Senin, 25 Jun 2018
radarmadiun
icon featured
Ponorogo

Meski Akui Salah, Pemilik Bentor Menolak Berhenti Beroperasi

Jumat, 08 Dec 2017 17:30 | editor : Budhi Prasetya

penertiban bentor

Bentor diparkir di kawasan kantor bupati saat pemiliknya menggelar dialog dengan bupati. (Asta Yanuar/Radar Ponorogo)

PONOROGO - Harapan ratusan pemilik bentor mendapatkan dukungan bupati bisa dikatakan gagal. Pasalnya, Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni enggan melegalkan becak bermesin itu sesuai tuntutan 250 warganya yang tercatat sebagai pemilik bentor itu. 

Alhasil pertemuan yang digelar Kamis malam (7/12) tidak menghasilkan solusi yang jelas. Ipong mengaku belum ada keputusan yang diambil dari pertemuan tersebut. 

Dia menganggap baru menerima pengaduan dari warganya, khususnya pengendara bentor, terkait penertiban yang gencar dilakukan polisi belakangan ini. 

‘’Saya akan koordinasi dengan cepat, terkait apa yang mereka keluhkan,’’ ungkapnya.

Sementara Ketua Paguyuban Bentor Ponorogo, Sunarso mengatakan, para pengendara bentor menolak berhenti beroperasi. Permintaan tersebut bermula dari sejumlah bentor yang dikandangkan polisi belakangan ini. 

Mereka menuntut agar bentor tetap diperbolehkan beroperasi. Dikatakan, sekarang ini bentor telah menjadi alat transportasi yang bermanfaat bagi masyarakat Ponorogo. 

‘’Bentor itu luar biasa, sederhana dan murah,’’ ungkap Sunarso.

Dia menyebut penertiban bentor tidak manusiawi. Sebab, itu menjadi mata pencaharian pokok pengendaranya. Sunarso tidak menampik bahwa bentor itu salah. 

Namun, sekarang ini tidak sedikit masyarakat yang mencari nafkah dengan bentor. Disebutkan, bentor yang resmi terdaftar dalam paguyuban sejumlah 465 orang.

‘’Dalam aksi ini ada 250 lebih bentor turun, yang lain sudah ditertibkan,’’ katanya.

Sunarso mengharapkan bentor tetap eksis. Menyoal ketertiban berlalu lintas, pihaknya siap diajak mencari solusi asalkan bentor tetap jalan. 

Dia ambil contoh penanganan lokalisasi di daerah Kedungbanteng. Dikatakan, mereka ditangani dengan sosialisasi dan dibina perlahan. 

‘’Pertanyaannya, patutkah bentor yang mencari rezeki halal 'dibunuh' begitu saja?,’’ tambah Sunarso.

Terkait rencana solusi yang santer terdengar, Sunarso menyambutnya dengan baik. Yakni solusi untuk berlih ke becak kayuh atau menjajal ojek online. 

Namun, lanjutnya, melihat usia pengendara bentor yang mayoritas sudah sepuh, kembali ke becak kayuh bukan solusi yang pas. Pun, ojek online. Kendalanya, pengendara bentor belum begitu menguasai teknologi. 

(mn/mg8/sib/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia