Selasa, 19 Jun 2018
radarkediri
icon featured
Features
Cerpen

--- Bianglala ---

Minggu, 25 Feb 2018 06:10 | editor : Adi Nugroho

Rina Septi Maharani

Rina Septi Maharani

 

            Berkali-kali ia hapus, berkali-kali ia coret. Hingga debu bercampur karet pembersih membentuk gumpalan menggunduk di sudut kertas. Sesekali ia berpaling ke jendela, di mana pohon flamboyan berbunga pink keunguan dengan segarnya. Merekah, seperti senyumnya dahulu yang sempat sedikit ia ulum bersama Mama. Masih ia ingat parfum melati, baju sanghai bermotif lili yang Mama kenakan. Dengan tatanan rambut disanggul kecil apik dan sederhana. Bibirnya bersaput lipstik merah marun khas anggunnya Mama.

            Bermain di halaman belakang, berkumpul ketika keluarga bersulang dan berkata dengan keras kyong hyi. Ia berada di tengah kerumunan engkong, emak, mama, dan papa. Dimanja dan tertawa di bawah barisan pohon flamboyan yang emak tanam sendiri. Ia menjadi malaikat kecil dengan banyak kecupan cinta. Pohon jeruk dengan gantungan banyak angpao dan suguhan kue keranjang yang tak habisnya ia makan.

            Hingga mimpi panjang itu berakhir. Ia tersadar telah berdiri di depan sebuah bianglala. “Stop! Stop!” teriakan cempreng memekakkan telinga Can. “Kowe sinting ya! Berapa kali putaran? Kowe mau aku amsyong?” sambil menunjuk-nunjuk bianglala yang dijaga seorang anak lelaki.

“Maaf ba, saya lupa.” Jawabnya lirih.

“Kowe kalau gak niat kerja sana ikut papamu sana!”

Ocehan Baba Ceng tak sedikit pun didengar Can. Ocehan itu terasa menguar semakin hening ketika kata ‘Papa’ terlontar dari mulut yang komat-kamit tiada henti. Papa, berarti neraka. Bau alkohol tak pernah hilang dari mulut papa setelah bertahun silam ia tak bisa melanjutkan bisnis engkong. Hanya gara-gara marga. Ia ditipu teman karibnya. Tanah engkong melayang sekejap mata.

Sejak saat itu, ia berkelana dari jalan satu ke jalan lain. Dari botol satu ke botol yang lain. Dari kunang-kunang yang hanya beberapa ke kunang-kunang yang berjumlah ribuan di kepalanya. Teriakan, bentakan, dan pukulan. Setiap hari mendarat di tubuh ringkih seorang Can yang kadang sesekali ditangkis tangan kecil ibunya dan membuahkan pertengkaran yang tiada habisnya. Can, anak lelaki kecil yang saat itu hanya bisa menangis dan bersembunyi di dekat almari. Almari baju satu-satunya warisan dari emak.

Lemari hadiah ulang tahun ke-6 setelah Can juga menjadi juara kelas. Terdapat ukiran khas seniman dengan gaya klasik Tionghoa bergambar singa yang mengaga. Ada meja kecil terbuat dari marmer untuk meletakkan barang dan cermin kecil yang sering Can pandangi ketika ia memakai baju baru. Tapi sekarang, cermin itu telah pecah, menjadi bukti dan saksi bisu hantaman demi hantaman Papa.

Jika ingat papa, maka bayangan yang lainnya adalah mama. Kulitnya yang putih dan halus lembut, harus kapalan ketika setiap hari harus memeras keringat demi keringat yang menempel di baju para majikannya. Bajunya kini tak seindah gaun-gaunnya dahulu, rambutnya kini tak sehitam dan serapi dulu, tapi ia tetap cantik. Sesungging senyum dengan lesung pipit menjadi penawar hati Can.

“Can, seharusnya kau tidak kerja, nak.” Belai Mama.

“Can ingin membelikan Mama gaun.” Tukas Can.

“Mama tidak ingin apa-apa dari Can, asalkan Can sekolah dengan baik, mama sangat bahagia.” Dari sudut mata mama, tertahan sebiji air murni yang tiap saat bisa menetes. Dengan cepat Can mengusapnya dengan lembut. Memeluk mama, adalah hadiah terindah dari segala gundah yang tiap saat menyergap hati dan relung jiwanya.

Waktu kian bergulir, setelah angin kencang menggugurkan bunga dan daun-daun Flamboyan. Bel turut membuyarkan lamunan Can yang menatap kosong kertas di hadapannya. Kertas gambar putih bertuliskan namanya. Candra Wiguna/ Kwee Sien Can/ Can.

Belum ada segores bentuk lengkung atau lurus sedikitpun di kertasnya, hingga terdengar suara Pak Choi.

            “Bapak beri waktu 10 menit untuk finishing!”

Sedikit menghela nafas dan mulai menarik sebuah garis dan membuat sebuah lingkaran, dengan langkah pasti Can mengumpulkan karya masterpiece-nya. Lalu dengan cepat ia mengampil tas dan pulang.

Ketika Pak Choi mulai memeriksa hasil karya anak didiknya, pandangannya terhenti pada sebuah gambar lalu ia amati. Gambar mata yang besar dan di dalam lingkar mata terdapat bundaran bianglala. Judul karyanya adalah “Bianglala di mata Mama”. Sedetik kemudian ia telisik siapakah pengarangnya? Begitu indah karya itu, siapakah yang menggambarnya? Candra Wiguna alias Can.

Dengan wajah sumringah, Pak Choi masuk kelas dan ingin segera mengulas gambar milik Can. Tapi setelah beberapa kali celingukan, matanya tak bisa menangkap sedikit siluet badan anak laki-laki berumur 13 tahun berperawakan tinggi kurus, Can.

“Ada yang tau, di mana Can?” tanya pak choi akhirnya.

“Can tidak masuk pak.” Jawab seorang murid.

“Ada yang tau ke mana?”

“eeemm...pak!” ketua kelas mengangkat tangannya.

“Ya?”

“Saya dapat kabar kalau mama Can kemarin sore meninggal, jatuh dari balkon rumah majikannya.” Dengan sedikit menunduk iba, ketua kelas menahan haru.

Dengan tanpa banyak kata, Pak Choi pergi ke rumah Can. Di sana sepi. Tetangga Can menceritakan panjang lebar tentang kehidupan Can dan keluarganya. Mereka juga menaruh belas kasihan atas segala kemalangan yang ia terima di usia remajanya. Setelah itu, tetangga mengatakan Can ada di tempat kerjanya. Ada hal yang ganjil di benak sang guru. Di suasana duka, menagapa Can tak mendampingi mamanya?

Benar saja, ia termangu di depan bianglala yang ia tunggu.

“Can, mengapa kau di sini? Berita itu...” belum selesai pak choi menanyakan tentang berita yang ia dengar, Can menjawab.

“Iya pak, mama saya disemayamkan di rumah duka. Mungkin tadi ketika bapak ke rumah, rumah saya sepi.”

“Lalu kenapa kamu di sini?”

“Saya, saya harus bekerja untuk biaya pemakaman Mama saya.” Jawabnya dengan terbata-bata. Tatapan matanya kosong menerawang jauh.

Pak Choi naik salah satu gondola ketika bianglala berhenti berputar. Satu, dua, tiga, berkali-kali putaran itu membawanya naik dan turun. Ia tak kunjung keluar. Tak terasa, air matanya mengalir menahan perih rasa hantinya. Air matanya tak kunjung kering ketika melihat Can yang duduk termangu. Seperti ia melongok ke dalam masa lalunya yang gelap dan dalam. Semakin ia pandang, semakin luas cermin yang ia tatap. (penulis adalah guru di SMP Al-Fath Pare)

-SELESAI-

(rk/*/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia