Sabtu, 23 Jun 2018
radarkediri
icon featured
Features
Cerpen

Binatang-binatang Kecil yang Membawa Hanif Masuk Surga

Oleh: Ahmad Zaenudin (*)

Minggu, 25 Feb 2018 15:40 | editor : Adi Nugroho

ILUSTRASI: NAKULA AGI SADA

ILUSTRASI: NAKULA AGI SADA

Cicak itu diam tak bergerak di pinggir pintu kayu rumah Celuk Buluh yang kaya akan ukiran khas Bali. Pintu itu dipadati oleh ukiran dedaunan yang melengkung dan bunga-bunga tropis yang melenggok —mengisi penuh permukaan pintu. Lengkungan dan lenggokan ukiran itu, akan membawa mata siapa saja yang sedang mengamati, kepada seekor burung kasuari yang jelas terukir pas di tengah-tengah pintu. Bulu-bulu ekornya menjulur-julur, melenggak-lenggok, mengharmonikannya dengan julur-julur dedaun perdu. Cicak yang sedari tadi ngetem di pinggir pintu itu mulai bergerak dengan lamban, menuju ke tengah-tengah pintu, berhenti dengan sikap sempurna pas di atas bokong kasuari.

Sekonyong-konyong cicak itu menjentikkan pantatnya. Sedetik kemudian: prot. Taik kecil berwarna hitam dan berujung putih itu segera saja jatuh ke lantai merah terakota. Cicak itu diam lagi. Sebentar kemudian diregangkan badannya. Sepertinya memberi aba-aba tubuhnya untuk melakukan pemanasan, sebelum bergerak melesat ke atas, memanjat dengan gemulai di sepanjang alur-alur ukiran pintu itu. Gerakan jalannya melenggak-lenggok berusaha mengkamuflase tubuhnya dengan lenggokan pahatan ukiran pintu kayu yang kaya dan detail. Mungkin ia pikir ada manusia yang sedang mengamatinya. Mungkin ia pikir ada manusia yang sedang geram karena taik yang baru di-prot-kannya, makanya perlu segera untuk menyamarkan diri. Padahal Hanif, manusia yang sedari tadi mengamati tingkah laku cicak di atas bangku kayu tak jauh dari pintu itu, malah terpesona akan gerakan gemulainya. Diseruputnya kopi hitam, dinikmatinya detik-detik itu, sampai-sampai, titik-titik taik kecil cicak hitam putih yang mengotori lantai merah terakota itu kelihatan seperti sebuah karya seni.

Tokek, alias maknya cicak pas jaman purba, tak kalah serunya melakukan aksinya di rumah Celuk Buluh. Tokek ini biasanya tidak berkeliaran di dinding-dinding kamar seperti cicak. Wajah dan bentuk purbanya pun jarang sekali terlihat. Hanya suaranya saja yang nyaring melengking, membagi hari bahagianya kepada penghuni alam semesta yang lain. Saking nyaringnya, suaranya dapat mengalahkan suara gonggongan anjing tetangga yang memergoki seseorang yang sedang berjalan di kegelapan malam, atau mengalahkan suara melengking dua kucing yang ingin kawin. Bahkan suaranya dapat mengalahkan nyanyian Pak Pendeta dari corong pura Majapahit, atau suara muazin dari masjid Banjar Jawa. Dari sumber suaranya dapat Hanif lokasikan tempat nongkrongnya. Tokek itu pastilah bernaung di atap garasi, di sudut pojok atas di arah timur laut. Tepat di garis pojok atap yang berbatas dengan langit abu-abu musim penghujan. “Hush hush…jangan keras-keras, nanti tetangga tahu di mana kamu berada!” pekik Hanif kira-kira. Dirahasiakannya tempat itu, tak dibiarkannya tetangga menangkapnya. Kata orang-orang, tokek bagus untuk obat kuat.

Longokan kepala-kepala anak bunglon di cabang-cabang pohon mangga menarik perhatian Hanif yang sedari tadi masih menyeruput kopi, duduk termangu memikirkan plot-plot yang akan ia tulis untuk buku selanjutnya. Lucu juga bunglon-bunglon kecil itu. Anak-anak, dalam kerajaan hewan, selalu nampak lucu, menggemaskan, tak terkecuali anaknya hewan buas yang tega memakan manusia sekalipun. Bunglon-bunglon kecil itu berlarian memanjat batang pohon mangga dengan cepat, melesat dari cabang ke cecabang yang lain. Warnanya berkilauan, tak kalah cantik dengan warna burung kasuari. Warna coklat kulitnya diselingi oleh warna hijau, kuning, dan merah, cantik sekali, apalagi kalau gelambir di lehernya melebar, tambah menawanlah sosoknya. Sepertinya mereka tak sadar kalau Hanif sedang mengamati, karena warna-warna itu tak berganti. Atau, mungkin anak-anak bunglon itu belum menguasai betul aji menyamarkan diri.

Siang tadi, dua ekor tawon merah nan besar berkeliaran di teras. Nampak sekali kalau sepasang tawon itu berusaha mencari sarang barunya. Hanif pun segera mengacungkan jempolnya. “Asal tidak bersarang di kamar tidur saja!” teriaknya. Sarang lamanya, yang berada pas di pojokan atas kamar tidur, baru saja Hanif sapu dengan sapu yang gagangnya ia panjangkan dengan pipa paralon. Gagang sapu itu melengkung, fisiknya jauh dari gagang sapu nenek sihir yang kokoh dan garang, yang konon kabarnya dapat terbang. Meski begitu, sapu itu akhirnya dapat menjangkau sarang sepasang tawon itu di pojokan atas kamar tidur. Sarang itu menggelantung di langit-langit kamar tidur yang terbuat dari anyaman bambu yang melekat pas di bawah atap. Sepertinya sarang itu tidak melekat kokoh. Tetapi satu tebasan sapu tak mempan merubuhkannya. Entah karena daya lekatnya yang luar biasa, atau gagang sapu setengah bambu setengah paralon ini yang loyo. Baru tebasan ketiga yang akhirnya dapat menjatuhkan sarang tawon itu ke lantai terakota. Dua tawon yang sepertinya telah berikrar sehidup semati untuk menghabiskan hidupnya di sarang itu pun mengamuk. Larilah Hanif melolong meminta tolong kepada  tetangga yang sedang mengecat tembok pagar.

Jengkerik kecil itu tersungkur-sungkur berusaha memanjat dinding bak mandi yang putih dan licin. Lompatannya tidak dapat membebaskannya dari lubang besar bak mandi itu. Karena tak sudi untuk mandi bersama-sama dengan jengkerik-jengkerik itu, Hanif pun berusaha menangkap mereka agar segera keluar dari bak mandi itu. Lincah juga jengkerik-jengkerik kecil ini. Tak satupun dari mereka dapat ditangkap dengan tangan-tangannya. Kembali sebuah sapu menjadi aji untuk mengusir mahluk kecil nan bodoh ini. “Hayuk! keluar-keluar! Kalau tidak, kalian akan terjerumus ke dalam air panas yang baru saja mendidih yang segera tertuang ke dalam bak mandi ini!” perintah Hanif tak sabar. Akhirnya mereka melompat-lompat di antara ijuk-ijuk sapu. Berhasil meloncat tinggi ke udara. Hilang bersembunyi di antara padang tanaman perdu penghias kamar mandi rumah Celuk Buluh.

Laba-laba itu berkaki panjang, kurus dan ceking. Laba-laba itu, yang sedang menganyam jejaringnya melintang di antara dua dinding di pojokan atas kamar mandi, dilihat Hanif pas ia sedang merenung, duduk di tatakan toilet berwarna putih. Mengejan. Berusaha mengeluarkan taiknya. Meski selama duduk di toilet dilarang untuk memikirkan ibadah, apalagi menyebut nama Allah dan Nabi Muhammad, namun tetap saja tanpa kuasa  dicegah, ia sekonyong-konyong beristighfar, memohon ampun atas apa yang baru saja dipikirkannya. Ia baru saja berniat untuk menebas habis laba-laba itu setelah selesai menunaikan kebutuhan biologisnya, tapi seketika ia teringat akan kisah laba-laba yang pernah menyelamatkan Nabi pas beliau dikejar-kejar oleh Kaum Jahiliyah. Laba-laba itu menutup pintu gua dengan jejaringnya, membuat Kaum Jahiliyah pengejar Nabi berkesimpulan: pastilah Nabi tidak sedang bersembunyi di dalam gua. Oleh karena itulah, menjadi sunah hukumnya untuk tidak membunuh laba-laba. Sekali lagi ia beristighfar, lupa kalau ia sedang mengejan, mengeluarkan taik di atas lubang toilet itu, bersyukur karena ia teringat akan kisah itu. Mudah juga melakukan sunah ini. Tinggal tidak membunuh laba-laba, surgalah bonusnya.

Ditambah lagi, Hanif juga tidak membunuh binatang-binatang kecil lain yang berkeliaran di rumah Celuk Buluh. Cicak itu. Tokek itu. Bunglon itu. Tawon itu. Dan jengkerik itu. Semakin mudahlah ia akan masuk surga. Amin.

Bali, Oktober 2017

*) Asal Kediri, penulis buku “Ketika Emak Memakai Celana Dalamku”

(rk/*/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia