Senin, 18 Jun 2018
radarkediri
icon featured
Features

Sumadi Kaset yang Tetap Eksis di Era Musik Digital

Deep Purple dan Rhoma Irama Jadi Buruan

Rabu, 21 Feb 2018 00:24 | editor : Adi Nugroho

sumadi kaset - radar kediri

EKSIS: Sumadi (kiri) didampingi Aji saat ditemui di kios Sumadi Kaset. (M FIKRI ZULFIKAR - JawaPos.com/RadarKediri)

Hampir setiap warga Kota Kediri terutama anak muda zaman old pasti kenal dengan Sumadi Kaset. Di era digital dan modern ini, kaset pitanya malah paling dicari kolektor. Ia juga melakukan modernisasi dalam pemasaran lewat sang anak.

MOH. FIKRI ZULFIKAR 

   Berjejer-jejer kaset pita dan VCD lengkap dengan gambar sampul artisnya terpampang di toko kaset legendaris itu. Dentuman suara musik diperdengarkan silih berganti sesuai pesanan pelanggan yang datang. Mulai dari rock, pop, dangdut, hingga gending-gending campursari.

   Sesuai nama pemiliknya, orang mengenalnya sebagai Toko Sumadi Kaset. Lokasinya kini di Jl Kapten Tendean, sekitar seratus meter utara Perempatan Bence. Itu adalah toko kaset yang melegenda  di Kota Kediri. Sebelumnya, selama puluhan tahun, berlokasi di Jl Pattimura, barat Perempatan Retjo Pentung.

   Ditemui kemarin siang, Sumadi masih tetap setiap menjaga tokonya. Sesekali pelanggan datang dan ia layani sendiri. Sama sekali tak tampak kerisauan pada raut mukanya terhadap tren musik yang sudah bergeser ke arah digital. Yang, tinggal download dan langsung putar di ponsel pintar masing-masing.

   “Tidak ada barang yang tidak laku," tandasnya optimistis. "Pokoknya harus sabar, nriman, dan tawakal. Itu," lanjutnya membeberkan kunci konsistensinya di bisnis kaset.

   Sumadi mengakui bahwa bisnis jual beli kaset pita di era digital seperti sekarang tidak mudah. Namun, itu tidak lebih berat dibanding saat ia mengawali bisnisnya pada 1970. Saat itu, ia harus berjualan di rombong alias gerobak karena belum kuat menyewa tempat.

   Baru, setahun kemudian, 1971, ia mampu menyewa kios di Jl Pattimura yang kemudian berkembang menjadi tokonya yang legendaris itu. "Saya di sana (Jl Pattimura, Red) sampai 2011," ungkap ayah tujuh anak yang suka memakai kacamata gelap tersebut.

   Puncak keemasan bisnis kaset pita dirasakannya pada 1980-an hingga akhir 1990-an. Dalam sehari, pelanggan yang datang ke tokonya bisa mencapai 500 orang. "Pas ramai-ramainya, sehari bisa tiga ribu kaset terjual," kisahnya. Bahkan, ada yang beli secara grosir.

   Masa keemasan itu semakin terasa ketika sedang booming tape recorder merek Philips seri 2205 sekitar 1985. Pemutar kaset tersebut digandrungi anak muda karena ukurannya kecil, bisa menggunakan tenaga baterai, dan praktis dibawa ke mana-mana. Nah, anak-anak muda itu, biasanya membeli kaset di tokonya. Lalu, diputar di tape recorder tersebut yang ditenteng sambil pacaran ke Gunung Klotok. "Ya, kenangan zaman dulu, Mas," ujar pria asal Desa Bulu, Kecamatan Purwoasri ini.

   Lalu, sekitar 1989, ganti booming walkman. Pemutar kaset yang jauh lebih kecil lagi dan praktis dibawa ke mana-mana. Toko Sumadi Kaset semakin menjadi jujukan untuk mendapatkan kaset sebelum diputar di walkman. "Saat itu, kaset kosong juga banyak yang cari untuk rekaman. Biasanya wartawan atau pengacara yang butuh," terangnya.

   Bisnis kaset pita mulai meredup ketika teknologi rekaman mulai beralih ke CD, VCD, dan DVD. Sumadi sempat mengikutinya dengan menambah koleksi dagangannya berupa keping-keping cakram tersebut. Namun, kaset-kaset pitanya tak pernah ia tinggalkan. Tetap tersedia. Dan, dalam versi originalnya. Bukan bajakan. Hal itulah yang ia pertahankan sampai kini dan justru menjadi nilai lebih. "Banyak kolektor yang mencari," tuturnya.

   Namun, Sumadi sadar, ia harus melakukan regenerasi. Sang sulung, Suprihaji, yang dipercaya untuk melanjutkan. “Selain ada tokonya, bisnis kaset ini pun juga saya lakukan di online, Mas," kata Aji, panggilan akrab Suprihaji, membeberkan pembaruan yang coba dilakukannya.

   Ia rajin meng-upload koleksi dagangan kaset pitanya ke media sosial (medsos) untuk menjaring pembeli. Upaya ini terbukti efektif. Banyak kolektor yang tertarik. Mereka rela memburunya meski harganya mahal. Aji pernah menjual kaset pita ke kolektor dengan harga Rp 1 juta per keping. “Yang banyak dicari dan langka itu gending-gending, seperti kasetnya Ki Nartosabdo dan Nyi Tjondrolukito,” ujar pria 23 tahun ini.

   Tidak hanya itu. Banyak album kaset pita dari artis luar negeri yang dicari kolektor. Ia menjualnya dengan harga Rp 100 ribu hingga Rp 1 juta setiap keping. Di antaranya album Deep Purple, Metallica, hingga Bob Marley. Adapun album musisi dalam negeri yang kerap dicari dengan harga mahal antara lain Rhoma Irama dan Koes Plus. “Selain karena original, kaset pita itu sudah tidak diproduksi lagi saat ini. Sehingga cukup langka,” ungkap anak pertama Sumadi ini.

   Perusahaan-perusahaan rekaman semacam Sony Music dan EMI juga tidak lagi memproduksi. Mereka lebih memilih CD sebagai medianya. Hanya Lokananta dan Kusuma, menurut Aji, yang masih bertahan pada pita kaset. Itu pun sudah sangat jarang berproduksi. Makanya, hal seperti itu yang semakin membuat kaset-kaset pita koleksinya menjadi langka dan berharga mahal. “Inilah rezeki penjual kaset pita diera digital ini, Mas,” ujarnya.

   Kaset pita juga lebih dicari kolektor daripada CD atau VCD karena keawetan dan kejernihan suaranya. Sepanjang tidak putus atau kusut pitanya, tetap bisa didengarkan. Bahkan, mesk putus pun, masih bisa diputar setelah disambung lagi. “Kalau CD dan VCD, beret atau pecah sudah tidak bisa dimainkan lagi,” terang alumnus SMK PGRI 1 Kediri ini. 

   Aji menggunakan akun khusus Sumadi Kaset di Facebook, Instagram, bahkan situs jual beli seperti Bukalapak dan Tokopedia. Dengan demikian, jangkauannya semakin luas. Tidak hanya Indonesia, tapi juga luar negeri. “Kalau ingin lihat koleksi kami, buka saja akun Sumadi Kaset, Mas,” tutupnya.

(rk/fiz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia