Sabtu, 23 Jun 2018
radarmadura
icon featured
Pamanggi
Indonesia Bangsa Majemuk

Membangun Kebersamaan dalam Kebhinnekaan Bangsa

Oleh: K. Moh. Ali Wasik*

Sabtu, 18 Nov 2017 15:54 | editor : Abdul Basri

K. Moh. Ali Wasik

K. Moh. Ali Wasik (ISTIMEWA)

BANGSA Indonesia adalah bangsa yang kaya dengan budaya, tradisi, etnis, dan beragam agama. Oleh sebab itu, bangsa Indonesia dapat dikatakan sebagai bangsa yang majemuk, multikultural, dan bhinneka. Sebagai bangsa yang majemuk dan multikultural, bangsa Indonesia dihadapkan pada realitas yang sangat rumit apabila masyakat masih berpola pikir primordialistik.

Berpikir primordial merupakan ancaman pada kesadaran dalam membangun kebersamaan sebuah bangsa besar yang majemuk ini. Kejadian-kejadian yang memicu pada konflik SARA merupakan contoh bahwa sebagian masyarakat kita masih berpikir primordial. Juga, adanya faktor lain yang melatari terjadinya konflik SARA tersebut. Misalnnya, karena adanya konflik politik dan penguasaan ekonomi.

Kesadaran Bhinneka Tunggal Ika sebenarnya merupakan bangunan yang telah dicapai oleh bangsa ini dengan berbagai usaha yang telah dilakukan para pendiri bangsa. Sumpah Pemuda pada 1928 merupakan langkah nyata yang dilakukan para pemuda kala itu. Kemudian, dilanjutkan saat persiapan kemerdekaan dengan memasukkan sila persatuan dalam Pencasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa. Hal ini adalah bukti nyata bahwa kesadaran Bhinneka Tunggal Ika sudah ditancapkan dalam pola kesadaran masyarakat bangsa, sehingga terbentuklah bangsa yang besar dan bangsa yang satu yaitu bangsa Indonesia.

Bhinneka dalam bingkai bangsa Indonesia di antaranya adalah; pertama, Bhinneka mata pencaharian (petani, nelayan, pedagang, pegawai, peternak, dan lain-lain). Kebhinnekaan ini terjadi karena Indonesia adalah wilayah yang terdiri dari daratan dan lautan (kepulauan). Kedua, Bhinneka dalam ras. Bangsa ini memiliki banyak sekali ras yang menjadi identitas kekayaan bangsa yang besar dengan semangat persatuan.

Ketiga, Bhinneka dalam suku bangsa. Indonesia memiliki suku bangsa yang dapat dipersatukan dalam satu bangsa besar, yaitu bangsa Indonesia. Keempat, Bhinneka dalam agama. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki keragaman dalam beragama, namun bangsa Indonesia dapat hidup dalam perbedaan agama dengan cara toleransi, semangat cinta tanah air, dan persatuan bangsa.

Kelima, Bhinneka dalam budaya. Bangsa Indonesia sangat kaya dalam budaya yang menjadi salah satu identitas bangsa yang besar dalam berbagai keragaman. Kebhinnekaan ini kemudian menjadi Tunggal Ika, karena adanya semangat tinggi dari masyarakat Indonesia dalam membangun bangsa secara bersama-sama.

Kesadaran Konstruktif dalam Membangun Kebersamaan

Berbagai usaha harus dilakukan demi menjaga dan mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa. Salah satu yang bisa dilakukan adalah membangun kesadaran konstruktif dalam masyarakat. Kesadaran konstruktif merupakan kesadaran yang sangat bertolak belakang dengan kesadaran primordial.

Kesadaran konstruktif dapat mengolah kesadaran etnisitas hingga membentuk jaringan relasi pergaulan sosial, karena kesadaran ini akan mengarahkan etnisitas pada sesuatu yang dijadikan sumber kekayaan hakiki yang dimiliki manusia untuk saling mengenal dan memperkaya budaya. Dengan begitu, tercipta pola kesadaran bahwa persamaan adalah anugerah dan perbedaan adalah berkah. Sebagaimana Alquran (Surat Al-Hujurat ayat 13) telah menginformasikan bahwa manusia diciptakan dengan berbangsa-bangsa (syu’uba) dan bersuku-suku (qaba’ila) agar mereka saling mengenal satu sama lain.

Menurut hemat penulis, bangsa Indonesia adalah bangsa yang telah diberi anugerah besar oleh Allah dengan tercapainya penyatuan bangsa-bangsa dan suku-suku menjadi bangsa besar yaitu bangsa Indonesia. Sebagaimana yang telah digambarkan dalam Surat Al-Hujurat di atas. Untuk itulah, bangsa ini wajib mensyukurinya dengan cara membangun dan merawat kebersamaan dalam bingkai persatuan dan kesatuan bangsa. Untuk menerjemahkan Surat Al-Hujurat di atas, para ulama telah ikut serta dalam menancapkan kesadaran dalam berbangsa. Salah satu di antaranya adalah ungkapan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari yang terkenal dengan hubbul wathan minal iman, cinta tanah air merupakan sebagian dari iman.

Kedasadaran konstruktif dapat dibentuk melalui beberapa langkah; pertama, adanya rasa senasib dan seperjuangan yang diakibatkan oleh faktor sejarah. Kedua, adanya ideologi nasional yang tercermin dalam simbol negara, yaitu Garuda Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Ketiga, adanya tekad serta keinginan untuk bersatu dalam bingkai berbangsa yaitu bangsa Indonesia, sebagaimana telah dinyatakan dalam Sumpah Pemuda.

Keempat, selalu waspada akan adanya ancaman ideologi dari luar (dengan mengatasnamakan apa pun, termasuk mengatasnamakan khilafah) yang akan menyebabkan runtuhnya semangat nasionalisme dari jiwa rakyat. Kelima, bangga dengan menggunakan bahasa Indonesia (sebagai bahasa persatuan), dengan tanpa meninggalkan bahasa daerah yang merupakan bagian dari kekayaan budaya bangsa.

Kesadaran konstruktif dapat juga terhambat dengan adanya hal yang menghambat terjadinya integrasi nasional. Di antaranya; Pertama, kurangnya penghargaan terhadap keberagaman atau kemajemukan yang bersifat heterogen. Kedua, kurangnya toleransi antargolongan, kelompok, dan agama.

Ketiga, kurangnya kesadaran dari masyarakat Indonesia akan ancaman ideologi dan gangguan dari luar. Keempat, adanya ketidakpuasan terhadap ketimpangan dan ketidakmerataan dari hasil-hasil kinerja pemerintah.

Untuk itu, membangun kebersamaan adalah sesuatu yang wajib dilakukan demi tujuan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, dan untuk mewujudkan masyarakat sejahtera dengan cita-cita bersama yaitu Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur dengan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan kita bersama. Wallahu a’lam. 

 

*)Wakil Ketua II STIU Al-Mujtama’ Pamekasan.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia