Minggu, 24 Jun 2018
radarmadiun
icon featured
Features
Kisah Hidup

Tumor Sebesar Kelapa di Punggung Mbah Sumo 

Minggu, 05 Nov 2017 23:00 | editor : Budhi Prasetya

benjolan tumor

Sumanto dan Parmini menunjukkan foto Mbah Sumo. Sehari-hari, kakek 65 tahun itu hidup bersama pasutri itu. (R.Bagus Rahadi/Radar Madiun)

Dua tahun terakhir Mbah Sumo Marni mengidap tumor di punggungnya. Tumor yang semula hanya sebesar kepalan tangan itu terus membesar hingga seukuran kelapa. Sejatinya, kakek 65 tahun itu hidup sebatang kara. Kemurahan hati pasangan suami istri (pasutri) tetangganya yang setia merawatnya selama ini. 

CHOIRUN NAFIA, MADIUN

RAUT wajah Sumanto dan Parmini berubah sumingrah saat Jawa Pos Radar Madiun mengunjungi kediamannya di Desa Sebayi, Kecamatan Gemarang, Jumat (3/11) lalu. 

Keduanya mengabarkan bila Mbah Sumo Marni, penderita tumor di punggung yang sudah dua tahun belakangan mereka rawat telah dirujuk ke RS dr Moewardi Solo. 

‘’Sudah lima hari,’’ kata Parmini.

Namun, sejak dirujuk ke Kota Bengawan—sebutan Surakarta, keduanya belum menerima kabar perkembangan dari tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TKSK) setempat. 

‘’Mau menengok, biayanya dari mana? Hanya bisa menunggu,’’ jelas perempuan 60 tahun itu.

Mbah Sumo sejatinya bukan kerabat Parmini. Bukan pula saudara Sumanto. Kakek 65 tahun itu kebetulan menempati rumah kosong yang berada tak jauh dari rumah mereka. 

Mbah Sumo tak punya sanak saudara, apalagi anak. Pasutri ini pun tergerak untuk merawatnya saban hari, menyiapkan segala keperluan kakek yang awalnya hidup sebatang kara tersebut. 

‘’Siapa lagi yang mau merawat?,’’ terangnya.

Menurut Parmini, benjolan di punggung kanan Mbah Sumo itu mulai tumbuh dua tahun belakangan. Saat itu, masih sebesar kepalan tangan dan tidak terasa sakit sama sekali. 

Namun, Parmini curiga dan mengajaknya periksa ke puskesmas. Ajakan itu ditolak lantaran Mbah Sumo tak merasakan sakit. Akan tetapi, benjolan itu terus membesar setiap harinya. 

‘’Akhirnya dia bersedia diajak ke puskesmas. Setiap obatnya habis, minta diantar periksa lagi,’’ imbuhnya. 

Baik Parmini dan Mbah Sumo tak mengetahui benjolan apa itu. Begitu pula dengan penyakitnya. Sekitar tiga bulan lalu, Mbah Sumo dibawa ke RSUD Caruban. 

Ternyata, benjolan di punggung itu merupakan tumor. Lantaran benjolannya sudah terlampau besar, pihak rumah sakit merujuknya ke RSUD Soedono Kota Madiun. 

Sama, rumah sakit milik pemerintah provinsi Jatim itu angkat tangan. Hingga akhirnya merujuk Mbah Sumo ke RS Moewardi Solo. 

‘’Untuk ke sana tidak ada biaya. Apalagi jika harus menunggu,’’ jelasnya.

Benjolan sebesar kelapa itu membuat tangan kanan Mbah Sumo harus selalu terangkat. Tangan kanannya tidak dapat digunakan untuk beraktivitas. Untuk makan, dia menggunakan tangan kirinya. 

Baru sekitar tiga bulan terakhir, Mbah Sumo mengeluhkan sakit. Saat malam, benjolan itu terasa cenut-cenut. Namun, saat siang tidak terasa sakit apapun. 

‘’Mungkin selama ini tidak berani bilang,’’ ungkapnya.

Selama dua tahun terakhir, memang hanya Parmini dan Sumanto yang dimiliki Mbah Sumo. Meski tak ada hubungan kekerabatan sama sekali. 

Layaknya saudara laki-laki Sumanto juga kerap mengajak Mbah Sumo ke Pasar Sugihwaras untuk sekadar mencukur rambut. Tak jarang, Sumanto harus merayunya agar rambut gondrong Mbah Sumo mau dipangkas. 

‘’Kalau gondrong kelihatan kurus,’’ timpal Sumanto.

Selama dua tahun terakhir pula, tak ada aktivitas yang dilakukan Mbah Sumo. Maklum, tubuh rentanya tak mampu lagi untuk bekerja. 

Mbah Sumo terkadang merasa sungkan jika harus menumpang makan ditempat Sumanto dan Parmini. Sebab, dia tak membantu pekerjaan apapun. Tak jarang dia menahan lapar agar tidak meminta makan ke rumah mereka. 

‘’Selalu saya bilang, mending isin timbang luwe,’’ katanya.

Selain dari pasutri lansia itu, Mbah Sumo juga kerap mendapat makanan dari para tetangga. Setiap jalan-jalan keliling desa, selalu saja ada warga yang memberikannya makan. 

Jika sudah demikian, dia tidak akan pergi ke rumah Parmini dan Sumanto untuk meminta makan. Mbah Sumo memang tidak pilih-pilih makanan. Apapun yang diberikan selalu dimakannya dengan lahap. 

‘’Beraninya minta makan hanya di sini. Tidak berani ke tetangga yang lain,’’ ungkapnya.

Sumanto memang kenal betul dengan Mbah Sumo. Sejak masih remaja, mereka memang sudah kenal. Mbah Sumo sering ikut bekerja sebagai buruh di tempat orang. 

Sejak itulah, dia terpisah dengan saudara dan orangtuanya. Sehingga wajar jika dia tinggal sebatang kara di usia senjanya. 

‘’Tapi, tidak ada yang tahu tinggalnya di mana,’’ jelasnya.

Selain menjadi buruh, Mbah Sumanto juga kerap memelihara sapi milik orang. Dari merawat sapi itu, dia mendapat upah anakan sapi jika sudah beranak pinak. 

Namun, tampaknya keberuntungan belum berpihak. Pernah, sapi yang dipiaranya mati. Alhasil, dia tidak mendapat upah. ‘’Pekerjaan ya seadanya,’’ terangnya.

Besar harapan Sumanto agar Mbah Sumo sembuh dari tumor yang menggerogoti tubuh rentanya. Nantinya, dia bakal berembug dengan pemerintah desa siapa yang bakal merawat Mbah Sumo. 

Sebab, rumah kosong yang ditempatinya selama ini bakal ditempati oleh anak pemiliknya. 

‘’Terserah nanti mau tinggal di mana,’’ pungkasnya.

(mn/bel/sib/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia