Senin, 18 Jun 2018
radarmadura
icon featured
Features
Mengikuti Pembahasan Keunikan Kopi Nusantara

Arabusta Prancak Sumenep Tercampur Alami saat Panen

Kamis, 26 Oct 2017 08:00 | editor : Abdul Basri

ANDAL: Hery Ahmad (kanan) melakukan demo pembuatan kopi robusta di Café Palenggien, Kelurahan Pejagan, Kecamatan Kota Bangkalan, Rabu (18/10).

ANDAL: Hery Ahmad (kanan) melakukan demo pembuatan kopi robusta di Café Palenggien, Kelurahan Pejagan, Kecamatan Kota Bangkalan, Rabu (18/10). (A. YUSRON FARISANDY/Radar Madura/JawaPos.com)

BANGKALAN – Warung kopi kian merebak di pinggir jalan. Dari pelosok desa hingga perkotaan. Namun hanya sebagian saja yang mengerti tentang filosofinya.

Seperti hari-hari biasa, jalanan Kota Bangkalan ramai kendaraan, Rabu (18/10). Muda-mudi mengisi tempat tongkrongan warung kopi. Meski yang dipesan bukan berbahan dasar kopi.

Di Kota Salak banyak penjual kopi tanpa harus membangun dan menyediakan kursi pengunjung. Cukup lesehan dengan alas seadanya di trotoar. Tersedia kopi dan bubuk minuman sachet berbagai merek. Itu seperti yang terlihat di sepanjang trotoar Stadion Gelora Bangkalan (SGB).

Namun bukan berarti tak banyak kafe di Kota Salak. Banyak. Dari harga berkelas hingga merakyat. Interior yang elegan hingga tampilan alami. Serba-serbi pedagang dan pengusaha menarik pengunjung untuk duduk dan memesan menu. Di salah satu kafe di daerah Kelurahan Pejagan ada aktivitas berbeda.

Tidak hanya tongkrongan ngopi. Di pojok kafe terlihat seseorang sedang menjelaskan tentang kopi. Saat itu para pencinta kopi berbagi pengetahun edukopi alias edukasi kopi. Pengunjung saat itu mendapat pemaparan dari para pencinta dan pemerhati kopi nusantara.

Kopi itu mewah. Namun bukan kopi pabrikan yang sudah berbentuk sachet. Banyak hal yang harus dipahami. Membuat kopi bukan sebatas dengan gelas, diseduh, dan disajikan. Ada cara tertentu untuk menyajikan kopi spesial.

Pengamat Kopi Nusantara Hery Ahmad menerangkan, berdasarkan perjalanannya, cara penyajian kopi selalu berubah-ubah. Sebelum 1990, kopi sebagai konsumsi massa dan instan menjadi produk utama. Pada 1990 muncul konsep merek kopi dan pengembangan budaya kedai kopi dengan penjualan franchise serta minuman berbasis espresso.

”Pada 2000 ke atas kopi mulai fokus pada kualitas roasting. Kopi dibuat secara manual dengan alat khusus. Kopi sebagai minuman kuliner spesial dengan sumber jelas dan transparan kepada konsumen,” jelas pria kelahiran Bangkalan, 23 April 1982 itu pada acara Edukopi di Café Palenggien.

Gaya dan cara penyajian kopi juga semakin berkembang. Penyajian kopi berkembang menggunakan metode dan prinsip ilmiah. Akurasi dan pengukuran dalam pembuatan kopi serta pemahaman mendalam tentang sifat kopi. ”Misal perhatian terhadap zat kimia pada air yang digunakan. Kemudian alat yang digunakan sudah canggih,” papar pria yang tinggal di Jalan Trunojoyo Nomor 144, Kampung Bargan, Desa/Kecamatan Socah, Bangkalan, itu.

Hery mulai mengamati kopi sejak 2004. Dia menerangkan, penyaji kopi atau yang populer dengan sebutan barista tidak bisa disamakan dengan penyaji atau penjual kopi sachet di warung-warung kopi instan.

Dia mengatakan, barista merupakan seorang peracik kopi, sales person, humas, entertainer dan cleaning service yang bisa membuat dan menerangkan mengenai kopi yang dibuat. Selain itu, mengetahui metode dan seluk-beluk kopi. 

Barista harus mampu menciptakan hubungan baik dengan tamu melalui pendekatan secara personal. Dengan begitu, tamu merasa terhibur dan menularkan pengalaman tersebut kepada teman dekat dan orang yang dikenal. Selain itu, dia membersihkan hasil kerjanya.

”Apabila hal tersebut sudah dilakukan, terciptalah kepuasan pelanggan. Hal tersebut adalah fondasi dari berjalannya ekonomi kafe,” terang Coffee Trainer Indonesian Food and Beverage Executive Association (IFBEC) pada 2011 itu kepada koran ini.

Hery juga pernah menjadi Marketing Coffee Domestic pada 2012. Pada 2013 naik daun menjadi Marketing Coffee International. Menurutnya, banyak hal yang membedakan kopi nusantara dengan negara lain.

”Bibit kopi di Indonesia adalah tertua ke-3 di dunia. Tepatnya tahun 1696 dibawa Belanda ke Indonesia. Selain itu, kopi nusantara memiliki banyak jenisn yang memiliki banyak rasa dan berbeda-beda di setiap daerah di Indonesia,” ungkap Hery yang juga pernah menjadi Coffee Trainer di BMW Company, Beijing, Cina, pada 2013 itu.

Secara umum, kopi membuat kebiasaan jelek Hery menjadi pribadi yang lebih baik. ”Dulu pemabuk, kini pemikir,” ujar pria muda yang kini menjabat Co. Founder Extremely Specialty Coffee Roastery & Shop Riyadh, Kingdom of Saudi Arabia (KSA) sejak 2015 ini.

Madura juga memiliki perkebunan kopi. Produk kopi Madura ini terkenal unik dan baru diketahui. Kebun kopi di Desa Prancak, Kecamatan, Pasongsongan, Sumenep, merupakan jenis arabusta mixing. Yakni gabungan antara arabika dan robusta yang tercampur secara alami mulai dari saat panen.

”Biasanya mixing atau blend dilakukan saat proses penggorengan atau roasting. Kalau ini tidak. Memang alami. Rasanya jadi seimbang antara asam dan pahit kopi. Keseimbangan rasa kopi inilah yang paling banyak dicari oleh para coffee lover dunia,” tuturnya.

Dia mengaku baru mengetahui jika di Sumenep terdapat kebun kopi arabusta. ”Kalo saya pribadi mulai tahu bulan ini. Tapi ditemukan orang luar Sumenep 2016. Pembelinya dari Sidoarjo,” ungkapnya.

Pihaknya berencana akan ikut membeli produksi kopi asal Kota Sumekar. Terlebih, untuk dikenalkan dan dipasarkan di Bangkalan. ”Kita harus mengapresiasi adanya kebun kopi arabusta di Sumenep dengan cara membeli dari pemilik kebun,” tutupnya.

Dia menjelaskan jika kopi Arabusta Prancak Sumenep diberi nama demikian karena varietas robustanya masih tercampur sedikit biji arabica. 

Diterangkan kopi Arabusta Prancak memiliki varietas campuran secara alami. Petani memetik biji kopi arabika dan robusta serta dicampur dalam satu wadah. ”Dari cara panen petani ini yang alami. Langsung tercampur saat panen,” ungkapnya.

Bentuk dari biji kopi Arabusta Prancak Sumenep sedang. Ada juga yang tebal. Memiliki rasa gula cokelat dan dark chocolate aftertaste. Juga, beraroma kacang panggang. Lokasi kebun terletak di ketinggian 400 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Hendra Trio Prasetiya menerangkan, kegiatan edukopi diikuti sekitar 10 barista di Bangkalan. Selain presentasi, kedua pemateri juga melakukan demo pembuatan kopi menggunakan alat khusus. ”Kegiatan ini juga untuk memberikan pengetahuan kepada para pencinta kopi,” ucapnya.

(mr/luq/bad/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia