di pasar itu, anak buahnya memotong setiap anggaran dengan membuat laporan fiktif. Hingga dalam dua tahun berjalan, hasil potongan itu mencapai ratusan juta. Disetor kepada kepalanya.”

“Masak uang segitu buat kepala pasarnya dewe, Won?,” tanya Tomblok.

“Kalau soal itu, aku ya gak eruh. Mungkin kepalanya ya setor lagi nyang nduwure. Atau, dibagi-bagi lagi, mbuh nyang ndi…,” jawab Mat Kliwon.

“Angel juga ya Won, jadi pejabat? Godaannya banyak.”

“Tapi ya enak juga. Gajinya wis jelas setiap bulan mancur. Beda kayak kita, mung tukang parkir ngene. Kalau pasarnya sepi, yang parkir ikut sepi.”

Sambil mengambil gedang goreng di piring, obrolan duwur dua tukang parkir ini pun berlanjut. “Sekarang, pejabat-pejabat kendel-kendel rumangsaku. Wong yang kelihatan mata saja kayak proyek jembatan sesek lo, ya dikorupsi,” ujar Mat Kliwon sambil memperlihatkan halaman koran di tangannya.

“Iya, kabarnya malah banyak yang kecakot. Sidangnya juga sudah jalan. Saksi-saksinya top markotop. Dari mantan lurah sampai mantan wakilnya. Aku ngikuti terus beritanya,” sahut Tomblok sambil molo-molo.

”Kayaknya sidangnya bakal berjalan seru. Banyak yang bisa kena,” lanjut Mat Kliwon.

Tomblok yang sedari tadi tidak berhenti ambil gedang goreng pun menerawang ke atas. Dia mencoba mencerna omongan duwur itu. Baginya, dengan banyaknya kasus korupsi yang mencuat, berarti ada yang tidak beres pada perilaku pejabat.

Bisa pula bukan hanya pada perilakunya. Tapi, juga sistemnya. Ini semua karena uang. Gara-garaning duit. Sebab, bukan tidak mungkin, perilaku tersebut hampir merata menjangkiti pejabat. Cuma, mereka masih beruntung. Belum seapes kawan-kawannya yang sudah tertangkap lebih dulu. Oleh KPK, polisi, atau jaksa.

“Won, seandainya aku jadi pejabat, pantes gak?,” tanya Tomblok tiba-tiba.

Belum sempat Mat Kliwon menjawab, Mbokde Pariyem langsung memotong.

“Ngayal kok keduwuren. Mbayar utang saja belum bisa kok ngayal jadi pejabat. Ayo, cepat bayar utang-utangmu!”

“Dibayar besok saja yo Mbokde,” ujar Tomblok cengengesan.

“Aku juga Mbokde,” timpal Mat Kliwon.

Dengan langkah seribu, kedua tukang parkir itu kabur dari warung Mbokde Pariyem dengan meninggalkani utang-utang barunya.

“Apes-apes…,” ujar Mbokde Pariyem sepaneng. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

====

“Oh iya, wes mulai pilihan wali kota lagi ini Mblok. Kamu jadi milih sopo?”.”

Pertanyaan Mat Kliwon membuyarkan lamunan Tomblok.

“Enak panggah ae Won,  tapi juga enak seng biyen se…, jadi bingung milih sopo?”

“Kalau aku melihat banyak pejabat yang korupsi kayak gini. Jadi males milih sopo-sopo Mblok.  Paling akhir-akhirnya juga sama. Korupsi juga”.”

“Aku juga males sebenere Won. Sekarang saja mereka banyak mengumbar janji dan wajahnya yang pringas-pringis sok baik ditempel di pinggir-pinggir jalan itu bikin jembek. Jajal nanti kalau jadi. Paling yo lupa dengan janji-janjine,” ujar Mat Kliwon sambil membalik halaman koran dan melihat foto-foto calon terpampang di surat kabar itu.

(rk/fiz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia