Rabu, 20 Jun 2018
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Kaji Kepemimpinan Perempuan ke Tingkat Internasional

Jumat, 08 Dec 2017 17:27 | editor : Panji Atmoko

BEDAH PAPER: Ketua PSG STAIN Kudus Nur Said (kanan) bersama narasumber dalam forum ICIGS STAIN Kudus di lantai III Rektorat STAIN Kudus kemarin.

BEDAH PAPER: Ketua PSG STAIN Kudus Nur Said (kanan) bersama narasumber dalam forum ICIGS STAIN Kudus di lantai III Rektorat STAIN Kudus kemarin. (STAIN KUDUS FOR RADAR KUDUS)

KUDUS – Peranan perempuan selama ini jarang dikaji. Itu dikarenakan masyarakat masih menganggap perempuan sebagai seorang yang lemah dan tertinggal. Namun, hal itu dapat disangkal berkat penelitian tentang gender. Pembahasan itu melalui International Conference on Interdisciplinary Gender Studies (ICIGS) di lantai III Rektorat STAIN Kudus sejak Rabu (6/12) hingga kemarin (7/12). Acara ini digelar Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) STAIN Kudus bekerja sama dengan pusat kepemimpinan perempuan, Women Leadership Center (WLC) Tun Fatimah Hashim, Universiti Kebangsaan Malaysia.

Acara tersebut dihadiri Prof. Datin Dr. Norizan Abdul Razak (Director of Women Leadership Centre (WLC) Tun Fatimah Hashim Universiti Kebangsaan Malaysia), Prof. Dr. Ruhaini Dzuhayatin (Commissioner and The Coordinator of The Working Group on Women and Child Right of The IPHRC-OIC), dan Dr. Mahrus El Mawa, kasi Publikasi Ilmiah Subdit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Direktorat PTKI Ditjen Pendidikan Islam Kemenag RI. Dalam diskusi itu mampu menguak peranan perempuan itu tidak hanya mendampingi suami, tetapi mampu berperan sebagai pemimpin.

Dr. H. Mundzakir, M.Ag, ketua STAIN Kudus mengatakan, acara internasional ini sangat berkaitan dengan tujuan STAIN. Yaitu, memberikan solusi melalui penerapan sarjana Islam. ”Dalam hal ini berarti STAIN Kudus mencoba menjawab perkembangan isu perkembangan terakhir ini. Terutama, isu tentang gender. Oleh karenanya melalui kajian ini, kami ingin menjawab tantangan global mengenai peran kepemimpinan perempuan yang masih berdasar pada akar tradisi lokal,” paparnya saat membuka acara yang bertemakan Reinventing Women Leadership in Local Context Toward Global Impact.ICIGS ini, imbuhnya, baru diselenggarakan kali pertama. Tetapi, diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai daerah. Sehingga mampu memberikan forum untuk mempresentasikan tentang penelitian gender dan manusia dalam cabang studi ilmu pengetahuan.“STAIN Kudus mewadahi untuk mengkaji lebih dalam peranan perempuan. Utamanya penemuan kembali kepemimpinan perempuan lokal pada zaman dahulu, yang mampu memberikan dampak secara global,” jelasnya.Oleh karena itu, Mundzakir menambahkan, acara ini bisa menginspirasi program jurusan lain. Supaya menginisiasi sebuah pendidikan kebudayaan yang berkelanjutan. Dengan begitu berubahnya STAIN menjadi IAIN akan segera terealisasi. Hal itu dikarenakan membentuk institusi internasional membutuhkan usaha keras. Termasuk, membangun kerja sama dengan intitusi dari negara lain.  “Semoga kerja sama ini bisa berkelanjut untuk seterusnya. Saya harap melalui acara ini akan menstimulasi dan memunculkan penelitian-penelitian lebih lanjut. Terutama, isu gender dalam konteks lokal menuju dampak global,” imbuhynya.Ketua PSG STAIN Kudus Nur Said mengatakan, acara ini mendapat respon yang luas dari berbagai pulau seperti Sumatera, Jawa, Papua, Bali. Bahkan, peserta dari Malaysia. ”Alhamdulillah, kami menerima 30 abstrak dan paper yang berkaitan dengan tema,” ujarnya.Said menambahkan, tema kepemimpinan perempuan ini mendapat perhatian khususnya para peneliti. Mereka mencoba mengubur mitos bahwa perempuan itu lemah dan tertinggal. ”Karena berdasarkan penelitiannya, hampir di setiap daerah mempunyai banyak figur perempuan yang sangat berpengaruh bagi ranah global,” terangnya.Seperti peran Ratu Kalinyamat pada abad ke-16. Dia mampu menaklukkan samudera dengan menembus selat Malaka melawan serbuan Portugis. Ada juga RA. Kartini sebagai penggerak emansipasi perempuan melalui pendidikan. Selain itu, peran Ratu Shima pada abad ke-7 yang terkenal dengan aturan Kalingga. Sekarang lebih dikenal dengan peraturan perundang-undangan untuk menegakkan keadilan.Dr. Mahrus El Mawa menyampaikan, bahwa di dalam naskah kuno banyak terdapat cerita tentang keislaman di Nusantara. Namun, terkait isu perempuan masih jarang dikaji. Termasuk, kepemimpinan perempuan. Sebagaimana disebut dalam kajian Fathurahman (Anita Dhewi JP, 2016), sufi perempuan di Nusantara ini, khususnya di Jawa, tidak dapat dilepaskan dari kepemimpinan. Bukan hanya itu, kepemimpinan seorang ulama dipengaruhi oleh sufi perempuan tersebut. ”Dengan demikian, ternyata dalam dalam kajiannya, peran perempuan tidak hanya mendampingi suami, tetapi berperan dalam mempengaruhi kepemimpinan kesultanan atau kepemimpinan lainnya,” ucapnya. (ela)

(ks/ris/aji/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia