Minggu, 24 Jun 2018
radarkediri
icon featured
Features

Cerita Para Siswa yang Sekolahnya Kebanjiran

Senang Bisa Main Air, Sedih karena Sepatu Hilang

Sabtu, 24 Feb 2018 14:20 | editor : Adi Nugroho

banjir kediri - radar kediri

TERENDAM: SDN Ngablak 1 harus meliburkan siswanya akibat gedung yang terkena banjir. (PUSPITORINI DIAN - JawaPos.com/RadarKediri)

Banjir besar yang terjadi dini hari kemarin berdampak pada kegiatan belajar-mengajar di dua sekolah di Kecamatan Banyakan. Ada yang siswanya dipulangkan lebih awal, ada yang terpaksa diliburkan. Namun, para siswa itu berharap sekolah bisa kembali normal.

PUSPITORINI DIAN H.

Bila, begitu dia akrab disapa, tahu betul kalau kemarin pagi sekolahnya libur. Bagaimana tidak, siswa pemilik nama lengkap Kamidatul Khusna Nabila ini tinggal tepat di belakang SDN Ngablak dan melihat separo gedung sekolahnya tertutup genangan air.

Siswi kelas tiga ini pun sempat menjenguk kelasnya. “Airnya separo masuk kelas, bukunya basah semua,” tutur anak sembilan tahun ini. Sebenarnya, ini bukan banjir pertama yang dialami Bila, tetapi baru kali ini banjir benar-benar merendam sekolah dan juga rumahnya. “Kalau dulu ndak sampai masuk rumah,” sambungnya.

Banjir yang terjadi kemarin benar-benar menjadi pengalaman yang tidak bisa dilupakannya. Bila yang masih tertidur lelap sekitar pukul 02.00, dibangunkan ibunya ketika air sudah masuk rumah. Karena kaget, Bila terbangun dengan rasa deg-degan. “Takut, Mbak,” ucapnya. Apalagi, air yang masuk ke rumah memang sudah setinggi lutut orang dewasa. Dia dan kedua orang tuanya pun langsung bergegas memindahkan barang-barang berharga. “Seragam, buku, semua basah,” tuturnya.

Satu yang sampai saat ini disesalkan Bila, yakni sepatu sekolahnya yang raib entah kemana. Padahal, itu satu-satunya sepatu sekolah yang dimilikinya. “Ndak tahu kalau sekolah nanti bagaimana. Mungkin beli lagi,” ucapnya sambil tetap bermain air.

Ya, hari kemarin memang menjadi hari menyedihkan baginya sekaligus menyenangkan. Bila yang senang bermain air pun benar-benar memuaskan diri. Bahkan, banjir yang merendam sekolahnya hingga satu meter dijadikan kolam renang dadakan.

Kedalaman air yang mencapai sekitar satu meter itu pun dimanfaatkan Bila sebagai tempat berenang bersama teman-temannya. Sesekali, dia menuju ke beberapa ruangan. “Lihat ini, Mbak. Klelep kabeh,” ucapnya seraya menunjuk ruang guru yang sebagian besar ruangan terbenam banjir.

Meski terasa menyenangkan, Bila mengaku tidak ingin libur lama-lama. “Kalau bisa besok sekolah lagi. Bisa nggak, Mbak?” tanyanya. Dia mengaku sudah kangen dengan teman-temannya dan belajar lagi.

Ungkapan tak jauh berbeda juga diucapkan Riris. Siswi kelas VI SDN Ngablak ini juga berada tak jauh dari sekolah. Begitu tahu bangunan sekolahnya terendam banjir, dia sudah memastikan kalau sekolah libur. “Dulu sudah pernah seperti ini. Langsung libur,” ucapnya. Karena itu, kemarin, tidak ada siswa yang kecele. Meski sudah kali kesekian merasakan banjir, Riris tetap tidak menyangka gedung sekolahnya bisa tenggelam. “Ini paling besar (banjirnya, Red),” terangnya. Biasanya, banjir tidak sampai membuat ruangan kelas tenggelam. Selain itu, biasanya banjir cepat surut.

Karena sudah pernah merasakan banjir, kemarin pagi dia tidak sepanik tetangganya, Bila. “Disuruh bangun saja,” ucapnya. Begitu bisa melihat air yang masuk ke rumahnya, Riris kemudian memindahkan barang-barang berharga. “Untung saja, baju sekolahnya tidak basah,” ucapnya. Riris pun berharap bisa sekolah lagi. Mengingat dia harus belajar menghadapi ujian nasional.

Sedangkan Aurel, siswa kelas IV sengaja datang ke sekolah untuk melihat sekolahnya, kemarin siang. “Tahu kalau banjir, tadi bersih-bersih dulu di rumah,” ucap bocah 10 tahun ini. Setelah itu, dia ingin melihat sekolahnya. “Penasaran,” katanya singkat. Meski pernah mengalami sekolah diliburkan, Aurel mengaku kaget, air yang merendam sekolahnya sangat dalam.

Kalau SDN Ngablak meliburkan sekolahnya, berbeda dengan SDN Sendang. Di sekolah ini bagian halamannya terendam banjir hingga kedalaman satu meter. Siswa pun harus memutar dari sisi belakang sekolah untuk masuk gedung.

Sekolah yang biasa dimulai pukul 07.00 pun akhirnya molor menjadi pukul 08.30. Siswa yang menunggu pelajaran pun memilih bermain air di halaman sekolah. “Asyik, bisa main,” tutur Yudi, salah satu siswa seraya tertawa.  Yudi mengaku kaget kalau sekolahnya bisa banjir. Karena itu, kemarin seperti para siswa lainnya, dia pun tetap berangkat sekolah. 

Tapi, itu pun tak berlangsung lama, setelah masuk kelas dan diberi pengarahan, para siswa SDN Sendang pun sudah boleh pulang sekitar pukul 10.00.

(rk/*/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia