Sabtu, 23 Jun 2018
radarmadiun
icon-featured
Hukum & Kriminal

Begini Jawaban Subroto Terkait Pembunuhan Ayah Kandungnya

Jumat, 25 Aug 2017 11:30 | editor : Budhi Prasetya

Kapolsek Bendo AKP Daeng Winarto dan Kasatreskrim Polres Magetan AKP Partono saat melihat kondisi Subroto usai diamankan, Rabu (23/8) 

Kapolsek Bendo AKP Daeng Winarto dan Kasatreskrim Polres Magetan AKP Partono saat melihat kondisi Subroto usai diamankan, Rabu (23/8)  (Andi Chorniawan/Radar Magetan)

MAGETAN – Polisi dibuat geleng - geleng kepala dengan ulah Subroto. Warga Desa Belotan, Kecamatan Bendo, itu diduga nekat membunuh Sarno, bapak kandungnya. 

Peristiwa rajapati yang menggegerkan warga desa setempat yang terjadi Rabu (23/8) itu tak urung membuat aparat kepolisian garuk - garuk kepala. Pasalnya tidak ada saksimata yang melihat secara langsung saat pembunuhan itu terjadi. 

Hingga saat ini, Subroto lah yang jadi terduga tunggal pelaku pembunuhan tersebut. Lelaki 38 tahun itu selama ini diketahui tinggal serumah dengan korban. Pun, Broto -sapaan Subroto- dikenal mengalami gangguan jiwa. 

‘’Saya sangat kaget, sama sekali nggak mengira (Broto membunuh bapaknya),’’ kata Tukinem, salah seorang warga.

Tukinem mengungkapkan, Sarno sejatinya sangat sayang dengan Broto. Selama ini, korban tinggal serumah dengan anak bungsu lima bersaudara itu. Sarno yang tercatat sebagai ketua RT 11/RW 04 itu pula yang sehari-hari merawat dan memenuhi kebutuhan Broto. 

‘’Juga membawanya berobat kalau penyakitnya itu sedang kambuh,’’ ujar Tukinem kepada Jawa Pos Radar Magetan. 

Dia menyebutkan, Broto sudah sering dibawa berobat ke Solo dan Ngawi. Meski begitu, warga memilih menjaga jarak karena khawatir penyakitnya mendadak kambuh. 

Apalagi, empat tahun lalu seorang warga yang melintas di depannya langsung dilempari batu tanpa alasan jelas. 

‘’Selama ini Broto tidak pernah keluar rumah,’’ ungkapnya. 

Kasatreskrim Polres Magetan AKP Partono menyatakan, berdasarkan keterangan sejumlah saksi, dugaan pelaku pembunuhan mengarah ke Broto. 

Setidaknya, warga dan sang kakak yang tinggal sedesa menyebut Broto memiliki gangguan kejiwaan sejak belasan tahun lalu sekembalinya dari Kalimantan. 

‘’Belum diketahui. Karena gangguan kejiwaan itu, jadi tidak bisa ditebak,’’ jelasnya saat ditanya motif pembunuhan. 

Partono menambahkan, saat warga mulai memadati rumah Sarno, Broto diketahui sedang tidur di kamar depan. Petugas pun memutuskan memborgol kedua tangan dan mengikat kakinya. 

Itu dilakukan sebagai antisipasi agar tidak mengancam keselamatan warga jika sewaktu-waktu mengamuk. 

Partono sempat mencoba berkomunikasi dengan Broto. Yakni menanyakan apa alasan membunuh bapaknya. Namun, jawaban yang diberikan malah melantur. 

‘’Semuanya ini sudah sarapan belum?’’ jawab Broto tanpa ekspresi.  

(mn/cor/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia